Mumpung Kober Dolanan

07:16
@ziatuwel

Hari ini, Ahad 12 Juli 2020, kumulai kegiatan bermain tematik bersama anak-anak di lingkunganku. Tahun-tahun ini wilayah dukuh Krajan desa Tuwel sedang ramai-ramainya anak-anak kecil. Rata-rata usia sekolah dasar.

Mereka anak-anak yang aktif, ceria, dan sibuk. Ya, sibuk. Pagi sampai siang mereka sekolah, sorenya madrasah, lalu malam ngaji, ditambah lagi belajar atau menghapal untuk besoknya. Betul-betul sibuk.

Meski demikian, anak-anak tetaplah anak-anak. Bermain jadi fitrah kekanakan yang tak bisa diganggu gugat. Meskipun jadwal harian sudah begitu padat, halaman tanah sudah punah, pohon-pohon besar untuk penekan sudah ditebang, kabel-kabel sudah terlalu ruwet buat layangan, dan kali-kali sudah mendangkal.

Mereka tetap bermain. Dan harus tetap bermain. Entah di sela padatnya jadwal, atau memanfaatkan keluangan akhir pekan. Entah di teras rumah, atau di halaman semen yang sudah tak empuk lagi buat jejatuhan. Pokoknya main, dolanan.


Pagi itu kuajak mereka bermain di halaman langgar Baitul Atiq. Mereka kuminta membawa kardus dan gunting. Kusediakan spidol dan tembak. Tiap anak bebas berimajinasi dan berkreasi untuk membuat apapun.

Peranku hampir tak begitu vital, sekedar menemani saja. Kalau ada yang kesulitan menggunting, ya kubantu. Kalau ada yang minta lem, ya kuoleskan. Kalau ada yang nampak kebingungan, ya kutanyai. Itu saja.

Sebab, hal yang dibutuhkan anak-anak adalah sosok pendamping. Yang mau menemani mereka bermain sambil belajar, memantik inspirasi mereka, hingga mengapresiasi karyanya. Dengan betul-betul hadir di sana bersama mereka, secara alamiah, bukan sebab tuntutan profesi.

Hal ini yang kadang dilupakan orang dewasa. Kita sebagai orang tua berupaya memberi mereka uang, mainan, dan jajan, tapi sayangnya tak lagi sempat bermain dan bergembira dengan mereka. Para guru pun sudah tak sempat jadi teman bermain di sekolah. Karena ternyata mereka tidak merdeka, dibelenggu tuntutan pembelajaran yang melelahkan dan memenatkan.




Untuk menjadi teman bermain secara alamiah saja kita sudah kuwalahan, apalagi menjadi pewaris tradisi semacam kearifan dalam tetembangan dan permainan-permainan tradisional. Mana sempat. Inilah yang kusebut sebagai 'pemutus mata rantai kearifan', pernah kutulis di catatan 'Missing Link'.

Kenyataan ini tentu musti kita maklumi. Sebab banyak orang tua yang tak sempat bermain bersama anak-anak di lingkungannya sebab memang sibuk bekerja. Begitupun guru, mungkin sudah lelah dengan tanggungan tugas-tugas sekolah.

Sayangnya problemnya tak sebatas itu. Ada masalah mendasar yang diidap sebagian kalangan masyarakat. Berupa anggapan bahwa pendidikan anak sekedar proses belajar mengajar di sekolah. Bahwa sumber belajar itu buku dan guru. Bahwa obyek belajar hanya mata pelajaran. Bahwa fasilitas belajar itu sebatas meja kursi pulpen dan papan tulis. Bahwa bermain itu 'tokoh antagonis' bagi belajar. Bahwa ketidakseragaman dan kebebasan itu liar. Dan seterusnya.

Kesadaran semacam ini menetaskan keresahan kecil bagiku. Sebagai ayah beranak satu yang masih memiliki keluangan waktu dan energi, ada dorongan moral untuk menjadi bagian kecil dari solusi riil. Panggilan jiwa untuk membersamai bermain anak-anak di lingkunganku. Sebagai kegiatan alami sehari-hari, bukan sebagai tuntutan profesi.

Kegiatan bermain sambil berkreasi seminggu sekali ini mungkin bisa jadi bentuk awalnya. Ke depannya entah bagaimana, sesuai kebutuhan saja. Selama berkegiatan membuat mainan dari kardus, terasa betul antusiasme anak-anak, bahkan bagi anak yang tak ikut membuat sekalipun.

Kami mulai kegiatan ini jam sembilan pagi, dipungkasi kumandang adzan zhuhur. Ada yang langsung cekatan merancang rumah-rumahan. Ada yang bengong tak dapat gagasan. Ada yang ngomong terus. Ada yang perfeksionis, ada yang sekadarnya.

Ada yang usul lanjut berkreasi esok hari. Ada yang usul main di kali. Ada yang usul ke lapangan. Ide mereka adalah bahan belajar di pekan-pekan selanjutnya. Aku juga menyiapkan beberapa tema semisal menanam empon-empon dan daur ulang sampah dapur.

Apapun kegiatan belajarnya, yang penting dikemas dengan kegembiraan. Bermain sebagaimana biasa, bergembira sewajarnya. Mereka sudah terlalu sibuk dan penat dengan belajar di ruang kelas mereka, di sekolah dan madrasah mereka. Biar di akhir pekan ini kubersamai mereka bermain dan bergembira. Biar menjadi kesan dan endapan kebaikan saat mereka beranjak dewasa.

Tuwel, 12 Juli 2020

No comments:

Powered by Blogger.