Keberlimpahan Pangan dan Pendidikan

16:23
@ziatuwel

Konsep hidup keberlimpahan pertama kali kudengar dari Pak Iskandar di Bumi Langit, Imogiri. Praktik kelola bumi dengan penuh adab ala permakultur menyajikan keberlimpahan bagi pemenuhan kebutuhan pangan dasar manusia. Tentu saja, keberlimpahan lebih dari kecukupan dan kemandirian.

Permakultur tak sekedar menjanjikan kemandirian dan kecukupan bahan pangan bagi suatu komunitas masyarakat. Melainkan sudah pada tahap keberlimpahan. Tanpa ketergantungan penuh terhadap skema industri pangan dan pasar di luar sana. Sebab permakultur memperlakukan alam sebagai partner kerja, bukan obyek eksplorasi semata. Sebagaimana namanya, permakultur mengupayakan kultur permanen bagi produktivitas tanah dan efektivitas pengolahannya.

Permakultur memadukan berbagai macam konsep pengolahan alam secara ekologis. Mulai dari pertanian organik, peternakan integratif, penyadapan energi terbarukan, reservasi air tanah, reforestasi, hingga sistem daur ulang. Apa yang disebut sebagai 'sampah' dikembalikan ke tanah untuk menjadi energi penumbuhan. Idenya adalah bagaimana kita bisa mengolah sumber daya seberadab mungkin, hingga kita bisa mandiri dalam pemenuhan pangan, sambil menjaga kelestarian alam. Tak hanya kemandirian pangan, ketahanan pangan, atau kedaulatan pangan, melainkan keberlimpahan pangan.

Banyak sudah situs-situs pelatihan permakultur dengan model kursus beberapa pekan. Di tempat-tempat tersebut, misal di Bumi Langit, para siswa menginap selama satu hingga dua pekan untuk merasakan hidup berpermakultur. Mengolah kompos, membuat bedeng, menanam bibit, hingga memasak bahan pangan di dapur langsung dari lahan. Harapannya, para siswa bisa kembali ke wilayah masing-masing dan mempraktikkan ilmu dasar kekhilafahan ini.

Bahkan beberapa komunitas menyediakan pendampingan berkelanjutan, semisal Permablitz. Mereka mendatangi wilayah klien yang masih gersang. Kemudian memetakan lahan, membuat desain praktis aplikasi permakultur, lalu mendampingi eksekusi awalnya. Sebab memulai memang bukan hal yang mudah untuk para pemula. Pendampingan dilakukan hingga klien bisa betul-betul mengolah lahannya secara mandiri. Idenya adalah menebarkan kemandirian pangan, untuk menuju keberlimpahan.

Konsep kemandirian, ketahanan, kedaulatan, hingga keberlimpahan ini kupikir tidak hanya relevan bagi urusan pangan dan ekologi. Tetapi juga sangat pas diupayakan dalam segmen primer kehidupan yang lain. Semisal pendidikan dan kesehatan.

Dalam hal kesehatan, kita berupaya bagaimana menumbuhkan paradigma menjaga kesehatan dan mencegah potensi penyakit, bukan mengobati dan menyembuhkan ketika terlanjur sakit. Dalam hal pengobatan pun kita berupaya menggunakan pola sealami dan semandiri mungkin. Baru ketika tidak bisa tertangani sendiri, kemudian butuh pertolongan pihak lain.

Namun sayangnya, kearifan leluhur tentang pola hidup sehat dan bahagia sudah diberangus habis-habisan oleh gaya hidup modern yang serba instan. Pengetahuan tentang tanaman obat dan pertolongan pertama ala embah-embah kita pun punah sebab ketergantungan pada obat-obatan sintetik.

Dalam hal pendidikan, tak jauh beda kondisinya dengan kesehatan. Kita terlanjur menganggap pendidikan sebagai domain sekolah. Padahal subyek primer pendidikan adalah diri kita sendiri, kemudian lingkup keluarga, lalu kehidupan masyarakat secara riil. Sekolah 'hanya' menjadi ruang bantu untuk lebih mengonsep pengetahuan-pengetahuan agar lebih mudah dicerna. Bukan malah menyusahkan dan justru jadi ketergantungan.

Padahal idealnya kita bisa mengupayakan kedaulatan -bahkan keberlimpahan- pendidikan kita sendiri melalui keluarga, komunitas, atau masyarakat dalam skup terkecil, tanpa ketergantungan terhadap lembaga sekolah. Konsep kemandirian, kebertahanan, dan kedaulatan pendidikan inilah yang dianut komunitas belajar tempatku mengabdi saat ini. Bahwa sejatinya setiap manusia bisa belajar secara mandiri sesuai pilihan keminatan dan kesungguhannya. Tanpa ada penyeragaman maupun pendiktean penuh dari pihak lain yang disebut guru.

Jika dalam pengolahan alam ada permakultur, maka dalam pendidikan ada prinsip pendampingan belajar. Jika proses dalam permakultur bukanlah mengeksplorasi tanah, melainkan bekerja sama dengan tanah. Maka dalam pendampingan pun bukan mengajari anak, melainkan belajar bersama anak. Memotivasi rasanya, menemani proses karsanya, hingga mengapresiasi hasil karyanya.

Di sini kami menggelar banyak forum sesuai keminatan anak. Mulai dari forum literasi, film, teater, kriya, musik, hingga robotik. Semuanya dikelola secara mandiri oleh anak dengan sedikit campur tangan pengelola komunitas. Takaran keberhasilannya adalah kenikmatan menjalani proses belajar dan kreasi karya. Tidak melulu berpatokan pada penilaian nominal maupun penghargaan finansial.

Bahkan forum-forum yang awalnya diperuntukkan bagi internal ini bisa diikuti oleh siapapun dari luar lingkungan komunitas. Maka praktik pendidikam yang kami lakoni tidak hanya sekedar kemandirian dan kedaulatan, melainkan sudah pada tahap keberlimpahan.

Sebagaimana Bumi Langit dengan pelatihan permakulturnya, komunitas belajar kami juga hendak menggelar workshop pendampingan belajar untuk para praktisi pendidikan. Baik orang tua, guru, mahasiswa, penggerak komunitas, atau siapapun. Sebagaimana Permablitz dengan asistensi pengelolaan lahan kliennya, kami juga hendak memfasilitasi ruang-ruang, komunitas-komunitas atau lembaga-lembaga lain agar bisa mempraktikkan pendampingan belajar yang mandiri, berdaulat, bahkan berlimpah.

Terakhir, kukira semua hal ada sisi sufismenya masing-masing. Maka permakultur adalah sufismenya pengolahan tanah. Sedangkan pendampingan belajar ala komunitas adalah sisi sufismenya pendidikan. Sebab orientasi permakultur maupun pendampingan belajar bukanlah dominasi maupun monopoli. Kami tidak mengejar kuantitas dengan membuka cabang-cabang. Yang kami upayakan adalah memupuk kualitas dan menebar semangat kemandirian. Agar semua pihak bisa berdaya, berdaulat, bahkan berlimpah sesuai konteksnya masing-masing.

Langgar Bumi Langit, Imogiri, yang kukunjungi tahun 2016 lalu.


Kalibening, Senin 4 November 2019

No comments:

Powered by Blogger.