Cangkeman Hasanah

@ziatuwel

Saat itu pembukaan majlis ta'lim pekanan kegiatan kerohanian Islam di SMA. Sabtu siang selepas jam pelajaran. Karena pembukaan, maka hadirin yang datang pun membludak. Ruang kelas bermuatan 40 siswa di utara atas Aula Merah itu penuh nuh nuh, bahkan sebangku harus menampung tiga orang.

Aku masih duduk di kelas XI waktu itu. Ditugasi para senior untuk mengisi kajian rutin Majlis Ta’lim ROHIS SMA N 1 Slawi tiap Sabtu sore. Materi yang kusampaikan saat itu ringan-ringan berat; kitab standar akhlak bagi pemula yang biasa dibalah di madrasah. Yakni kitab Washaya al-Abai li al-Abna karya Syaikh Muhammad Syakir, ulama Iskandariah Mesir.

Setengah jam pertama aku begitu grogi. Lha piye, biasanya kegiatan ini hanya dihadiri paling pol sampai dua puluh orang. Kali ini hampir empat kali lipatnya. Peluhku mulai bercucuran dari jidat, omongan mulai nggak nyambung, perut mulai mules dan kebelet pipis. Aduh.     

Untuk mengatasi kondisi ini, akupun pamit kepada 'jamaah' sekalian untuk break sejenak. Ngapain? Kubilang mau ambil wudhu. Nggak keren 'kan kalau aku ijin 'ke belakang' (kencing) di tengah ceramah. Maka penceramah amatiran ini pun keluar kelas, cari toilet, usap keringat, buang napas panjang, lalu kencing -dan wudhu juga tentunya. Lega betul.

Momen itu bukan kali pertama aku 'nyangkem' di hadapan khalayak. Cangkeman yang kumaksud di sini adalah berupa berceramah, tausiyah, mauidzah hasanah, dalam konteks betulan, bukan perlombaan. Pertama kali, kalau tak salah ingat, zaman kelas tiga SMP. Yakni di rutinan khitobah (latihan ceramah) majlis ta'lim Pesantren Al-Falah Tuwel, asuhan Wa Kiai Ali Ghufron. Seminggu sebelum naik pentas, aku sudah gemetaran, grogi, panik. Harus kupikirkan materi yang pas, serius, tapi tetap atraktif alias menghibur. Pokoknya yang terpikir di kepala ABG-ku saat itu adalah bagaimana biar audiens bisa ketawa tapi tetap manggut-manggut.

Nah, kebetulan, beberapa hari sebelum tampil, ada guru agama baru di sekolah, Pak Amin. Ia berhasil memikat hati kawan-kawan ketika pertama kali masuk kelas. Kami terpingkal-pingkal, tapi juga tetap manggut-manggut. Nah, ini dia, batinku. Maka kubeokan saja apa yang disampaikan Pak Amin, besok saat khitobah Sabtu malam.

Ternyata sukses. Malam itu ceramahku memukau, keren, lucu, dan berisi. Tentu saja ukurannya adalah respons hadirin dan beberapa komentar manis teman-teman. Namun bagi beberapa teman ngaji yang juga sekelas di SMP, tentu sudah tahu muslihatku.

Sejak saat itu aku merasa berceramah itu gampang. Tinggal menyuarakan kembali apa yang pernah kita dengar dan kita pahami. Segampang itu. Akupun kemudian tumbuh menjadi remaja yang gemar 'kulakan' ilmu. Hingga sampai lulus SMA, kemudian kuliah di STAN Jakarta, aku gemar memburu majlis-majlis ilmu, untuk kemudian kucatat dalam buku-buku tulis (masih tersimpan rapi di lemari). Pengajian Kiai Ahmad Giren, Habib Jindan Ciledug, Habib Munzir MR, Haji Ilung, dan para ulama kondang lainnya selalu kucatat rapi. Lalu kalau ada kesempatan nyangkem, ya tinggal kucuapkan saja catatan-catatan itu sambil dimodifikasi sedikit dengan penambahan referensi. Kulak-dol begitulah.

Saat itu aku begitu paham tentang bagaimana berceramah. Namun belakangan kusadari bahwa aku tak tahu secuilpun tentang dakwah.

Mengajak (dakwah) kepada kebaikan bukan melulu berupa ceramah. Bahkan orang yang berceramah pun belum tentu sedang berdakwah. Kok bisa? Lha iya, seorang calo terminal yang mengajak penumpang ke Grogol, misalnya, padahal dia sendiri tak kemana-mana, maka sejatinya dia tidak sedang mengajak. Karena syarat mengajak adalah si pengajak harus terlibat dalam hal yang ia ajakkan. Kalau sekedar menyuruh-nyuruh, memerintah-merintah, mencuap-cuap, sama halnya dengan calo terminal. Dia modal cangkem, dia dapat penumpang, dia dapat uang.

Berdakwah tak begitu. Bukan melulu tentang bagaimana kau nyangkem dengan memukau. Bukan sekedar bagaimana mengomongkan asupan pengetahuan yang lama ditumpuk di pesantren atau perguruan. Tapi lebih dari itu, dakwah merupakan rangkaian panjang mulai dari proses mengaji secara intens, baik lahir pun batin, kemudian mengendapkannya dalam laku jiwa raga, lalu meneladankannya dalam ucap dan tingkah. Berat 'kan?

