'Tesis' Pascasarjanaku - KBQTDiary #45

@ziatuwel

Banyak kawan yang sempat bertanya; kenapa aku tak lanjut S2? Mereka bilang aku cukup potensial jika meniti karir di bidang akademik. Kenapa pula tidak ikut tes CPNS? Mereka bilang tes CPNS sangat mudah bagi orang yang pernah dua kali tembus seleksi ujian masuk STAN.

Untuk pertanyaan pertama, kujawab saja; lagi bosan dengan suasana kampus. Tujuh tahun aku berkutat di kampus gara-gara bolak-balik sakit. Empat tahun terakhir masa ngampus hanya diisi dengan formalitas masuk kelas untuk mengamankan absen, mengurus KRS, berburu tanda tangan, dan tetek bengek birokrasi yang membuatku 'trauma', bosan untuk kembali ke kampus.

Untuk pertanyaan kedua, untuk saat ini aku merasa belum kuat bekerja di lingkungan administratif yang ketat. Sebagai penyambung hidup, saat ini aku memilih jalan santai dengan memproduksi buku yang memang kesukaanku. Sambil mengisi waktu sebagai pendamping di Komunitas Belajar Qar6ah Thayyibah (KBQT).

Dua tahun lalu, saat pertama kali ikut menjadi pendamping belajar di KQBT, aku masih terbawa paradigma lama sebagai guru yang punya setelan bawah sadar bahwa; anak-anak harus begini, siswa-siswi musti begitu. Sebagai sarjana pendidikan yang mulai bergabung di 'lembaga pendidikan', tentu wajar jika kala itu aku punya semangat menggebu untuk mengajar.

Anggapan semacam ini masih menjadi kabut bagiku sampai setahun pertama mendampingi belajar anak-anak. Setahun pertama kuupayakan menyerap pengalaman para pendamping yang sudah belasan tahun mengabdi, juga memetakan konsep pendampingan belajar yang terlaksana di KBQT. Aku merasa sedang mengumpulkan puzzle yang terserak untuk menjadi satu gambar utuh, yakni gambar besar tentang pendampingan belajar.

Masuk ke tahun kedua aku mulai tersadarkan bahwa keberadaanku sebagai guru di KBQT bukanlah untuk mengajar anak-anak, melainkan mendampingi mereka belajar. Para pendamping memang merancang soft-curriculum, tapi pilihan tetap menjadi kemerdekaan anak. Ketika kami hendak mempelajari sesuatu di KBQT, cara penyampaiannya bukan dengan mengajari, menggurui, apalagi mendikte. Melainkan dengan diskusi, dialog, dan menganalisis realita. Sebagai pendamping belajar, aku lebih banyak menggulirkan pertanyaan daripada pernyataan.

Puluhan kali aku berdiskusi dengan Pak Din, ngobrol dengan para pendamping, diskusi dengan para tamu dari berbagai kalangan, dan yang terpenting; praktik langsung mendampingi belajar anak-anak. Proses ini membuatku bisa sedikit demi sedikit memetakan gambaran besar pendampingan.

Belakangan kusadari. Meski tidak melanjutkan kuliah ke jenjang S-2, aku menganggap kesempatan menjadi pendamping ini sebagai 'kuliah pascasarjana'. Adapun 'tesis'-nya nanti adalah semacam buku panduan pendampingan belajar. Isinya penuangan hasil riset selama dua tahun mendampingi di KBQT, berupa filosofi, konsep, prinsip, hingga sampel praktik pendampingan di lapangan.

Saat ini, aku masih menyelesaikan buku profil tentang KBQT sebagai proyek permulaan. Buku ini insyaallah akan kami terbitkan di tahun baru 2020 bersama momen pameran karya anak-anak. Pak Din malah merencanakan peluncuran buku ini bersama menteri pendidikan. Aku tak terlalu mengharapkannya, yang penting buku ini bisa terbit. Pasalnya, rencana penerbitan buku profil sudah pernah dirancang tapi tak pernah terrealisasikan, jauh sebelum aku datang ke KBQT.

Setelah proyek buku profil ini beres, aku baru bisa fokus menyusun 'tesis'-ku tentang pendampingan belajar yang saat ini baru berupa draft. Semoga karya yang diperas dari pengalaman ini bisa menjadi 'contekan' untuk mempraktikkan pendampingan belajar bagi siapapun; guru sekolah formal, fasilitator sanggar, maupun orang tua di rumah masing-masing.


Hari Guru - 25/11/2019

No comments:

Powered by Blogger.