Satu-satunya Ilmu yang Tak Bisa Dikuasai

@ziatuwel

"Ada satu ilmu yang tidak bisa saya kuasai," kata Mbah Mo dengan ekspresi datar. Salim menunggu kelanjutan ucapan gurunya itu.

Hampir satu dekade Salim ikut Mbah Mo, setelah sebelumnya dia kabur dari jabatan sebagai anggota DPRD. Posisi yang menjadi lahan basah dan rebutan orang itu ia tanggalkan, lalu memilih ngaji di bawah asuhan pertapa aneh lereng Gunung Lawu.


Setelah sekian lama berguru, baru kali itu ia mendengar pengakuan ketidakmampuan dari sang guru dengan terang-terangan. Wajar saja, selama ini ia menyaksikan hal-hal tak masuk akal menjadi peristiwa biasa-biasa saja di tangan gurunya. Ketika pertama kali datang dahulu, ia langsung disuruh beli racun tikus, kemudian menuangkannya di gelas, lalu diperintah meminumnya. Karena sudah bertekad kuat untuk berguru, ia pun menurut dan masih hidup hingga saat ini.

"Tapi 'kan ilmu Njenengan sudah banyak, Mbah," sahut Salim.

"Ilmu yang mana?"

"Ya ilmu-ilmu kesaktian itu, yang bikin pejabat-pejabat datang ke sini minta doa Njenengan itu,"

"Hahaha, itu semua sih cuma mainan anak kecil. Bahkan sejatinya tidak bisa disebut ilmu,"

"Tapi 'kan sakti, Mbah.."

"Lha buat apa? Bisa terbang buat apa? Bisa ngubah daun jadi duit buat apa? Bisa ngilang buat apa? Bisa tahu isi hati orang buat apa? Bisa ngomong dengan binatang buat apa? Apa bisa berguna di hadapan Munkar Nakir? Kalau ada cara yang bisa buat kamu lolos dari Munkar Nakir, itu baru namanya ilmu!"

Pernyataan ini bukan hal yang pertama kali didengar Salim. Bagi gurunya, segala kesaktian dan keanehan itu hanyalah 'ilmu receh', trik-trik yang bisa dipelajari oleh siapapun. Ada caranya, ada metodenya, ada tirakatnya. Pernah suatu kali seorang pemuda datang sowan, minta petunjuk tentang suatu lokasi di Jawa Timur.

"Mau apa kesana?" tanya Mbah Mo waktu itu.

"Saya dapat informasi, katanya di sana tersimpan pusaka peninggalan zaman Majapahit. Ada perhiasan, koin-koin kuno, mustaka, keris, dan banyak lagi. Tapi sudah saya muter-muter ke sana tetap tidak ketemu, saya tidak tahu posisi tepatnya di mana, Mbah," terang pemuda itu.

Tiba-tiba Mbah Mo mengambil sarung bututnya, lalu digelar di atas lantai. Kemudian menarik sarung itu dan ajaib, di atas lantai makbedunduk muncul semua barang yang disebutkan si pemuda tadi. Tentu saja mata tamu itu terbelalak.

"Ini sungguhan?!" tanya pemuda itu sambil tangannya meraba-raba semua pusaka yang harganya mungkin mencapai miliaran rupiah.

"Lha iya sungguhan. Daripada jauh-jauh ke timur sana, mending ini saja kamu bawa pulang!"

"Serius, Mbah?!"

"Ya serius. Tapi ada bayarannya."

"Apa itu, Mbah?"

"Kamu musti kuat melek dan kuat lapar."

"Berapa lama, Mbah?"

"Cukup satu malam saja. Besok pagi kalau kamu masih kuat melek dan lapar, silakan ini semua kamu bawa pulang."

Tentu saja pemuda itu kegirangan bukan main. Sudah terbayang di benaknya hidup mewah bergelimang harta. Apalagi syaratnya sangat enteng buatnya, hanya melek sehari semalam. Tapi apes, entah kenapa baru sejam dari obrolan itu matanya sudah sangat berat. Dua jam kemudian dia sudah mendengkur di ruang tamu.

