Jalan Santai JagadPreneur

@ziatuwel

Dua bulan kemarin aku mudik ke Tuwel. Sudah kuagendakan untuk dolan ke rumah teman-teman sebagaimana dulu sering kulakukan saat mudik. Kurencanakan dolan ke Zaki Sangkanayu, Irham Bumijawa, Muhlisin Karangjambu, Faqih Slawi, dan Budi yang sudah pindah dari Talang ke kota Tegal.

Namun sayang, semua agenda itu tak terlaksana. Entah kenapa aku begitu malas keluar rumah, rasa-rasanya gravitasi yang dipendarkan putriku Aya begitu kuat. Sehingga aku tak bisa lepas dari daya tariknya seharian. Hari-hariku diisi nggarap proyek aplikasi Wirid Santri dan menemani istri momong Aya.

Hanya enam kali selama dua bulan itu aku keluar wilayah kecamatan Bojong; tilik bayi Mas Solahudin di Belik bersama keluarga, sowan nenek di Plompong sekeluarga, angkut-angkut inventaris Santrijagad di Yomani, diskusi pendidikan merdeka di Pesantren Babakan (pulangnya meriang), pendampingan komunitas belajar di Pesantren Nurul Huda Purwokerto (meriang saat sampai di sana), mengisi pengajian bulanan ROHIS SMA N 1 Slawi (pulangnya tepar seminggu).

Beruntungnya, banyak kawan yang mampir ke rumah. Entah sengaja dolan atau memang mau tilik bayi. Termasuk Budi, kawan lama yang memang sudah kami agendakan ketemu untuk membahas progress Santrijagad. Istimewanya, dalam momen mudik ini dia datang ke Tuwel sampai tiga kali, dua jam perjalanan dari sumuknya pesisir ke dinginnya pegunungan!

Dalam kesempatan itu kami nostalgia perjalanan Santrijagad sejak awal muncul hingga hari ini, setelah enam tahun. Tentang bagaimana Santrijagad bermetamorfosa dari fase ke fase dengan begitu alamiah, tidak dibuat-buat, lengkap dengan segala drama dan jatuh bangunnya.

Fase pertama berupa media online, sebagai corong gerakan beasantri Santri Foundation. Kemudian fase kedua berkembang jadi forum diskusi santai bulanan offline selama setahun penuh. Lalu fase ketiga berubah menjadi kios ekonomi kebersamaan dengan menyewa ruko, bertahan setengah tahun. Fase keempat melipir jadi perpustakaan umum namun vakum karena memang tidak strategis secara lokasi.

Fase kelima, yakni saat ini, Santrijagad sedang menjalani bentuk sebagai komunitas pemberdayaan bagi anggotanya. Budi sejak awal memang sudah menjadi mentor usaha bagi teman-teman di komunitas ini. Wahab, pentolan SantriProgresif yang lagi naik daun itu, mau diakui atau tidak adalah sosok yang terinspirasi dari konsep usaha yang dipresentasikan Budi di markas Santrijagad. Faqih, pendiri Ala_NU, mulai dari nol membangun layanan ticketing Villaguci dengan bimbingan Budi, hingga kini membuay Guci Tubing.

Aku dengan segala aktivitas literasiku juga tak lepas dari bantuan Budi. Ubaidillah yang produksi kaos juga ia sertai, Sofwandi dengan kiosnya, Soleh dengan lahannya, hingga Faiq dengan bibit-bibitnya. Budi menyebut aktivitas pendampingan usaha ini dengan 'JagadLab', sedangkan aku lebih nyaman menamainya 'JagadPreneur'.

Realisasinya adalah dengan gotong royong anggota sesuai lini usahanya masing-masing. Tiap anggota menangani lini usaha yang sesuai dengan minat dan potensinya sendiri. Saat ini ada lima lini usaha naungan JagadPreneur yang sedang merintis jalannya masing-masing. Yakni penerbitan buku (JagadPress), produksi kaos (JagadCloth), pemesanan souvenir (JagadCraft), aplikasi android (JagadApps), pengeloaan lahan (JagadFarm).

Namun ilmu kewirausahaan yang ditumbuhkan Budi di komunitas ini bukan kewirausahaan ekspansif yang berorientasi pada profit. Melainkan kewirausahaan reflektif yang orientasinya ketenteraman diri. Keberdayaan dan keberlangsungan (sustainability) adalah anutan dalam mazhab ini yang konsekuensinya tentu lambat. Makanya mazhab JagadPreneur ini kusebut sebagai wirausaha jalan santai.  Sungguh mazhab yang tidak cocok diikuti bagi wirausahawan yang ingin cepat kaya, hehe.


Fase keenam, yang ingin kami tuju dan mungkin kelak jadi bentuk final Santrijagad, insyaallah, adalah lembaga pendidikan dan pelatihan. Berupa suatu ruang geografis dimana di situ kami selenggarakan kelas keterampilan dasar kehidupan (basic skills), diskusi dan penggalian pengetahuan dasar (basic knowledges), serta pengajian dasar-dasar keislaman untuk awam (basics of Islam).

Budi membayangkan suatu ruang seluas lima hektar. Di situ terdapat lahan tanam, kantor usaha, serta sekolah dimana proses belajar intensif berlangsunh. Temponya hanya satu-dua tahun saja, pesertanya hanya empat puluh perangkatan. Prioritasnya adalah para fresh-graduate, entah dari kampus ataupun pesantren, yang butuh pendampingan real skills. Mulai dari bercocok tanam, berkebun, memasak, menjahit, bertukang, bela diri, atau mengaji. Prosesnya lebih banyak pada praktek riil, berproduksi, dan diskusi santai.

Tentu saja kuaminkan mimpi Budi, kuanggap itu sebagai doa. Meskipun aku tak memasang target tinggi-tinggi. Sebagai diriku saat ini, bisa mendampingi anak-anak ngaji Quran, menemani anak-anak belajar secara merdeka, sambil usaha serabutan sebagai penyambung hidup saja sudah menenteramkan.

Kukatakan pada Budi, "Wa. Kegiatan utamaku saat ini adalah menemani anak-anak ngaji. Adapun pekerjaan yang kulakoni, semisal jualan buku, bikin aplikasi, mengisi kelas, hanyalah kegiatan sampingan sebagai sarana untuk menunjang ketenteramanku menemani ngaji itu."

"Memang begitu arahnya, Kang!" sahut Budi, "Fokus garapan Santrijagad kelak adalah edukasi, gratis, intensif, adapun semua lini usahanya yang kita bangun sejak sekarang adalah pondasi penopangnya. Program donasi Santri Foundation juga kutiadakan, aku ingin kita mandiri, beasantrinya diambil dari kemandirian itu, tidak minta-minta lagi."

Wallahu a'lam wa Huwa yaqdir.

Salatiga, Senin 26 Agustus 2019

No comments:

Powered by Blogger.