Revolusi Pendidikan Dimulai dari PKBM - KBQTDiary #50

@ziatuwel

Tempo hari Pak Din begitu bersemangat menunjukkan padaku satu dokumen penting. Yaitu draft instrumen akreditasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang baru dan tinggal disahkan. Dokumen ini adalah hasil perjuangan beliau dan kawan-kawannya di direktorat jenderal PAUD-Dikmas.


Dulu, instrumen akreditasi PKBM berjumlah 70-an poin, kini hanya 26 poin yang sangat padat, realistis, dan berpusat pada performa warga belajar. Tidak lagi berkutat pada fasilitas fisik maupun performa guru yang rawan manipulasi. Kunjungan asesor ke depan akan lebih banyak menilai pencapaian dan kreativitas warga belajar. Adapun tetek bengek formalitas berupa kelengkapan administratif diurus secara online, bukan lagi urusan asesor.

Ada dua kategori dalam instrumen ini. Yakni kategori kompetensi peserta didik atau lulusan, dan kategori komponen-komponen pendukung. Dalam kategori kompetensi peserta didik ada 9 poin isi. Yakni;

1. Melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya/bekerja/berwirausaha.

2. Memiliki peran lanjutan sebagai mata rantai sistem belajar masyarakat (menjadi pegiat
pendidikan, tutor, kader penggerak, fasilitator, narasumber).

3. Mampu mempromosikan hasil karya.

4. Memiliki kemampuan literasi fungsional (baca tulis, numerasi, sains, digital, finansial).

5. Memiliki kemampuan literasi fungsional budaya dan kewargaan.

6. Memiliki kecakapan hidup sesuai dengan potensi lingkungan.

7. Memiliki karya sesuai minatnya.

8. Memiliki kemampuan kolaborasi (contoh: hasil karya dikerjakan bersama oleh peserta
didik).

9. Memiliki kemampuan komunikasi (contoh: presentasi projek kerja)

Sedangkan untuk kategori komponen lain, ada 4 subkategori. Yaitu;

A. Bermakna bagi masyarakat;

10. Peningkatan kepercayaan masyarakat (pertumbuhan jumlah warga belajar,
keberlanjutan, donasi, apresiasi, kunjungan berbagai pihak dan pusat rekreasi).

11. Menghasilkan produk/karya satuan PKBM yang bermanfaat bagi masyarakat (terdapat
produk hasil karya).

12. Memiliki prestasi/penghargaan institusi (bukti prestasi/penghargaan).

13. Menjadi sumber informasi berbagai jenis program keterampilan fungsional.

14. Menjadi mentor atau pendamping masyarakat dalam mendapatkan
pengetahuan/keterampilan/menyelesaikan permasalahan masyarakat sekitar.

B. Responsif Menangkap Kebutuhan Masyarakat;

15. Layanan pendidikan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (kegiatan yang beragam
sesuai kebutuhan)

16. Pemanfaatan lingkungan sebagai laboratorium pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.

17. Memberi kesempatan peserta didik mengembangkan kreativitas (menyediakan ragam kegiatan sesuai dengan bakat dan minat)

18. Memiliki budaya perencanaan dan pengembangan berkelanjutan (introspeksi, refleksi dan proyeksi)

C. Inovatif, Pelopor dan Rujukan;

19. Pembelajaran bersifat fasilitatif dan fleksibel sesuai dengan kondsi peserta didik (Metode, waktu, tempat, usia, sumber belajar).

20. Program unggulan berbasis potensi dan budaya lokal (disesuaikan dengan konteks
setempat)

21. Layanan belajar yang inovatif (ada konsep nilai tambah dari sumber daya lokal)

22. Menjadi percontohan pembelajaran yang sesuai dengan potensi lokal (menjadi rujukan studi banding dan magang)

D. Kemitraan/Jejaring;

23. Melaksanakan kemitraan secara fungsional (praktik pembelajaran, pemanfaatan sumber daya, daya serap lulusan).

24. Melaksanakan kerjasama pemagangan dan pemanfaatan lulusan.

25. Dalam rangka pendidikan sepanjang hayat dan pendidikan untuk semua, satuan aktif menjadi anggota komunitas pembelajaran lokal, regional dan global

26. Adanya kemampuan usaha mandiri yang menggunakan jejaring IT dalam pemasarannya.

Setelah membaca semua poin instrumen akreditasi yang baru tersebut dari awal sampai akhir, aku dan Pak Din terbahak-bahak. Sebab membaca 26 poin itu bagi kami seakan-akan sedang membaca profil KBQT. Kalau ada orang bertanya apa keunggulan KBQT? Ya 26 poin itu jawabannya. Bukan mau menyombong, tapi memang faktanya begitu.

Poin-poin instrumen akreditasi ini jelas akan mengubah total paradigma lembaga dan pengelolanya. Sempat kutanyakan kepada Pak Din mengapa performa guru tidak diukur? Beliau menjawab bahwa pengukuran performa guru tidak bisa dilakukan hanya tiga jam sesi bersama asesor, harus berbulan-bulan.

Lebih efektif mengukur hasil pencapaian warga belajar, kata beliau. Sebab dengan mengukur hasil pencapaian berupa karya nyata dan kecakapan riil, kemampuan guru pun secara otomatis akan terukur. Tentu saja dalam pengukuran terhadap warga belajar pun menilai kreasi, keaktifan, dan inovasi yang dicapai, tidak lagi berkutat pada 'pengetahuan yang beku dan mati'.

Jadi bagaimana nih, PKBM yang notabene nonformal sudah memulai langkah revolusioner. Apakah ranah persekolahan formal juga akan melakukan gebrakan serupa? Kita lihat saja.

Salatiga, 5 Januari 2020

No comments:

Powered by Blogger.