Menebar Semangat Pendidikan Merdeka - KBQTDiary #32

@ziatuwel

Bersama kawan-kawan Al-Maliki Center di Pesantren Babakan, Tegal, aku berbagi pengalaman pendampingan di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah Salatiga. Sebuah ruang belajar alternatif yang sudah eksis sejak 16 tahun lalu.

Di acara bertajuk 'Ngasyik' alias 'Ngaji Asyik' pada Ahad 14 Juli ini aku bersanding dengan Mas Dhofier sebagai pemantik diskusi. Ia adalah guru di SD Al-Fath Bumi Serpong Damai, Tangerang, sekaligus pendiri Taman Baca Masyarakat Sahabat Senja. Banyak informasi kependidikan yang disampaikan olehnya di forum ini.


Pertama, sedikit kusampaikan sejarah perjalanan KBQT yang dimulai pada 1991 ketika Pak Ahmad Bahruddin (Pak Din) membentuk paguyuban petani Al-Barokah di kampung Kalibening, Tingkir, Salatiga. Kemudian pada 1999 dideklarasikan Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah, yang namanya disematkan oleh Pak Raymond Toruan. Serikat ini mengusung semangat kedaulatan rakyat dalam hal politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Untuk melengkapi unsur kedaulatan sosial budaya, maka perlu ada ruang pendidikan masyarakat yang merdeka dan mandiri. Plus, saat itu ada problem tidak terjangkaunya biaya sekolah bagi sebagian keluarga petani Kalibening. Keresahan ini menggerakkan Pak Din untuk menyelenggarakan pendidikan alternatif bersama warga. Maka pada 2003 lahirlah Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah, berupa SMP Terbuka.

Sebagai SMP Terbuka, sekolah alternatif ini tentu masih berupa lembaga pendidikan formal. Begitu pula dengan praktik belajarnya. Yang membedakan adalah bahwa sekolah alternatif ini mengeliminasi sekat-sekat teknis yang biasanya menghambat kreativitas anak, serta pelaksanaan pembelajaran dengan lebih ekspresif dan gembira.

Seiring perjalanan, para pengelola Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah merasa kurang merdeka dalam kaitannya dengan kurikulum belajar, maka pada 2006 sekolah formal ini berubah bentuk menjadi lembaga pendidikan nonformal dalam bentuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), dengan nama Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT).

Adanya perubahan ini diiringi perubahan praktik pembelajaran yang sama sekali berbeda. Tidak lagi ada mata pelajaran, semua obyek belajar ditentukan oleh siswa sendiri. Tidak ada guru pengajar, yang ada ialah pendamping belajar. Proses belajar berbasis musyawarah anak, dan evaluasinya berdasarkan pada karya nyata, bukan nilai ujian wawasan. Pada intinya, kusampaikan bahwa KBQT ini adalah 'sekolah sing digawe gampang', dan 'sekolah sing sekarepe dewek'.

Anak-anak di KBQT dari jenjang usia SMP-SMA terbiasa bermusyawarah. Mereka berdiskusi tentang apa yang akan mereka pelajari, bagaimana mempelajarinya, lalu evaluasi pelaksanaannya. Mereka terbiasa melakukan riset atau penelitian sederhana, belajar suatu obyek ilmu dari realita, belajar menarasikannya. Mereka terbiasa berpikir kritis, berlatih presentasi, bicara dan menyimak, serta menemukan minatnya untuk kemudian berkarya dalam bidang yang ia minati.


Menanggapi pemaparanku, Mas Dhofier menyebutkan bahwa praktik belajar di KBQT inilah yang sesuai dengan konsep pendidikan nasional gagasan Ki Hadjar Dewantara. Ia juga menyebutkan betapa sebetulnya Kurikulum 2013 (Kurtilas) sudah dirancang untuk menuju pembelajaran tematik sebagaimana yang dilakukan KBQT. Kurtilas jika betul-betul dipraktikkan dengan sesuai maka tidak ada lagi mata pelajaran di tataran siswa. Adanya mata pelajaran hanyalah di tataran guru. Anak-anak cukup dibimbing mempelajari hal-hal yang riil dan kontekstual, kemudian guru mengurai unsur-unsur pembelajarannya sesuai mata pelajaran terkait.

