Bagaimana Memotivasi Anak Belajar dan Berkarya? - KBQTDiary #36

@ziatuwel

Tempo hari ada tamu di KBQT, rombongan dari pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya. Dua jam para tamu berdialog dengan Pak Din di Resource Centre. Satu jam terakhir aku turut gabung berbicang, sebab sebelumnya musti rembugan proyek bersama anak-anak baru.


Dari sekian pertanyaan yang diajukan, ada satu pertanyaan yang membuatku bernostalgia. Pertanyaan ini diajukan oleh pimpinan rombongan, Ibu Prof. Dr. Husniyatus Salamah Zainiyati. Beliau bertanya bagaimana cara memotivasi anak sehingga mereka bisa terdorong untuk belajar dan berkarya. Sedangkan mendorong mahasiswa saja susahnya minta ampun.

Padahal di KBQT hampir tak ada tawaran hadiah (reward) maupun hukuman (punishment) atas suatu capaian. Tapi anak-anak bisa belajar secara mandiri dan melahirkan karya yang belum tentu bisa dicapai di lembaga pendidikan formal. Bagaimana rahasianya para pendamping memotivasi anak-anak?

Pertanyaan ini semacam pertanyaan default setiap tamu yang berkunjung. Pertanyaan ini pulalah yang pernah kulontarkan kepada Pak Din ketika pertama kali sowan 2015 lalu. Aku masih ingat jawaban Pak Din; kita cukup mengapresiasi ide anak, membombong, dan jangan mematahkan idenya. Itu sudah jadi motivasi yang sangat berpengaruh.

Saat itu jawaban Pak Din masih abstrak buatku, belum bisa kuiyakan sepenuh hati. Masa iya sih hanya dengan membombong ide anak-anak, mereka bisa termotivasi. Sementara dalam teori pendidikan yang kupelajari perlu ada reward atau punishment sebagai dorongan belajar dan berkarya.

Kini, setelah hampir dua tahun menjadi pendamping belajar di KBQT, bisa kupahami jawaban itu. Justru saat ini yang menjadi ganjil bagiku bukan jawabannya, melainkan pertanyaannya.

Bagaimana memotivasi anak agar mereka semangat belajar dan berkarya? Mustinya dibalik; apa sih yang membuat anak-anak tidak semangat belajar? Apa yang menyebabkan mereka tidak termotivasi berkarya? Apakah subyek yang sedang mereka pelajari betul-betul disukai dan diminati?

Sebab kalau anak-anak sudah merdeka memilih apa yang yang ingin mereka pelajari dan kreasi, artinya mereka sudah termotivasi. Tak perlu lagi dorongan dari luar. Inilah yang disebut dengan motivasi intrinsik. Maka mereka akan terdorong untuk belajar dan berkarya secara alami, meskipun tanpa iming-iming reward maupun ancaman punishment sebagai motivasi ekstrinsik.

Lalu jika anak-anak sudah termotivasi dengan sendirinya, apa yang dilakukan pendamping? Betul kata Pak Din; pendamping cukup mengapresiasi segala ide yang tercetus dari anak untuk kemudian menjaga ritme semangat itu, hingga memfasilitasi proses realisasinya.

Kukira problem lemahnya semangat anak yang dihadapi guru, dosen, ustadz, atau apapun istilah pengajar bermuara dari situ. Bahwa anak-anak tidak betul-betul minat terhadap apa yang mereka pelajari. Sehingga tidak ada motivasi intrinsik dari diri mereka. Maka dibutuhkanlah segala macam tawaran reward dan ancaman punishment sebagai solusinya. Meskipun kalau boleh jujur, itu bukan solusi.

Problem semacam itu sudah dieliminasi sejak awal di KBQT. Anak-anak merdeka memilih apa yang ingin mereka pelajari, bebas menentukan karya apa yang hendak mereka buat. Tugas pendamping selanjutnya cukup mengapresiasi minat itu, me-re-movitasi, memfasilitasi proses kreasi, hingga mengapresiasi hasilnya.

Lalu bagaimana solusi untuk memotivasi anak-anak sekolah agar mereka giat belajar? Bagaimana memotivasi para mahasiswa agar semangat berkarya? Entahlah. Pastinya para guru besar dan mahasiswa pascasarjana pendidikan yang berkunjung saat itu sudah punya formulanya. Namun yang jelas, faktor keminatan khas milik masing-masing anak bukanlah hal yang tercipta untuk diseragamkan, apalagi diabaikan.

Kalibening, 31/08/2019

No comments:

Powered by Blogger.