Bulan Apit Bulan Rekonsiliasi

Oleh: @ziatuwel

Biasanya, sesuatu yang diapit hal-hal besar akan luput dari perhatian. Misalnya bulan Dzulqa'dah, ia kerap luput dari perbincangan orang, sebab diapit dua momen besar umat Islam: Idul Fitri dan Idul Adha. Padahal bulan Dzulqa'dah yang disebut orang Jawa dengan nama Apit ini punya banyak catatan historis yang patut diangkat. Entah dalam khotbah jumatan di mimbar-mimbar, materi ceramah di pengajian-pengajian, di lingkar-lingkar diskusi mendalam, atau sekedar obrolan santai angkringan.

Di bulan Dzulqa'dah inilah terjadi momen ditinggikannya pondasi-pondasi Ka'bah oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Isma'il. Ka'bah yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam hancur sebab banjir di masa Nabi Nuh, tak ada yang tersisa selain bekas-bekas pondasinya. Di masa Nabi Ibrahim inilah Ka'bah kembali dibangun sebagai punjer peribadatan umat manusia kepada Tuhan. Tentu saja bukan tugas enteng membangun kembali 'Rumah Tuhan' dari reruntuhan, hanya berdua.

Pengabdian keduanya diiringi doa yang di kemudian hari dikabulkan Tuhan. Mereka memohon agar anak keturunannya menjadi kaum yang berserah diri kepada Allah, serta agar dikaruniai utusan yang membimbing kehidupan mereka. Maka terjadilah, anak turun Nabi Ibrahim banyak yang diangkat menjadi nabi sehingga ia dijuluki sebagai 'Bapak Para Nabi'. Sedangkan bintangnya adalah pamungkas para nabi, Baginda Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Di bulan Dzulqa'dah ini pula Allah Ta'ala mengundang Nabi Musa alaihissalam ke gunung Sinai. Beliau meninggalkan umatnya yang masih sangat labil bersama Nabi Harun, dan berjanji akan pulang setelah tiga puluh hari. Namun ternyata molor, sebulan lebih Nabi Musa tak jua kembali. Sehingga muncullah gonjang-ganjing di antara mereka, Samiri bikin goro-goro dengan memunculkan patung anak sapi sebagai sesembahan baru.

Sebagai pemimpin badal, Nabi Harun tak gegabah mengambil tindakan. Beliau peringatkan mereka yang melenceng, namun tak bertindak lebih jauh, setia menunggu Nabi Musa kembali meski tanpa kepastian kabar. Begitu Nabi Musa turun gunung membawa 'Sepuluh Perintah Tuhan', beliau muntab. Sampai-sampai beliau mencengkeram jenggot Nabi Harun, menagih pertanggungjawaban. Mengapa kau tak menyusulku dan melaporkannya padaku? Demikian tagih Nabi Musa.

Nabi Harun menjelaskan mengapa beliau tak melakukannya. Pertama, jika beliau tinggalkan kaum yang lagi gonjang-ganjing itu, resikonya bisa terjadi penyelewengan yang lebih parah. Bagaimana bisa meninggalkan umat tanpa pemimpin. Kedua, beliau tetap tinggal untuk meredam gejolak, sebab potensi perpecahannya luar biasa antara kaum yang masih waras dan golongan yang terhasut Samiri. Nabi Musa pun memaafkan, memaklumi, dan menerima alasan itu.

Momen ini menjadi gambaran bagaimana seorang pemimpin berupaya sebisa mungkin menjaga kondusivitas kaumnya. Nabi Harun mempertaruhkan dirinya, pasang badan di hadapan kaumnya, sekaligus pasang badan juga di hadapan Nabi Musa. Mungkin kisah ini bisa jadi pondasi rekonsiliasi kebangsaan, suatu hal yang lebih penting dibanding egoisme sektarian dan klaim benar-salah.

قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي ۖ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

Last but not the least. Di bulan Dzulqa'dah ini terjadi peristiwa penting dalam peradaban sosial manusia, yakni Suluh Hudaibiyah antara kaum muslimin di Madinah dan orang-orang Mekah. Momen ini terjadi di tahun keenam setelah hijrah. Kita semua tahu bahwa secara teknis perjanjian damai Hudaibiyah dipandang justru merugikan kaum muslimin. Sejak pertama kali penandatanganan suluh itu pun kerap membuat geram umat Islam.

Beberapa insiden pun terjadi setelah suluh tersebut. Namun Rasulullah menenangkan kaum muslimin untuk tetap patuh terhadap perjanjian damai yang dibuat. Tak sampai di situ, bahkan Allah Ta'ala mewahyukan bahwa perjanjian damai ini menjadi titik tolak kemenangan umat Islam di kemudian hari.

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُبِينًا لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

Dzulqa'dah sendiri disebut demikian sebab di bulan ini orang Arab 'duduk' (qa'd) atau menahan diri dari pertikaian dan peperangan karena bersiap-siap menunaikan haji. Sehingga bulan ini menjadi awal dari tiga bulan haram yang berurutan; Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Satu bulan haram lainnya terpencar, yakni Rajab. Empat bulan ini dimuliakan bangsa Arab dari pertikaian yang sudah jadi karakter mereka, dan permulaannya adalah Dzulqa'dah.

Peristiwa-peristiwa sejarah ini menegaskan bahwa Dzulqa'dah adalah bulan rekonsiliasi, bulan pengokohan perdamaian. Baik di antara satu golongan maupun lintas golongan. Terutama perdamaian dalam kerangka berbangsa. Entah kebetulan atau bukan, ribuan tahun setelah momen Harun dan Musa, belasan abad setelah momen Hudaibiyah, terjadilah rekonsiliasi politik di suatu negeri setelah terpecah belah menjadi kubu cebong dan kampret. Wallahu a'lam wa ahkam.

____
Tuwel, Kemis 15 Apit 1440

No comments:

Powered by Blogger.