Namun ternyata konsep ini tidak dipahami dengan baik oleh tenaga pengajar di tingkat satuan pendidikan, apalagi dipraktikkan. Belum lagi ketidaksiapan para guru terhadap konsep integrasi ilmu dan kemerdekaan belajar siswa. Alam pendidikan kita masih dibayangi atmosfer masa lalu yang doktriner, bahkan otoriter. Serta pencacahan ilmu pengetahuan dan keperluannya untuk mencetak sekrup industri, bukan menumbuhkan sosok manusia merdeka.

Dalam sesi diskusi, banyak tanggapan menarik yang bisa kutangkap, baik dalam bentuk pertanyaan maupun sanggahan. Mas Solahudin, pegiat paguyuban tani yang kini jadi pegawai suatu inspektorat menyatakan keresahannya sebagai orang tua. Sebagai pembaca 'Pedagogy of The Oppressed'-nya Freire, juga sebagai pegiat kedaulatan petani di masa muda, ia merasa tak berdaya untuk menyelenggarakan pendidikan merdeka untuk anaknya.

Opsi yang ada hanyalah sekolah formal dengan gaya belajar mainstream yang konvensional, membebani anak dengan 'beban belajar' dan melelahkan. Sementara dia sendiri tak punya energi untuk membangun ruang belajar mandiri, juga tak punya cukup keberanian untuk 'bunuh diri kelas' sebagaimana dilakukan Pak Din saat mendirikan Qaryah Thayyibah.

Mas Dhofier menanggapi dengan mencurahkan keresahan yang sama. Salah satu ciri produk gaya pendidikan konvensional lama, katanya, adalah ketidakberanian bertindak, tidak kreatif, dan selalu ketemu jalan buntu. Mustinya kita berani membuka jalan baru, opsi baru, jika memang tujuannya adalah demi pendidikan anak-anak kita. Namun, tambahku, jika memang opsi baru itu tak mampu diupayakan maka yang perlu dilakukan sebagai orang tua adalah menetralisir polusi pendidikan yang anak hirup.

Kalau di luar anak kita dibiasakan seragam dalam berpikir, maka di rumah kita biasakan berdiskusi dan ngobrol dialogis. Kalau di luar anak kita terlalu dibebani dengan tumpukan mata pelajaran, PR, dan tuntutan akademik, maka kita jangan menambahinya dengan tekanan-tekanan egois, justru orang tua bertugas menciptakan suasana rileks untuk anak. Kalau di luar anak kita tidak dibimbing mengenali potensi dirinya, maka itulah tugas kita. Intinya, bagaimana kita mempraktikkan prinsip-prinsip belajar merdeka di rumah dengan anak-anak kita.

Sebenarnya dalam teori pendidikan anak, semestinya orang tua dan guru bisa berkolaborasi. Ada komunikasi intensif antara dua pihak, serta melibatkan anak secara aktif dalam proses tersebut. Tak ada istilah 'pasrah bongkokan', dan tidak menjadikan anak sekedar sebagai objek pasif. Sebagai pendamping belajar di KBQT, aku selalu berkomunikasi dengan para wali murid dari sembilan anak yang kudampingi. Mengenai perkembangan mereka, masalah mereka, keluhan mereka, dan tentu saja karya mereka.

Mas Aziz, seorang perintis komunitas pemberdayaan anak-anak muda, menanyakan tips pendampingan agar anggota dampingan bisa sukses sesuai dengan harapan. Kucontohkan bagaimana Pak Din mengorbankan waktu dan energinya secara total kepada anak-anak. Begitu telaten mengompilasi karya-karya anak, membukukannya, bahkan membawanya ke seminar-seminar untuk dijual. Semangat ini yang ditularkan kepada para pendamping di KBQT hingga kini.

