Falsafah Pendidikan Kami - KBQTDiary #56

@ziatuwel


Paham yang kami anut dalam proses pendidikan adalah menumbuhkan. Seperti petani. Ia menyiapkan lahan yang baik, menebar benih, menyiangi rerumputan yang tak perlu, menambahkan pupuk yang dibutuhkan, dan mendampingi si benih tumbuh. 


KESADARAN


Setiap anak belajar berdasarkan kesadaran. Ia sadar siapa dirinya. Ia sadar apa maunya. Ia sadar apa bisanya. Ia sadar bagaimana posisinya. Ia sadar potensinya. Ia sadar keterbatasannya.


Setiap peraturan berbasis kesepakatan di antara anak-anak, pendamping, dan pengelola lembaga. Bukan aturan sepihak atau wahyu langit yang tak bisa digugat. Hukuman pun sesuai persetujuan, sebagai konsekuensi dan pembelajaran.


KEMERDEKAAN


Kesadaran melahirkan kemerdekaan sejak dalam pikiran. Sadar atas kemerdekaan diri, sekaligus sadar atas kemerdekaan orang lain. Sadar atas kebebasan diri sendiri. Sadar atas aturan bersama.


Setiap anak merdeka memilih apa yang ia pelajari dan kuasai. Merdeka menentukan karya apa yang akan dibuat. Merdeka yang sadar. Bebas yang berbatas.


KEMANDIRIAN


Pilihan yang sudah dibuat musti dituntaskan. Secara mandiri dan bertanggung jawab. Setiap anak menentukan tujuan, menetapkan rute, dan menempuh perjalanan.


Setiap kegiatan bersama pun musti swadaya, seadanya. Sebisa mungkin tidak meminta-minta. Segala pagelaran sesuai kebutuhan saja, tidak mengada-ada.


KENYATAAN


Bahan belajar adalah alam nyata. Segala peristiwa di sekitar menjadi bahan diskusi di kelas. Lingkungan desa dan kota jadi fasilitasnya.


Setiap anak belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, pegang, rasakan, dan alami di kehidupan nyata. Buku-buku dan piranti lain sekadar penunjang saja. Sebab sumber belajar utama mereka adalah realita.


KETERBUKAAN


Setiap anak punya kecenderungan yang berbeda. Maka secara naluriah mereka pun bersikap terbuka terhadap perbedaan. Mengunjungi dan dikunjungi sudah jadi santapan.


Dialog jadi metode belajar utama. Musyawarah besar agenda belajar untuk satu semester jadi keharusan. Diskusi tematik di kelas kecil jadi santapan harian.


Tak jarang mereka berkegiatan lintas budaya dan kepercayaan. Terutama kegiatan-kegiatan dalam rangka memulasara bumi dan kemanusiaan. Bukan kegiatan-kegiatan ritualistik yang hanya akan memancing keributan.


KETELADANAN


Setiap anak berhak mendapatkan teladan yang baik. Tentang bagaimana menaati kesepakatan bersama. Tentang bagaimana kesetiaan menuntaskan target. Tentang bagaimana sikap bermasyarakat. Maka orang tua dan pendamping bertanggung jawab menjadi teladan yang baik, meski tak sempurna.


KEBERMANFAATAN


Setiap proses yang dijalani menjadi mapelnya. Setiap orang yang mendampingi menjadi gurunya. Setiap kecakapan yang dikuasai menjadi buku raportnya. Setiap karya yang dibuat menjadi ijazahnya.


Kepuasan menjadi hasilnya. Apresiasi menjadi harganya. Dan kebermanfaatan menjadi tolok ukurnya. Baik manfaat untuk dirinya sendiri, apalagi untuk lingkungan sekitarnya.


Bukankah hidup di alam nyata juga demikian adanya?


Falsafah pendidikan manusiawi ini bukan ide yang mengawang-awang di langit. Tapi sudah membumi dan jadi praktik belajar sehari-hari selama tujuh belas tahun di sini, di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah.



Ingin lebih dalam memahami praktik dan teknisnya? Silakan datang kalau corona sudah hilang. Atau baca dulu di buku PENDIDIKAN YANG MEMERDEKAKAN ALA KBQT, bisa pesan di nomor ini (klik) wa.me/6285713379268

No comments:

Powered by Blogger.