Loker Santri

@ziatuwel

Sebelum ramainya hidup minimalis ala Fumio Sasaki, aku sudah mengenal hal semacam itu saat di pondok dahulu. Lokerku di Krapyak dulu berwarna hijau, bertempel stiker Gus Dur dan Garuda Merah. Berupa kotak kayu kecil yang musti muat semua pakaian pribadi. Inilah gambaran loker tipikal pesantren-pesantren lawas.

Biasanya cuma berisi 2-3 potong kemeja, 2-3 potong kaos, 3-4 sarung, 1-2 celana panjang, 1 peci, dompet, dan beberapa dalaman. Sajadah, jaket, sorban, dan sejenisnya digantung saja di plenthengan. Kitab-kitab dijajar di rak khusus, rak bersama. Perlengkapan mandi juga ditaruh di luar kamar atau dekat jeding.

Setidaknya begitulah pemandangan yang pernah kulihat di beberapa pesantren salaf. Seperti Giren, Ploso, Lirboyo, dan Krapyak. Praktis, tak ada keberlimpahan yang bisa kau bawa di loker sekecil itu. Apalagi dalam satu kamar ada belasan orang yang musti berbagi ruang.

Belum lagi urusan makannya, mandinya, tidurnya, ngantrinya, kerja baktinya, jamaahnya, berantemnya, musyawarahnya, dan seterusnya. Bagaimanapun latar belakang si santri, dia musti bisa beradaptasi. Mau ayahnya juragan tembakau, pemilik armada bus, atau anggota dewan sekalipun, kalau sudah jadi santri ya mau tak mau musti belajar hidup proletar. Selayaknya rakyat jelata.

Belakangan kusadari betul bahwa mondok bukan sekedar mempelajari kitab-kitab keagamaan. Ada banyak hal selain itu yang lebih berkesan dalam kehidupan nyata. Tentang bagaimana hidup secara jelata. Tentang bagaimana merasa cukup. Tentang bagaimana menyadari batas. Tentang bagaimana tepo seliro dengan sesama.

Begitupun tentang berguru. Mondok bukan sekedar menyambung sanad keilmuan. Justru proses bergaul sehari-hari bersama guru yang menjadi 'orang tua jiwa' itulah bekal hidup sebenarnya. Sambung rasa.

Pengalaman semacam ini membentuk pandangan pribadiku. Jika kelak anak-anakku berminat mondok, akan kuantar ke pondok yang masih bergaya hidup proletar. Yang santrinya masih umbah-umbah, roan (kerja bakti) dan mayoran (masak dan santap bersama).

Bagi teman-teman yang pernah mondok mungkin sudah paham apa yang kubicarakan. Namun bagi teman-teman yang belum pernah mondok, dan kini mulai atau berencana akan memondokkan putra-putrinya, kurasa perlu tahu. Bahwa anak-anak itu akan mengalami proses pembelajaran yang sangat berbeda.

Mereka akan mulai mengakrabi batas-batas. Baik berupa batas lahiriah berupa aturan-aturan pondok dan agenda-agenda mengaji. Maupun batas batiniah berupa kekangan kemauan, tepisan ego, praktik sawang-sinawang, maupun ritual-ritual peribadatan, sebagai latihan menahan hawa nafsu. Orang-orang menyebutnya: 'laku prihatin'.

Maka sebagai orang tua, kau tak perlu terlalu kuatir dengan segala keterbatasan bagi anak di sana. Justru itulah tempaan baginya, yang mungkin tak pernah ia dapatkan di rumah. Atau bahkan kau sendiri belum pernah mengalaminya.

Tuwel, 9 Juli 2020

No comments:

Powered by Blogger.