Memulai

05:35
@ziatuwel

Kemarin sore Budi datang, mandor JagadLab yang masih setia dengan jalan sunyinya; tanpa medsos, bahkan tanpa smartphone. Setengah jam kemudian disusul beberapa teman; Pri, Ari, dan Dafi, yang sedang merancang pendirian sekolah alam di lereng Gunung Slamet ini. Kamipun ngobrol;

- Masa pandemi ini jadi momen penyadaran bagi kita; mana hal-hal yang menjadi kebutuhan pokok dalam hidup dan seberapa kadarnya, serta mana yang sekedar hiburan dan pemuasan.

- Salah satu proses menjadi manusia dewasa adalah memahami batas dalam kehidupannya. Entah batas fisik, batas waktu, juga batas bergaul.

- Setelah menjadi orang tua, kita betul-betul paham bagaimana rasanya 'kedonyan' dengan hadirnya anak. Serta kita mulai memahami bagaimana menghilangkan diri kita sendiri. Yang ada hanya anak.

- Ada satu lubang yang masih belum bisa dilengkapi oleh kurikulum formal, baik di kampus maupun pesantren, yakni penguasaan real-skills.

- Real-skills mencakup kecakapan dasar hidup sehari-hari yang berkaitan dengan sandang-pangan-papan, maupun special-skills yang sesuai potensi khas masing-masing orang.

- Real-skills biasanya terbentuk dari pengalaman hidup, entah didorong oleh kemauan belajar ataupun himpitan kebutuhan. Yang sebenarnya sangat bisa diadopsi ke dalam kurikulum belajar secara formal maupum nonformal.

- Ilmu mengenali diri mutlak harus dipelajari dan jadi bagian dari kurikulum belajar. Salah satunya, bagi pemuda di usia quarter life adalah ilmu tentang bagaimana 'menghitung nilai masalah', kemudian bagaimana memecahkannya.

- Perbedaan mendasar antara lembaga pendidikan arus utama dan alternatif adalah bagaimana memosisikan siswa. Apakah sebagai obyek, wadah kosong yang diisi pengetahuan dan dicetak menjadi suatu produk yang seragam; ataukah sebagai subyek, pelaku belajar yang menggali pengetahuan dan menumbuhkan potensi khas dalam dirinya masing-masing secara mandiri.

- Budaya belajar saat ini membuat anak telat mengenali potensi dirinya, dan telat mengembangkan nalar kritisnya. Ini perlu dimaklumi karena memang demikianlah skema global era industri.

- Kalau bisa mengupayakan solusi dari dalam, ya silakan masuk sistem. Kalau tidak, dan ingin lebih merdeka, mari upayakan solusi dari lingkungan terdekat dan langkah ternyata. Serta perkuat dengan jejaring sosial bermotif kemanusiaan, bukan bermotif ekonomi.

- Sebelum membangun raga berupa lembaga, sanggar, komunitas, atau sekolah, bangun dulu jiwanya. Yakni kegiatan-kegiatan belajar kreatif. Sebab kegiatan belajar kreatif adalah jiwanya, komunitas sekedar wadah saja. Sebagaimana di lingkungan santri; ngaji adalah jiwanya, sedangkan pesantren sekedar wadah saja. Pesantren tanpa ngaji adalah mayat. Komunitas tanpa kegiatan belajar adalah bangkai.

- Dalam konteks kejawaan, bangunan pertama yang perlu didirikan jika hendak memulai ruang berkegiatan apapun adalah joglo atau pendopo.

- Keresahan-keresahan sosial memang perlu disalurkan. Tidak harus besar dan gegap gempita. Bahkan yang paling utama adalah lingkaran terdekat kita. Sebab jika gagasan-gagasan itu tak mulai direalisasikan, hanya bikin mules pikiran. Atau bahkan lebih parah, jadi penyakit; dengki tanpa solusi.


Tuwel, 16 Juli 2020. Foto: diskusi santai di parkiran Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013.

No comments:

Powered by Blogger.