Muatan Lokal Mengenal Desa (Tuwel)

21:43
@ziatuwel

Beberapa waktu lalu, bersama anak-anak Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (usia SMP-SMA), kami mendesain 'kegiatan belajar lapangan' dengan memanfaatkan demografi kota Salatiga. Mulai dari riset tata kota di pasar dan alun-alun, hingga riset ekologi dan budaya di mata air Senjoyo. Hasilnya dimuat di web dan medsos komunitas, sebagai pengganti mading sekolah.

Intinya adalah aktivasi daya belajar anak sesuai realita yang dihadapi. Sesuai dengan kondisi dan potensi yang dimiliki. Metode belajarnya adalah pengamatan, pencatatan, pengalaman, dan diskusi ringan. Tentu saja dibalut kegembiraan. Tujuannya bukan semata mendapat informasi atau wawasan, tapi lebih untuk mengasah kepekaan daya baca dan daya kritis anak terhadap realita (qira'ah kauniyah).

Nah, desain belajar kontekstual semacam ini bisa dipraktikkan dimanapun. Termasuk di desaku, Tuwel. Betapa kayanya desa ini dengan sumber belajar riil yang bisa dimanfaatkan oleh sekolah-sekolah. Anak-anak sekolah itu bisa diajak gurunya belajar di lingkungan desanya sendiri, minimal sebulan sekali.

Ada beberapa pedukuhan di sini. Mulai dari Kemaron sampai Kopigandu, dengan keragaman geografi dan demografinya. Sebagai pendamping belajar amatir, di kepalaku bermunculan berbagai aktivitas belajar mengasyikkan yang konstekstual.

Kita mulai dari Kemaron yang paling atas di ujung timur, sampai Kopigandu di ujung barat.


Di KEMARON ada jalur wisata menuju Guci. Ada beberapa titik ceruk wisatawan, semisal resto, hotel, kafe, taman bunga, serta pemandian. Anak-anak bisa belajar tentang hulu-hilir pariwisata, ngobrol bersama para pengelola, sambil tentu saja; berwisata!

Di TENGGALAR terbentang pesawahan yang ciamik. Ada jalan setapak yang menghubungkan sawah di Jalan Raya Guci sampai pedukuhan ini, dimanjakan pemandangan puncak Slamet dan Ciremai. Anak-anak bisa menyusuri aliran irigasi historis desa, yang konon dibangun oleh Mbah Rindik atas titah Ki Gede Sebayu di masa lampau.

Di DUKUTERE ada kelompok ibu-ibu pengelola bank sampah. Anak-anak bisa ikut terlibat dalam proses pengepulan, pemilahan, atau bahkan pengolahan sampah. Lalu mendiskusikan problem sampah di rumah mereka masing-masing. Tentu saja bisa sambil membuat kriya berbahan sampah untuk dibawa pulang.

Di KESERAN berjajar barisan pertokoan dan pedagang kaki lima. Mulai dari warung-warung makan, bakul sayur mayur, sampai pedagang sempolan, pukis, dan tahu plethok. Di sini anak-anak bisa mewawancarai para pedagang, belajar hitung-hitungan laba rugi, tentunya sambil icip-icip wisata kuliner.

Di DUKUSAMPING ada pasar desa. Anak-anak bisa berkeliling seantero pasar. Melakukan riset sederhana tentang komoditi pasar, transaksi jual beli, lebih bagus lagi kalau ikut berproduksi dan berjualan. Kemudian ditutup dengan nge-es dawet bersama sambil ngobrolin hasil risetnya.

Di BABAKAN ada kebun jeruk yang dikelola pesantren. Ada pula peernakan kelinci, kebun stroberi, dan pemancingan. Anak-anak bisa belajar tentang budidaya potensial di situ. Tentu saja dengan praktik langsung, musti ada kesepahaman dengan pengelolanya agar tak membebani dan merepotkan.

Di KRAJAN ada madrasah, masjid, dan kuburan. Mereka bisa menggali informasi tentang alokasi dana infak masjid, pengelolaan lahan wakaf produktif, atau bisa juga menelusuri jejak-jejak Watu Tuwel yang menjadi asal-usul desa ini.

Di PLAYANGAN ada pangkalan angkot dan ojek, pas di pertigaan tugu bawang. Warga lebih akrab menyebut pertigaan ini dengan 'ringin' karena dulu ada pohon beringin besar di situ. Mereka bisa belajar tentang jenis-jenis alat transportasi umum, trayek angkutan, hingga perkiraan arus keluar masuk kendaraan yang melewati desa. Ada juga klinik, anak-anak bisa belajar tentang kesehatan dan kebugaran tubuh.

Di GERTAJI ada bukit tambang tras, yakni batuan lunak -mirip pasir- yang terbentuk dari abu gunung api. Anak-anak bisa belajar mengenal jenis-jenis batuan dan lapisan tanah. Peruntukannya dalam konstruksi bangunan, serta dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan.

Di DUKUMIRI ada kantor pemerintahan desa. Anak-anak bisa menggali banyak hal di situ. Tidak hanya mewawancarai para pejabat desa untuk menggali informasi, tapi juga menyampaikan keluhan warga yang mereka dengar selama riset sebelumnya. Pembelajaran audiensi dengan pemerintah. Keren 'kan?

Di KALIBUNTU ada Kali Gung dengan tebing legendarisnya; Kisam. Kegiatan di sini bisa masuk kategori outbond. Musti ada persiapan dan pendampingan yang matang. Anak-anak bisa mempelajari keanekaragaman hayati yang masih lestari di sana. Kemudian berkemah di lokasi yang aman dan menggelar pentas seni!

Di KOPIGANDU ada curug Luhur dan sentra produksi pupuk kelompok tani. Anak-anak bisa belajar tentang produksi kompos hingga pemuliaan tanah. Di sana juga ada bekas pembangkit listrik tenaga air. Sayang sekali PLTA itu sudah tak aktif. Kalau saja masih berfungsi, meskipun tidak menjadi pemasok listrik utama, masih bisa jadi situs pembelajaran tentang energi terbarukan.

Dari 12 pedukuhan itu bisa jadi 12 kegiatan belajar yang mengasyikkan. Jalan-jalan keluar sambil belajar. Mengenali desa dan kenyataan. Hanya dari desa sendiri, mereka sudah bisa belajar dasar-dasar ekologi, ekonomi, seni, sosiologi, matematika, bahasa, politik, kimia, agama, geologi, agrikultur, tanpa harus berupa mata pelajaran!

Kalau program belajar ini dibuat sebulan sekali, berarti bisa jadi program riset tematik selama setahun. Kalau masih harus terikat mata pelajaran, ya gampang, atur saja biar jadi muatan lokal 'Mengenal Desa'.

Apakah hanya berlaku di desa dengan luas bentangan seperti Tuwel? Tentu tidak. Desain belajar ini bisa dipakai dimanapun, urban atau pedesaan, pantai atau gunung, padat atau longgar.

Apakah bisa juga dipraktikkan di pesantren? Bisa banget. Bahkan seharusnya. Biar anak-anak santri mengenal lingkungan ia bermukim, tidak sekedar numpang tinggal lalu boyongan.

Desain belajar semacam ini mengukuhkan jargon belajar 'Desaku Sekolahku'. Di mana sekujur tubuh desa, dari barat ke timur, utara ke selatan, adalah fasilitas belajar mewah tiada bandingnya.

Bagaimana? Ada sekolahan di Tuwel yang mau mempraktikkan? Biar kudampingi prosesnya.

Tuwel, 11 Juli 2020

No comments:

Powered by Blogger.