Prinsip dasar pendampingan adalah kerelawanan untuk memotivasi, memfasilitasi, dan mengapresiasi. Pendamping tak perlu mematok target muluk-muluk agar anak dampingan jadi ini jadi itu. Tak perlu memberatkan diri semacam itu. Cukup menjalani tiga proses pendampingan dengan optimal dengan sumber daya seadanya.

Mas Falah, ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia wilayah Tegal, mendorong agar semabgat kerelawanan, pendampingan, serta pembelajaran merdeka ala KBQT bisa ditularkan di Tegal. Syukur kalau bisa menggelar komunitas belajar serupa di sini. Menanggapi hal ini, kusambut dengan kata 'amin'. Namun kutegaskan pula bahwa untuk mempraktikkan model pendampingan dan pembelajaran merdeka tak harus membuat komunitas khusus. Prinsip dan ruhnya bisa diterapkan di manapun, baik lembaga formal, nonformal, maupun informal, bahkan lingkup terkecil berupa keluarga. Asalkan kita betul-betul paham terhadap konsep pendampingan yang memotivasi, memfasilitasi, dan mengapresiasi. Serta memahami betul konsep pembelajaran yang memerdekakan, kontekstual, kolaboratif, dan gembira.

Termasuk dalam hal ini adalah lingkungan pesantren yang dikenal sebagai lingkungan indoktrinasi. Pesantren merupakan lingkungan yang sangat cocok untuk proses pendampingan dan pembelajaran merdeka. Sebab warga pesantren terbiasa dengan sorogan, musyawarah, dan berkomunitas. Dalam hal ini Mas Dani penasaran bagaimana agar santri sepertinya bisa 'selevel' dengan kawan-kawan mahasiswa tanpa harus kuliah. Maka kujawab saja; ya cukup dengan sering-sering riset mandiri dan diskusi semacam ini. Apalagi jika di pesantren ada potensi-potensi pembelajaran kontekstual dan vokasional.

Hal ini ditegaskan oleh Mas Ersal, akademisi lulusan metalurgi ITS, bahwa tidak perlu ada antagonisasi peran. Bahwa lembaga formal itu penuh racun sedangkan lembaga nonformal adalah dewa. Sebab di lingkungan formal pun punya potensi yang sangat baik jika orang-orang yang berkecimpung di dalamnya tercerahkan. Jadi memang perbaikan pendidikan ini yang utama dalah sumber daya manusianya.

Aku sepakat. Buang jauh-jauh bayangan versus antara lembaga formal dan nonformal. Atau menganggap semata-mata pendidikan alternatif adalah perlawanan terhadap sistem mainstream. Tidak, alternatif ya alternatif, posisinya adalah menjadi 'pilihan lain'. Bisa jadi yang alternatif ini sebab molak-maliknya jaman berubah menjadi mainstream, dan sebalikmya. Saat ini Pak Din menjadi anggota badan akreditasi pusat untuk satuan pendidikan nonformal. Instrumen akreditasi sudah melalui reformasi yang signifikan dengan lebih memperhatikan performa daripada sekedar kelengkapan administratif. Reformasi semacam ini bisa saja menular ke lingkungan pendidikan formal entah kapan waktunya.

Terakhir, dilengkapi oleh Mas Haryo, alumni terbaik psikologi yang pernah bekerja di Pertamina dan kini malah menekuni perdalangan. Bahwa lembaga pendidikan apapun, baik formal maupun nonformal, hanya salah satu ruang kelas kecil dalam universitas kehidupan. Proses belajar sesungguhnya adalah ketika kita sudah tidak di bangku sekolahan lagi. Pembelajaran sepanjang hayat adalah mottonya. Penyampaiannya ini mengingatkanku pada wejangan Gus Miek, bahwa hidup ini sejak lahir hingga mati adalah kuliah tanpa bangku. Juga terngiang kembali ujaran Rumi, bahwa "Salatku setelah salam, puasaku setelah berbuka."

__
Tuwel, Selasa 16 Juli 2019

No comments:

Powered by Blogger.