Pembagian Kalam: Isim, Fi'il, Harf - NahwuSufi #2

Oleh: @ziatuwel

Kalam sebagai suatu ujaran atau ucapan yang bermakna memiliki tiga pembagian, yakni isim, fi'il, dan harf.

واقسامه ثلاثة اسم وفعل وحرف جاء لمعنى

"Dan pembagian Kalam ada tiga; isim (kata benda), fi'il (kata kerja), dan harf (kata hubung)."

Artinya, Kalam yang bisa menyampaikan seorang peniti jalan kepada Tuhan sebagai puncak cita-citanya ada tiga. Pertama, isim atau kata benda. Secara harfiah 'isim' berarti nama. Bahwa untuk mencapai ke hadirat-Nya maka seorang salik harus memperbanyak menyebut Nama teragung dari semua nama, yakni Nama Allah (isim Allah).

Seorang salik musti terbiasa berzikir menyebut nama-Nya hingga merasakan kenikmatan zikir. Merasuk ke dalam jiwanya, darahnya, dagingnya, kedalaman hatinya, syaraf-syaraf akalnya, dan segala relung sukmanya. Zikir menjadi bekal perjalanan para salik, mulai dari awal menapaki perjalanan maupun ketika ia sudah sampai di tujuan.

الذكر باب عظيم انت داخله
فاجعل لمنزله الانفاس حراسا

"Zikir merupakan gerbang besar yang musti kau masuki. Maka jadikanlah zikir sebagai penjaga bagi rumah-rumah jiwanya."


Kedua, fi'il atau kata kerja. Secara harfiah, fi'il berarti perbuatan. Bahwa untuk sampai ke hadirat Tuhan maka seorang salik harus berbuat, melakukan upaya, untuk mengendalikan hawa nafsu dan mengubah kebiasaan buruknya. Mengubah kebiasaan banyak bicara dengan diam merenung, mengubah kebiasaan banyak tidur dengan begadang salat malam, mengubah kebiasaan banyak makan dengan berpuasa.

Adapun kebiasaan si nafsu yang tantangannya paling berat untuk diubah adalah cinta kedudukan, harta, dan penghormatan. Maka kebiasaan berat ini hanya bisa diubah dengan kehinaan, kefakiran, dan ketersembunyian.

ادفن وجودك في ارض الخمول فما نبت مما لم يدفن لا يتم نتاجه

"Pendamlah keberadaanmu di dalam bumi ketersembunyian (khumul). Sebab apa yang tumbuh tanpa dipendam takkan sempurna buahnya."

Khumul ialah segala kondisi yang bisa meruntuhkan citra seseorang di hadapan khalayak secara sosial. Jika masyarakat menghormati kekayaan, maka ia khumul dalam kefakiran.

Jika khalayak mengagumi penampilan mewah dan necis, maka ia khumul dalam penampakan yang biasa-biasa saja ala rakyat jelata. Tujuannya adalah agar si salik bisa mengendalikan nafsunya, tidak disetir nafsunya yang selalu menagih penghormatan dan pengagungan.

Ketika seorang salik sudah mengubah kebiasaan nafsunya dengan kehinaan dan kefakiran, maka ia bisa mengendalikannya. Tiada beda baginya dihormati orang atau tidak, sama saja baginya ada harta atau tidak, sebab baginya yang dituju adalah Tuhannya.

Nafsu sudah betul-betul dalam kendalinya. Saat itulah ia sampai ke istana kemahaagungan Tuhannya. Sehingga dikatakan bahwa jika seorang pejalan sudah memenangkan nafsunya sediri, maka artinya ia sudah sampai ke tujuan.

Ketiga, harf atau kata hubung. Secara harfiah, harf berarti kecondongan. Bahwa untuk menempuh suluk, seseorang musti memiliki kecondongan dan semangat yang membara untuk sampai ke tujuan sejatinya, yakni Allah.

Sebagaimana harf (kata hubung) yang hanya bisa digunakan di awal kata lain, tidak bisa digunakan di akhir kalimat, maka begitu pula semangat untuk menuju-Nya hanya dibutuhkan di awal dan tengah perjalanan suluk. Jika sudah sampai, maka semangat pendorong itu lebur sudah.

Tak bisa dipungkiri bahwa nafsu selalu punya potensi keinginan dan kecondongan. Maka bagi seorang salik, potensi ini harus diarahkan kepada tujuan suluknya, yakni Allah, bukan dunia. Maka ada dua jenis kecondongan; yang terang dan gelap.

Kecondongan yang terang adalah keinginan menuju kerelaan Alah dan segala kemuliaan dari-Nya. Sedangkan kecondongan yang gelap adalah keinginan untuk mengenyangkan nafsu berupa meraih kekuasaan, menumpuk harta, meraup penghormatan, dan segala hal duniawi.

Imam Ab Hasan as-Syadzili dhawuh, "Jika ada keinginan -dan itu pasti- maka keinginan yang ada di antara dirimu dengan Allah jauh lebih baik daripada keinginan di antara dirimu dengan makhluk."

Tiga hal ini, isim fi'il harf, mengisyaratkan pada tiga hal lain sebagai jalan menuju Allah. Yakni syariat, tarekat, dan hakekat. Syariat adalah tentang menyembah-Nya, tarekat adalah tentang menuju-Nya, dan hakekat adalah tentang menyaksikan-Nya. Syariat adalah tentang dalil dan kata-kata, tarekat adalah tentang laku dan disiplin, hakekat adalah tentang rasa dan tata krama.

Kaum muslimin awam berkutat pada kewajiban-kewajiban syariat, dalil-dalil dan perdebatan tentang aturan-aturan. Orang-orang yang menguasai keimuan syariat dan seluk beluk dalil ini disebut sebagai orang berilmu, 'alim.

Kaum muslimin yang khusus, selain berkutat pada syariat lahiriah, ia juga menempuh tarekat berupa lelaku yang terdiri atas disiplin zikir dan pembersihan jiwa. Mereka inilah para pejalan yang disebut ahli ibadah, 'abid.

Sedangkan kaum muslimin yang elit, selain taat bersyariat dan bertarekat, mereka juga berhias dengan rasa dan cahaya hakekat yang menerangi jiwanya, meneladani akhlak Nabi dan selalu menghinakan diri di hadirat Ilahi. Mereka itulah orang-orang yang jernih, shufi.

Kalibening, Rabu 4 Muharram 1441

No comments:

Powered by Blogger.