Nafsumeter

@ziatuwel


Entah kenapa beberapa hari ini aku kerap ngimpi ngaji. Mimpi kali ini cukup jelas dan inspiratif, tepatnya di malam Jumat, 16 Muharram 1442 semalam.


Seakan-akan aku berada di rumah kakek di Plompong. Aku berdiri di antara para keluarga yang sedang berkumpul. Saat itu aku didaulat menyampaikan ceramah singkat.


Di dalam mimpi aku menceramahkan tema yang belum pernah terpikir sebelumnya di alam sadar. Juga sangat jelas setiap katanya, sehingga bisa kutulis di artikel ini. Yakni:


Hadirin hadirat. Alat untuk mengukur suhu badan disebut termometer. Alat untuk mengukur kecepatan disebut speedometer. Begitu pula nafsu, ada alat ukurnya, yaitu nafsumeter.


Lalu apa itu nafsumeter? Yakni ayat Quran


فأما من اعطى واتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى، واما من بخل واستغنى وكذب بالحسنى فسنيسره للعسرى


Orang yang gemar memberi, berarti nafsunya bagus. Orang yang bakhil, enggan berbagi, berarti nafsunya jelek. Mari mengukur nafsu diri kita masing-masing.





Bangun tidur langsung kuangan-angan kembali mimpi gamblang itu. Istilah 'nafsumeter' betul-betul terngiang jelas. Kuendap-endapkan betul nasehat itu buatku sendiri. Kubuka-buka kitab tafsir tentang ayat-ayat itu. Lalu kucoba narasikan dalam catatan ini.


Segala hal ada ukurannya. Alat ukur menjadi penting sebagai sarana mengontrol kondisi. Sehingga bisa dilakukan tindakan lanjut, agar tak keterlaluan, tak berlebihan.


Dengan membaca termometer, kita bisa memeriksa suhu badan. Jika memang suhu badan terlalu tinggi, bisa jadi ia menunjukkan kondisi tubuh yang bermasalah. Lalu kita tahu apa yang musti diperbuat.


Begitu pula speedometer. Jika kecepatan terlampau tinggi, resiko celaka pun meningkat. Maka saat itu kita tahu apa yang perlu dilakukan, minimal meningkatkan kewaspadaan.


Demikian halnya alat-alat ukur yang lain. Dengan tensimeter kita bisa tahu kadar tekanan darah. Jika terlalu tinggi, bisa kita upayakan dengan langkah-langkah medis yang pas. Kalau dibiarkan, apalagi ditambah asupan-asupan pemicu tensi, jelas beresiko maut. Minimal stroke atau serangan jantung.


Apabila hal-hal fisik saja kita butuh alat ukur, maka nafsu kita pun jauh lebih perlu alat ukur yang pas. Alat ukurnya -sebagaimana tersurat dalam mimpiku- adalah petikan ayat dari surat Al-Lail.


فأما من اعطى واتقى وصدق بالحسنى فسنيسره لليسرى


Adapun orang yang mau memberi, bertakwa, dan membenarkan baiknya ganjaran, maka kami mudahkan ia pada kemudahan (menuju surga).


واما من بخل واستغنى وكذب بالحسنى فسنيسره للعسرى


Dan adapun orang yang kikir, jumawa, dan mendustakan baiknya ganjaran, maka Kami mudahkan ia pada kesulitan (menuju surga).


Inilah alat ukur nafsu itu. Pertanda pertama nafsu kita baik adalah gemar berbagi atas karunia yang diberikan Allah pada kita. Entah kita orang kaya atau papa. Jika sebaliknya, enggan bersedekah, kikir atas harta yang dipunya, maka jelas nafsu kita jelek.


Pertanda kedua baiknya nafsu adalah kecenderungan untuk melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Merasa fakir dan selalu butuh kepada Allah. Jika sebaliknya, merasa mampu, jumawa, tak pedulikan aturan dan perintah Allah, berarti nafsu kita jelek.


Pertanda ketiga, nafsu kita baik jika sungguh-sungguh meyakini balasan di akhirat. Sehingga tidak terlalu sedih dan galau atas kepayahan di dunia, serta tidak terlalu riang atas keuntungan duniawi. Jika nafsu kita jelek, maka kita akan abai terhadap ganjaran akhirat, bahkan menyepelekannya. Sehingga apapun mau diperbuat demi kesenangan duniawi semata.


Terakhir, kututup dengan dhawuh almarhum Syaikh Mutawalli as-Sya'rawi. Beliau punya teori bagaimana mengukur nafsu kita, apakah termasuk ahlul akhirah (hamba yang memburu akhirat) ataukah ahlud dunya (hamba yang memburu dunia). Beliau mengatakan;


"Kalau ada orang datang kepadamu, kemudian ia meminta hartamu dan kau merasa senang saat memberikannya, maka kau termasuk Ahlul Akhirah. Tapi kalau ada orang yang datang dan memberimu hartanya, dan kau lebih merasa senang daripada saat diminta, maka kau termasuk Ahlud Dunya."


Wallahu a'lam.


Tuwel, 16 Muharram 1442 - 4 September 2020

No comments:

Powered by Blogger.