Rohis dan Terorisme

05:03
@ziatuwel

Isu terorisme kembali dikait-kaitkan dengan organisasi kerohanian Islam (ROHIS). Sehingga muncul kecurigaan dan wacana untuk mengawasi organisasi ini. Sebagai mantan ketua ROHIS, saya setuju jika semua kegiatan kerohanian Islam di sekolahan dan kampus-kampus diawasi dengan ketat. Ya, ketat!

Diawasi ajarannya, referensi yang digunakan, kegiatan yang digelar, sampai kualifikasi pembimbing yang mendampingi. Harus diawasi dengan sangat ketat. Tapi pengawasan yang dilakukan bukan oleh aparat keamanan, bukan polisi, bukan tentara, bukan satpol pamong praja.

Lalu siapa? Pesantren!

Walau bagaimanapun, ROHIS adalah organisasi kesiswaan yang berkutat dalam kegiatan keagamaan. Berupa kajian-kajian keislaman hingga acara-acara ritual di lingkungan sekolah. Nah, karena kegiatan utamanya bertema agama, maka mau tak mau ROHIS harus terhubung dengan ahlinya, yakni pesantren terdekat di lingkungan sekolah.

Kalau ekstrakurikuler paskibra atau pramuka bisa mendapat bimbingan intensif dari satuan militer sekitar, maka logisnya ROHIS juga mendapat bimbingan serupa dari instansi yang mumpuni dalam keilmuan dan praktek agama. Di Nusantara ini siapa lagi yang menduduki posisi itu kalau bukan pesantren.

Dengan adanya keterhubungan ini, maka kajian keislaman ROHIS di sekolahan bisa dipertanggungjawabkan sanad keilmuannya. Yakni dalam kaitannya dengan tema-tema akidah, ibadah, hibgga akhlak dan spiritualitas. Tidak sekedar jadi ruang obrolan tentang isu-isu besar umat Islam namun lalai dari pemahaman agama yang mapan. Malah kadang dimanfaatkan pihak-pihak yang berkepentingan untuk digiring ke afiliasi partai politik tertentu.

Namun sayang sekali. Sepanjang pengalaman saya ber-ROHIS, sangat jarang organisasi kerohanian Islam yang terhubung dengan pesantren di sekitarnya. Induk pemahaman dan praktek agama yang mu-tabar di Nusantara adalah pesantren, sedangkan di ROHIS digelar kajian-kajian keislaman yang lepas dari sanad pesantren. Maka fenomena semacan ini saya kira seperti anak-anak ayam yang kehilangan induknya.

Selain itu, sangat disayangkan pula sangat sedikit pesantren-pesantren yang proaktif merangkul ROHIS-ROHIS di sekolahan sekitar. Untuk dibimbing, diajak berkegiatan bersama, atau lebih bagus lagi; diajak mondok kilatan secara intensif agar merasakan suasana pesantren.

Melihat kenyataan ini, saya usul kepada kawan-kawan yang mengelola pesantren; mulailah membuka diri untuk berdakwah di lingkungan sekolah umum sekitar pesantren Anda. Silaturohis. Sebaliknya, bagi para pembina dan aktivis ROHIS; mulailah merendahkan hati untuk mau ngangsu kawruh dan mengaji kepada ahlinya, yakni para ulama di pesantren.

Zaman SMA dahulu, kami mengupayakan hubungan antara ROHIS dengan pusat-pusat keagamaan sekitar. Kami ajak teman-teman mengunjungi Pesantren Babakan, Pesantren Giren, hingga Kanzus Shalawat Pekalongan. Sayang sekali, silaturohis semacam itu hanya kegiatan kultural, tidak diwadahi dengan formal sehingga tidak ada keberlanjutannya. Alangkah baiknya kegiatan-kegiatan semacam itu difasilitasi oleh pihak sekolah dan pesantren secara kelembagaan.

Dengan adanya keterhubungan ini, maka sanad ilmu kajian ROHIS akan tersambung dengan rantai keilmuan pesantren hingga Baginda Rasulullah. Selain itu, pemahaman keagamaannya pun menjadi kokoh dan tidak lepas dari konteks keindonesiaan. Maka jadilah kajian ROHIS sebagai ruang untuk berbicara Islam dengan memahami dan mengaji ajaran-ajaran dasar Islam. Tidak hanya berbusa-busa tentang kejayaan umat Islam masa lampau, gerakan politik Islam, hingga penderitaan umat Islam di belahan bumi lain, namun tak mengaji dasar-dasar ajaran Islam.

___

Untuk para aktivis ROHIS, tenang saja. Tak usah panik dengan isu dan tuduhan-tuduhan tanpa dasar. Tak usah marah dan terpancing untuk menjadi bibit-bibit bughat kemudian menuding pemerintah sebagai thaghut.

Tunjukkan saja bahwa kalian hanya sekelompok remaja yang sedang membuka kesadaran tentang pentingnya spiritualisme dan relijiusitas di dalam kehidupan.

Jika mereka menuduh kalian teroris, maka tanyakan; apa itu teroris? Teroris adalah; orang yg menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut, biasanya untuk tujuan politik [Kamus Besar Bahasa Indonesia].

Tegaskanlah bahwa tidak ada kekerasan baik fisik maupun psikis yang kalian tebarkan. Apalagi untuk menakut-nakuti orang lain. Bukankah justru cap 'teroris' lebih pas dialamatkan kepada para pemimpin yang zalim?

Yang kalian lakukan hanyalah mengikuti cercah cahaya menuju Sumbernya, sebagai pembimbing dalam melakoni perjalanan hidup kami. Menjadi apapun dan berperan sebagai apapun. Yang kalian upayakan adalah menebar kedamaian bagi hidup kalian, keluarga, dan lingkungan sekitar.


_______
Tuwel, akhir Sya'ban 2018
Foto: ROHIS SMA N 1 Slawi.

No comments:

Powered by Blogger.