Melihat hal itu Mbah Mo terkekeh-kekeh. Dia bilang bahwa ilmu-ilmu kebatinan itu syaratnya cuma dua; kuat melek dan kuat lapar. Salim pernah juga ditantang melek tiga hari tiga malam, agar bisa diajak mengintip dimensi gaib dan berkomunikasi dengan alam lelembut.

Tapi itu semua, menurut Mbah Mo, bukanlah ilmu sejati. Hanya mainan anak-anak kecil, katanya. Ilmu sejati adalah ilmu yang mengantarkan hati menuju keyakinan yang kokoh. Kalau sekedar untuk tahu ini tahu itu atau bisa ini bisa itu masih belum disebut ilmu sejati, baru ilmu-ilmuan. Termasuk ilmu agama dan tetek bengeknya.

Mbah Mo bahkan menyayangkan para ahli agama yang tahu banyak hal dari kitab-kitab tapi sekedar hapalan, sekedar pengetahuan, sekedar bisa pidato, tapi keyakinannya rapuh. Tauhidnya sekedar di mulut, tapi hatinya masih kumantil dengan makanan, minuman, kendaraan, rumah, manusia, umat, bahkan santunan pejabat.

Pernah suatu kali rombongan pejabat datang. Salah satu di antaranya seorang tokoh agama. Entah mengapa tiba-tiba Mbah Mo minta si tokoh itu mengambil air di kolam memakai keranjang. Tentu saja si tokoh masygul dan protes, "Mana bisa ambil air pakai keranjang?"

Mendengar protes ini, Mbah Mo langsung mendemonstrasikan keanehan. Ia ambil keranjang itu, ia gayuh air di kolam kemudian meletakkan keranjang berisi air tersebut di depan para tamu. Air dalam keranjang sama sekali tidak tumpah sampai mereka pamit pulang. Sambil melakukan hal ajaib itu, Mbah Mo berucap, "Sing penting yakin!"

Ilmu (pengetahuan) apapun harus bisa mengantarkan pada keyakinan. Jika tidak, maka itu hanya ilmu-ilmuan, secanggih apapun ilmunya. Entah itu ilmu agama, ilmu alam, ilmu sosial, ilmu bahasa, ilmu filsafat, ilmu terawang, ilmu mimpi, apapun itu. Apalagi kalau hanya tujuannya untuk memenuhi isi perut, itu keterampilan, bukan ilmu sejati.

Dengan segala keampuhan itu, jelas saja Salim penasaran atas pernyataan Mbah Mo tadi. Bahwa ada ilmu yang di luar jangkauannya. Ia pun bertanya,

"Lalu ilmu apa yang Njenengan tidak bisa kuasai, Mbah?"

Mbah Mo menghela napas, lalu menjawab,

"Ilmu bagaimana cara bertemu Gusti Allah,"

"Begitu sulitkah untuk menguasai ilmu itu, Mbah?"

"Bukannya sulit. Tapi memang nggak ada ilmunya."

Salim masih menunggu penjelasan.

"Bertemu Gusti Allah memang tidak bisa dicapai di alam dunia ini. Paling pol hanya mendapat Cahaya saja, tidak akan bisa bertemu Dia yang Sejati," terang Mbah Mo.

Penuturan sang guru mengingatkan Salim pada kisah Nabi Musa. Bahwa dahulu sang nabi pernah minta kepada Tuhan untuk bisa melihat-Nya. Namun ia hanya bisa melihat pohon yang terbakar berpendar-pendar di atas gunung Sinai.

"Itulah satu-satunya ilmu yang tak bisa saya kuasai karena memang tidak ada di dunia. Adanya kelak di akherat setelah kiamat. Setelah tidak ada batasan ruang dan waktu."

___

Salatiga, 12 November 2019

No comments:

Powered by Blogger.