Apakah Nabi Muhammad 'Rembes' Saat Masih Kecil?

@ziatuwel

Pertama kali mendengar istilah 'rembes' ketika mulai mukim di Salatiga. Huruf 'e'-nya dibaca seperti dalam kata 'tempe', bukan seperti kata 'merem'. Istilah ini tidak bermakna negatif sebenarnya, sekedar menggambarkan kondisi belepotan ala anak kecil dengan sisa makanannya, ingusnya, beleknya, dan segalanya. Kalau di kampungku, Tuwel-Tegal, mungkin sepadan dengan istilah 'remot' atau 'bolot'.

Anakku nampak rembes kalau habis disuapi atau ngemil sendiri. Apalagi kalau habis makan buah naga, rembesnya bukan main, kopres-kopres merah darah, mirip drakula seusai menyantap mangsa. Belum lagi kalau bangun tidur, bau ompol dan keringatnya semerbak kemana-mana. Segar sekali. Tapi ya maklum, namanya juga bayi. Dimanapun bayi ya begitu.

Eh, tapi apakah itu termasuk Kanjeng Nabi Muhammad? Apakah waktu kecil beliau juga rembes begitu?


Berdasarkan beberapa riwayat yang kubaca, ada hal istimewa pada diri nabi akhir zaman ini. Bahkan sejak masa kanak-kanaknya. Keistimewaan lahiriyah dan batiniyah yang melekat padanya sejak lahir. Bukan karena diangkat menjadi rasul, bukan pula sebab mendapat wahyu dari Tuhan.

Baginda Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Kemudian diasuh oleh ibu susunya, Halimah, di kampung Bani Sa'ad selama empat tahun, sebagaimana adat orang-orang Mekah saat itu. Halimah berkisah bahwa perkembangan bayi yang satu ini istimewa. Usia empat bulan sudah bisa duduk, kemudian merambat-rambat tembok. Usia lima bulan sudah bisa berdiri dan titah. Usia enam bulan sudah bisa berkata-kata. Ungkap Halimah, "Orang yang melihatnya di usia enam bulan pasti akan menyangka bahwa usianya sudah empat tahun."

Setelah empat tahun pengasuhan bersama ibu susunya, balita mulia tersebut dikembalikan kepada ibu kandungnya, Aminah. Namun tak lama, sebab dua tahun kemudian sang ibu wafat. Sejak saat itulah anak usia enam tahun ini jadi yatim-piatu.

Selanjutnya, Baginda Muhammad kecil diasuh oleh kakeknya, Abdul Mutthalib. Ia diasuh dengan penuh kasih sayang sebagaimana orang tua sendiri. Bahkan dikatakan bahwa Abdul Mutthalib lebih mendahulukan cucunya itu daripada anak-anak kandungnya. Pernah suatu kali Abdul Mutthalib menyuruh sang cucu untuk suatu keperluan. Namun anak kecil itu nyasar sehingga tak jua pulang. Abdul Mutthalib risau bukan main, sampai-sampai ia berthawaf mengitari Ka'bah sambil berdoa agar cucu kesayangannya itu bisa kembali.

Ketika akhirnya Baginda Muhammad diantar orang pulang, Abdul Mutthalib begitu gembira. Ia berkata kepada cucunya itu, "Nak, tidak pernah aku bersedih melebihi kesedihanku seharian ini. Mulai saat ini, aku tak akan pernah menyuruhmu lagi. Mulai saat ini engkau tak akan berpisah dariku walau sesaat!"

Pengasuhan Abdul Mutthalib terhadap Baginda Muhammad bukanlah pengasuhan biasa. Ada perhatian yang lebih dari sekedar penjagaan kakek kepada cucunya. Kukira kasih sayang sang kakek ini sangat membekas pada diri beliau, sehingga kelak membentuk diri beliau menjadi kakek yang juga sangat menyayangi cucu-cucunya, Hasan dan Husain.

Sepeninggal Abdul Mutthalib, sejak usia delapan tahun Baginda Muhammad diasuh oleh pamannya, Abu Thalib. Tak jauh beda dengan sang kakek, pamannya itu juga memperlakukan yatim piatu ini dengan istimewa. Saat berkumpul untuk makan bersama, Abu Thalib melarang anak-anaknya menyantap makanan sebelum keponakannya itu hadir.

Jika Baginda Muhammad makan bersama mereka, entah kenapa selalu ada sisa makanan meskipum mereka sudah kenyang. Tapi jika beliau sedang pergi dan terpaksa mereka makan tanpa kehadiran beliau, makanan selalu habis dan mereka tidak merasa kenyang. Sampai-sampai sang paman berkomentar, "Engkau memang terberkati."

Setiap anak-anaknya bangun tidur, mereka nampak kucel dengan mata berbelek dan rambut acak-acakan. Berbeda dengan Baginda Muhammad. Saat bangun tidur matanya bersih, bahkan nampak seperti bercelak, dan rambutnya rapi, juga wangi.

Agaknya Abu Thalib sudah menyadari ada hal yang istimewa dalam diri keponakannya itu sejak lama. Dahulu ayahnya, Abdul Mutthalib, pernah berpesan, "Kau sudah dengar apa kata para rahin ahli kitab tentang anak ini. Jagalah baik-baik keponakanmu ini." Maka iapun menjadi penjaga Baginda Muhammad, menghalau para pencaci dan pembencinya, hingga tutup usia.

Jadi, apakah Nabi rembes saat kecil? Ya mbuh, silakan simpulkan sendiri. Menurutku itu bukan pembicaraan yang penting. Ketika menyinggung masa kecil Nabi, yang paling penting diutarakan adalah kondisinya sebagai yatim piatu. Kondisi yang tentu saja tidak mudah untuk siapapun. Serta tentang kesantunannya dalam budi dan bahasa, kegigihannya dalam membantu pekerjaan pamannya, kemandiriannya sebagai anak muda, serta kekritisan dan abstainnya dalam penyembahan berhala-berhala. Sehingga ia tumbuh menjadi pengukir sejarah perjalanan umat manusia.

Kalibening, 212 - 2019

No comments:

Powered by Blogger.