Pengusaha Singkong Mantan Napi Narkoba - KBQTDiary #42

@ziatuwel

Kamis 3 Oktober 2019 agenda belajar anak-anak KBQT adalah studi kunjung. Destinasi kunjungan kali ini ke D9, outlet dan pabrik singkong keju yang sangat masyhur di Salatiga. Kebetulan lokasinya hanya dua kilo dari KBQT. Kamipun beramai-ramai naik pikap jam sembilan pagi, sesuai janji.

Setibanya di lokasi pabrik, kami disambut Bu Yuli, salah satu pegawai yang sebelumnya sudah kuhubungi untuk janjian. Juga ada Bu Kris, istri Pak Hardadi, pemilik usaha singkong keju ini. Baru saja sampai lokasi, kami sudah dipersilakan menyantap sarapan nasi bungkus yang sangat sedap. Kami melingkar di ruang tamu pabrik yang cukup luas, nampaknya memang biasa digunakan untuk menerima kunjungan tamu rombongan.

Selain sarapan, kami juga disuguhi gemblong cothot produksi pabrik ini, sambil menyimak penyampaian Bu Kris yang sangat ramah. Melalui layar proyektor, beliau menayangkan video profil tentang sejarah D9. Serta beberapa video pendek dan foto pemenang sayembara promosi D9. Anak-anak nampak larut dalam tayangan video itu.


Berkisah tentang perjalanan Pak Hardadi membangun usaha singkong keju dari nol, bahkan dari minus. Awalnya, Pak Hardadi ini terbilang tak acuh dengan makna hidup. Ia terjerumus dalam pergaulan yang nakal hingga harus masuk bui sebab kasus narkoba. Padahal saat itu ia sudah beristri dan menanggung tiga anak. Setelah enam bulan mendekam di penjara, ia bertekad untuk tobat. Ia memulai usaha dengan berjualan singkong rebus di alun-alun Pancasila, Salatiga.

Setelah berbulan-bulan menekuni berbagai inovasi kuliner singkong, antrian pesanan mulai mengular. Singkat cerita, Pak Hardadi sudah tidak lagi buka lapak di alun-alun dengan gerobak. Ia sudah buka warung tetap di Jalan Argomulyo; Singkong Keju D-9, sesuai nama kamarnya ketika dipenjara. Oplah singkong yang dahulu paling banyak hanya habis 5 kilogram per hari, kini sudah mencapai 5 ton per hari. Pekerjaan yang dulu ia garap sendiri, kini bisa mempekerjakan 100-an karyawan yang setiap bulan ia gelarkan pengajian.

D9 juga sangat terbuka dengan siapapun untuk bekerja di sana, tanpa memandang latar belakang. Orang-orang difabel bisa bekerja sesuai dengan kemampuan. Begitu pula mantan warga binaan (narapidana), bisa bekerja untuk memperbaiki kehidupannya. Asalkan dia mau tekun dan gigih bekerja. Manajemen yang diterapkan berbasis kekeluargaan. Meski demikian tetap ada aturan-aturan manajerial yang harus dipatuhi semua PNS alias Pegawai Negeri Singkong.

Setelah tayangan video profil, anak-anak bertanya pada Bu Kris. Tentang apa proyeksi ke depan untuk pengembangan bisnis mereka, dari mana pasokan singkongnya, berapa ton singkong yang dibutuhkan sehari, serta bagaimana manajemen kekeluargaan perusahaan dibangun. Hampir satu jam kami ngobrol di ruang tamu itu, kemudian foto bersama.

Acara kunjungan dilanjutkan ke ruang produksi di bawah ruang tamu. Anak-anak melihat proses pengupasan, pemotongan, hingga penggorengan dan penyimpanan bahan baku yang akan diproses menjadi singkong keju. Kami didampingi Bu Yuli yang menerangkan secara detil proses pembuatan singkong keju, tanpa trik khusus maupun resep rahasia.

Anak-anak juga ikut praktik membuat gemblong cothot yang sempat kami nikmati sebelumnya. Dari lima-enam ton singkong yang masuk tiap hari di pabrik, tidak ada yang terbuang atau menjadi sisa. Dagingnya jadi olahan pangan singkong keju, bonggolnya jadi pakan ternak, sedangkan singkong afkiran yang tak sesuai standar diolah jadi gemblong cothot.

Usai belajar pembuatan singkong keju, kami mampir ke outlet atau kafe penjualan D9, sekitar setengah kilometer dari pabrik. Tempatnya cukup luas dan sangat nyaman. Uniknya, di dekat pintu masuk, ada kotak kaca etalase. Isinya alat-alat madat khas pecandu narkoba. Semacam museum mini sebagai pengingat pengunjung tentang bahaya narkoba, sekaligus penanda masa lalu bagi sohibul bait.


Jam sebelas siang kami pulang ke KBQT. Kami melingkar di teras RC untuk mereview pelajaran yang sudah kami dapatkan dari D9. Satu persatu anak-anak mengutarakan kesannya. Ada yang kagum dengan kegigihan seorang mantan napi. Ada yang terinspirasi untuk berwirausaha. Ada yang baru pertama kali melihat proses produksi di sebuah pabrik. Ada yang tambah penasaran dengan sistem pengelolaan perusahaan. Namun pelajaran utama yang kami dapatkan hari itu adalah; selama masih diberi nyawa oleh Tuhan, jangan ada kata putus asa dari rahmat-Nya.

Kalibening, Selasa 8 Oktober 2019

No comments:

Powered by Blogger.