Makanya, kalau sekedar berceramah, mempresentasikan ilmu, mempidatokan wawasan, kita sebut sebagai 'muballigh' (penyampai). Sedangkan istilah 'dai' sejatinya musti kita sematkan pada lelaku seseorang yang gigih mengajak kepada kebaikan, meneladankan ibadah dan akhlak terpuji, meski ia tak lanyah berceramah.

Hal ini mulai kusadari ketika menyaksikan laku keseharian guru kami, Kiai Najib Abdul Qadir, yang disebut oleh beberapa kiai sebagai 'Quran Mlaku'. Beliau -kalau diukur dengan parameter lomba ceramah ala TV- bukan sosok yang cakap berpidato. Sangat jarang beliau berpanjang kalam dalam kesempatan sambutan.

Salah satu momen beliau berpanjang kalam adalah ketika syawalan Madrasah Huffadh di Magelang, itupun kurang dari satu jam. Sudah kutranskrip sambutan pengasuh dari beliau itu dalam catatan 'Menghapal Quran, Bakar Semangat dan Perbanyak Shalawat'. Sisanya, kami lebih banyak mengaji kepada beliau dari tingkah laku yang bisa kami saksikan. Ketika melakukan ritual ibadah, ketika menghadapi masalah, pun ketika bermuamalah.

Sangat terasa nuansa dakwahnya. Keteladanan. Makanya kalau ada dai yang komplit; jos keteladanannya, mapan tirakatnya, mantap retorikanya, ampuh betul itu. Apalagi ditambah dengan produktivitas menulis. Wah bisa jadi bergelar 'barokatul anam' (keberkahan umat manusia) betul yang semacam itu. Semisal Imam al-Ghazali rahimahullah.

Sejak saat itu pula aku mulai hati-hati dalam urusan nyangkem. Bukan hanya membatasi frekuensi nyangkem, tetapi juga dalam hal temanya. Setidaknya pilah pilih mana yang sudah patut kusampaikan, mana yang belum. Itupun aku masih sering kecolongan.

Masih kuingat betul Ramadan 2013, kalau tak salah ingat. Saat itu aku diundang ceramah Nuzulul Quran di suatu sekolah menengah daerah Jogja. Sudah kucoba memilih materi yang ringan dan sesuai dengan usia audiens. Kusampaikan materi tentang 'Tiga Ciri Puasa Sukses' (salah satu bab dalam Percik Ramadhan, JagadPress 2015). Sudah kucoba berhati-hati, namun lisanku masih kepeleset. Ketika itu terlontar dari mulutku; kalau orang puasa sebulan penuh tapi nggak tambah sehat, justru nambah penyakit, berarti puasanya tidak sukses, dia harus evaluasi diri terhadap puasanya itu.

Eh ndilalah, selepas Ramadan maagku tambah 'ndadi', GERD tak kunjung pulih, malah jadi sering kumat. Setahun selepasnya aku menyadari betul bahwa Gusti Allah sedang 'menagih' pembuktian atas apa yang aku omongkan. Dan aku baru bisa melampaui ujian pembuktian itu tiga tahun selepasnya.

Berbagai macam metode penyembuhan dan pemulihan kulakoni. Hingga akhirnya, setelah berpasrah-pasrah diri, ketemulah jalan sabab yang pengaruhnya sangat signifikan buat lambungku akhir Rajab lalu. Nikmat sekali rasanya sehat, kawan.

Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian semacam itu. Yakni ketika kita ditagih oleh Gusti Allah melalui tata laksana semesta untuk membuktikan apa yang kita nyatakan. Pasti kau pun sering mengalaminya. Kalau boleh kuistilahkan fenomena semacam ini; ketapuk cangkeme dewe.

Maka aku pun mulai berhati-hati betul dalam urusan nyangkem. Ya meskipun masih lamis. Entah dalam forum ngobrol biasa, presentasi, diskusi, apalagi ceramah ngandhani. Pokoknya harus disiasati betul, musti diawasi betul mulut ini, biar tidak mbablas mengkoarkan apa yang belum mengendap di hati, atau berlagak sudah menginjak bulan padahal menatap keindahannya pun belum. Yok yok o.

Terakhir, boleh jadi hal-hal semacam itu justru diharap-harapkan oleh para dai pemberani. Yakni agar setiap yang ia omongkan ditagih pembuktiannya oleh Allah. Semakin sering diuji, mampu melewati ujian itu, maka makin meningkat keluhuran jiwanya di sisi Allah. Kemungkinan lain, kalau tak kuat; ambruk merangsek ke jurang kehinaan. Entah berupa masalah keluarga, perkara ekonomi, hingga nafsu syahwati.

Semoga kita semua dilimpahi ilmu yang mengendap, yang kemudian menjadi laku. Bukan sekedar pemanis rak buku, ataupun pemenuh memori hapalan belaka. Tak sekedar diktat bahan ceramah, apalagi hanya pendongkrak materi peraih fulus maupun gelar juara.


Salam.
Plompong, 2 Syawwal 1437. Foto: pembekalan ROHIS SMAN 1 Slawi 2006

No comments:

Powered by Blogger.