Merancang Konsep Diri - KBQTDiary #43

@ziatuwel

Setelah tawashi hari Rabu pagi ini, aku bertanya pada anak-anak KBQT apakah sudah pernah membuat 'konsep diri'. Mereka jawab belum pernah, malah Ziki bertanya, "Opo kuwi konsep diri?"

Kujawab, "Gambaran apapun yang ingin kalian pelajari dan kuasai selama di KBQT. Biar kalian di sini nggak ngawur dan nganggur. Biarpun bebas, tapi kalian tetap punya konsep yang jelas."

Kepada Fredi yang sudah dua tahun belajar di KBQT kutanyakan, "Fred, selama dua tahun ini apa yang sudah kamu kuasai padahal sebelumnya sama sekali tidak bisa?"

"Banyak, Mas!" jawab Fredi, "Dulu aku sama sekali nggak tahu musik. Sekarang lumayan bisa main bass, gitar. Dulu juga sejak lulus MTs nggak bisa komputer blas, sekarang sudah bisa ngedit-edit visual pakai komputer."

"Nah, dengan membuat konsep diri, kalian bisa lebih jelas memetakan keahlian apa saja yang ingin kalian kuasai, ilmu apa yang ingin kalian tahu, dan bakat apa yang ingin kalian asah," sambungku.

"Kalau kamu Da, di pondok ada target ngaji atau hapalan atau apa gitu?" tanyaku pada Mada, anak KBQT yang mondok di pesantren.

"Ada, Mas!"

"Nah, target hapalan atau ngaji di pondok itu bisa jadi program belajar di konsep diri yang kalian buat. Misalnya kamu punya target hapalin sepuluh juz Quran semester ini, itu juga bisa dimasukkan ke program belajar KBQT. Bagi kalian yang ikut organisasi, komunitas, atau les di luar KBQT bisa dijadikan target belajar di konsep diri juga. Pokoknya semua kegiatan sehari-hari kalian bisa menjadi program belajar KBQT, asalkan ada nilai pembelajaran yang bisa kalian dapatkan dan pertanggungjawabkan."

"Di pondok juga ada pelajaran Nahwu. Tapi saya belum mudeng. Saya ingin menjadikan program belajar menguasai Nahwu sebagai target belajar KBQT. Bisa, Mas?" tanya Mada.

"Nek resik-resik omah piye, Mas?" tanya Danial.

"Ya sangat bisa juga jadi program belajar. Apalagi jika kaitannya dengan membantu orang tua. Tapi ya musti realistis. Jangan kemudian kamu nggak pernah berangkat ke sini dengan alasan lagi resik-resik rumah tiap hari."

"Nek kui sih mbolos," sahut Chevo.

"Yak. Dengan suasana belajar yang sangat longgar di KBQT ini kalau masih mbolos ya kebangeten to ya? Lagipula kalau misalkan kalian bosan di sini terus dan ingin mudik, ya silakan pulang. Asalkan selama kalian pulang itu ada hal baru yang kalian pelajari, atau karya baru yang kalian buat. Sebab intinya KBQT itu belajar dan berkarya."

"Berarti nggak dihitung bolos ya, Mas?"

"Yo ora. Asalkan kamu betul-betul bisa menunjukkan bukti karyanya. Enak banget to sekolah di sini?"


Kemudiam kugambarkan mindmap konsep diri di papan tulis, sambil menggendong Aya yang ribut melulu. Sebelumnya, pada hari Senin, para pendamping membahas beberapa hal di momen rapat bulanan. Di antaranya adalah perlunya anak-anak membuat konsep diri masing-masing. Yakni pemetaan tentang identitas, kecenderungan, visi, dan kondisi diri sendiri dalam suatu dokumentasi yang terkonsep.

Ada beberapa hal pokok yang menjadi isi dari konsep diri. Pertama, identitas dan latar belakang. Kedua, minat dan kecenderungan belajar. Mencakup minat keilmuan, yakni pengetahuan apa saja yang ingin dikuasai selama di KBQT. Adapula minat keterampilan, berupa kecakapan apa yang ingin dilatih selama di sini, serta bakat apa saja yang ingin diasah.

Ketiga, kelebihan dan kekurangan diri. Berupa penggambaran karakter diri sendiri disertai penilaian mandiri secara jujur. Keempat, dukungan atau hambatan belajar selama berproses di KBQT (bagi anak lama) atau di sekolah sebelumnya (bagi anak baru). Kelima, karya atau kebermanfaatan apa yang ingin dibuat di masa depan. Yakni terkait visi pekerjaan, aktivitas pribadi maupun sosial di masa dewasa kelak.

Lima poin konsep diri ini bisa berkembang sesuai dengan kebutuhan. Penggalian dan pembuatan konsep diri ini dilakukan oleh setiap anak dengan bantuan pendamping kelas masing-masing. Serta digali secara privat face to face sehingga anak bisa lebih terbuka mengungkapkan hal pribadinya.

Konsep diri berguna bagi anak-anak sebagai peta belajar selama berproses di KBQT. Juga berguna bagi pendamping dan wali murid sebagai catatan informatif untuk memantau perkembangan siswa dari tahun ke tahun. Tentu saja konsep diri ini sangat fleksibel, sesuai dengan perkembangan anak dan proses yang dilalui. Intinya, anak-anak dibebaskan untuk merancang kurikulum belajarnya sendiri, sekaligus melatih kesadaran dan komitmen mereka. Begitulah pendidikan yang memerdekakan ala KBQT.

Kalibening, Rabu 6 November 2019

No comments:

Powered by Blogger.