Madad Ya 'Utsman Ghaniy!

@ziatuwel

Kita dikepung berbagai kabar duka, mulai dari kabut asap sebab kebakaran hutan yang tak jua usai, gelombang pengungsi Aleppo -tanah kelahiran para ilmuwan muslim- yang tak berdaya, human error yang mengorbankan ribuan nyawa di tanah suci, hingga pembantaian keji pejuang ekosistem di Lumajang sana. Dari semua kabar itu, kita bisa menelusur akar problem yang sama, yakni kuasa kapital, ketidakseriusan penguasa, serta teriakan rakyat yang tak didengar.

Semua fenomena itu menunjukkan kepada kita betapa parahnya bencana kemanusiaan yang sedang kita hadapi. Membuat kita jadi tengok kanan kiri, menimbang kemungkinan hal serupa terjadi di lingkungan kita tinggal. Lalu kita mulai memperhatikan lingkungan sekitar, mengendus apakah ada sebab musabab yang bisa memantik tragedi serupa; berupa indikasi kerusakan ekosistem, kapitalisme, individualisme, kemiskinan, pengangguran, premanisme, korupsi, fanatisme, kebodohan, hingga budaya bisu di wilayah kita masing-masing.

Apakah masih ada arogansi instansi penguasa dan pemilik modal terhadap rakyat miskin? Masihkah eksploitasi alam menyisakan sampah di udara dan air kita? Ataukah perlu jatuh martir dulu -baik martir ekologis maupun martir nyawa- agar kita mau sadar untuk bergotong-royong dan mulai saling menjaga?

~

Lalu entah kenapa, kondisi macam ini mengingatkanku kepada Sayyiduna Utsman. Ia menebus mata air yang sebelumnya dimonopoli seorang lelaki suku Ghifar seharga ribuan dirham, untuk kemudian dihibahkan kepada masyarakat yang dilanda kekeringan.

Di masa paceklik, ia sumbangkan berton-ton gandum untuk kaum miskin hingga harus diangkut seribu ekor unta. Belum lagi di masa-masa perang, tak terhitung harta yang ia infakkan. Ia juga menegakkan sistem hukum dengan membentuk pengadilan dan petugas keamanan. Ia juga menata sektor pertanian sekaligus memperkokoh armada kelautan.

Ia, persis sebagaimana yang digambarkan kasidah santri-santri Langitan itu; kanzul khayaa wal iimaan wa musytakad dhu'afa: sosok yang penuh rasa malu dan keimanan, serta muara keluh orang-orang lemah.

Bercermin pada khalifah berjuluk Dzu Nuroin ini, semoga kejadian demi kejadian belakangan ini membuka kesadaran kita, terutama kaum agamawan dan festivalis ritualistik untuk makin mempertajam empati kemanusiaan. Menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, mempererat jejaring masyarakat agar bisa berdaulat secara ekonomi, mampu mengupayakan transparansi informasi, hingga berdaya  melawan represi para pemodal.

Dalam Sirajut Thalibin, Kiai Ihsan menuliskan; kalangan wali abdal memperoleh kedudukan luhur di sisi Allah bukan sebab banyaknya sujud dan ritualnya, melainkan lantaran empati dan rasa kasih mereka terhadap kemanusiaan.


Mengenang Sayyiduna Utsman bin Affan, yang dibunuh lalu wafat pada Jumat 18 Dzulhijjah 35 H.

No comments:

Powered by Blogger.