Belajar Sejarah Tanpa Mata Pelajaran - KBQTDiary #54

 @ziatuwel


Medio 2018, anak-anak KBQT berkeliling situs-situs sejarah di pusat kota Salatiga. Sambil jalan-jalan, anak-anak usia SMP-SMA ini belajar tentang sejarah kotanya bersama pemuda pegiat sejarah, Abel Jatayu.


Seusai jalan-jalan, mereka melingkar untuk diskusi dan refleksi. Kemudian membuat catatan tentang apa yang sudah mereka dapatkan. Namun hal terpenting bukanlah catatan itu, melainkan pengetahuan dan kesadaran sejarah yang membekas dalam diri mereka.



Pernah juga anak-anak KBQT berkunjung ke mata air Senjoyo, situs ekologi vital di Salatiga yang belakangan jadi obyek wisata. Mereka jalan-jalan, main, dan tentu saja belajar tentang aspek historis, ekologis, dan sosiologis tempat itu.


Mereka memetakan lokasi, mewawancarai sesepuh, pedagang, dan pengunjung di sana. Setelah sebelumnya juga membaca artikel-artikel publik tentang Senjoyo. Hasilnya mereka buat video dokumenter sederhana. Sekali lagi, bukan dokumentasi itu yang paling penting, melainkan pengetahuan dan kesadaran sejarah yang mereka dapatkan.


Pernah pula mereka memburu kelurahan Kalibening. Mewawancarai lurah dan pegawai di sana, serta membaca arsip-arsip yang ada. Juga menggali cerita dari sesepuh-sesepuh warga Kalibening, sekaligus menampung keluh kesah mereka tentang kampungnya.


Kegiatan-kegiatan itu mereka rancang sendiri. Eksekusi secara mandiri, lalu dipungkasi pendokumentasian hasil belajar berupa karya. Entah karya tulis, video, fotografi, atau yang lain.


Melalui penelusuran langsung ke situs sejarah, dilengkapi observasi dan dokumentasi, anak-anak KBQT bisa belajar sejarah dengan efektif. Mereka memupuk kesadaran sejarah tentang lingkungan terdekatnya. Meskipun tidak ada mata pelajaran sejarah.


Ya, di KBQT memang tidak ada mata pelajaran sejarah. Bahkan tidak ada mata pelajaran apapun. Tapi bukan berarti mereka tidak belajar sejarah. Mereka menikmati sejarah bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai pengalaman.


Selain studi kunjung, anak-anak juga berdiskusi tentang sejarah secara umum di kelas masing-masing. Lagi-lagi bukan sebagai mata pelajaran, melainkan sebagai obrolan ringan. Tentu saja mereka membawa bahan literasinya masing-masing sebagai bahan obrolan.


Misal, di bulan Agustus mereka belajar tentang sejarah perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Di momen Hari Kartini, mereka belajar tentang para wanita pejuang. Di momen Sumpah Pemuda, mereka belajar tentang sejarah perjuangan hingga masa pasca kemerdekaan. Ada puluhan hari penting dalam kalender nasional yang bisa jadi agenda belajar sejarah, tanpa harus ada mata pelajaran sejarah.


Metode belajarnya pun rupa-rupa. Sekali waktu bisa studi kunjung ke situs sejarah. Atau bisa juga berupa seminar dan diskusi. Bedah buku, maupun nonton film biopik bisa jadi opsi lain. Terserah, yang penting enjoy dan membekas.


Tulisan ini bukan bertujuan mendukung atau menolak isu penghapusan mata pelajaran sejarah. Bukan pula ajakan untuk meniru gaya belajar ala KBQT yang mungkin bisa disebut 'radikal'.


Sekedar pemantik saja agar kita merenungkan kembali tentang efektivitas mata pelajaran. Bukan hanya terhadap pelajaran sejarah, tetapi juga terhadap pelajaran-pelajaran lainnya. Sudahkah melibatkan anak sebagai pelaku utama dalam proses belajar? Sudahkah efektif pembelajaran yang dilakukan?


Bagaimana agar anak-anaklah yang menjadi subyek aktif dan terlibat aktif dengan minat belajarnya. Bukan sebagai obyek pasif dengan tumpukan beban belajar. Bagaimana agar proses belajar tidak sekedar formalitas mingguan, tidak sekedar mengejar target materi. Agar proses belajar bisa kontekstual dan berkesan.


__

Tuwel, 23 September 2020

No comments:

Powered by Blogger.