Mendampingi Ngaji Quran

@ziatuwel

Tahun ini aku kebagian jatah dua kelas di madrasah. Pelajaran Quran untuk kelas satu tsanawi di malam Senin, dan pelajaran dasar-dasar Islam untuk kelas enam ibtida' di malam Rabu. Malam-malam lainnya kumanfaatkan untuk setoran hapalan Quran kepada Mbah Yasin, dan ingin kumanfaatkan juga untuk ikut masuk kelas Pak Ahmad, ngaji Qawaid Fiqh malam Kamis.

Sore harinya, sebagaimana tahun sebelumnya, setelah pengajian tafsir Pakde Yai Abda bakda Ashar, aku mendampingi sorogan Quran binnazhri para santri di masjid. Ada tiga titik sorogan tiap sore itu; pojok Mbah Yasin, pojok Pak Rohan, dan pojokku. Tiga orang ini didawuhi langsung oleh Pakde Yai untuk mendampingi sorogan Quran sejak tahun lalu.


Kegiatan rutin tiap sore ini betul-betul kuprioritaskan, kuniati khidmah lil Quran. Juga sebagai sarana nderes sekaligus penyegaran jiwa. Boleh dikata; kegiatan kerja mengais rupiah bukanlah agenda utama hidupku saat ini, itu semua hanya sarana agar aku bisa tenang saat menjalani kegiatan utama; yang tak lain adalah ngaji. Juga menjadi semacam 'penebus dosa' malas ngaji saat mondok dulu.

Tiap kali menyimak bacaan Quran teman-teman santri, terbayang di benakku bagaimana sorogan semacam ini sudah berlangsung belasan abad sejak zaman Baginda Nabi Muhammad. Terutama ketika masa awal beliau membangun peradaban baru di Madinah.

Sejak hijrah ke Madinah, Rasulullah menggelar ruang belajar umum untuk para sahabat di samping masjid, disebut suffah. Ada sekitar sembilan ratus sahabat yang menjadi 'santri mukim' di sana, mereka disebut ahlussuffah. Di tempat inilah Rasulullah menjadi guru pertama pengajian Quran dalam peradaban umat manusia. Tentu saja cara mengajinya berbeda. Selain pengajian Quran yang sesuai dengan kronologi pewahyuan, masa itu juga belum ada mushaf.

Pengajian Quran sepenuhnya dilakukan dengan metode hapalan (bilhifzhi). Ada pula para sahabat yang mencatat ayat-ayat di batu, kayu, kulit, atau tulang. Namun memang keperluannya untuk dihapal kemudian. Pembukuan Quran berupa mushaf baru dimulai pada masa Khalifah Abu Bakar, kemudian dibakukan ejaannya (rasm) sesuai dialek Quraisy pada masa Khalifah Utsman oleh dua belas anggota tim yang dipimpin Zaid bin Tsabit. Mushaf inilah yang menjadi pusaka umat Islam dari masa ke masa, menjadi pegangan pengajian Quran dari masa para sahabat hingga masa para santri di pojok masjid Kalibening.

Membayangkan rantaian sejarah emas ini sambil menyimak bacaan santri, selalu membuat hatiku trenyuh. Aku tertakdir menjadi semut kecil dalam semesta tradisi agung pengajian Quran. Suatu bentuk pengajian yang sangat tua, bahkan paling tua bila dibandingkan bentuk pengajian kitab. Suatu bentuk pengajian yang nampaknya sepele, namun menjadi urat nadi pendidikan Islam dari zaman ke zaman.

Akupun lantas terkenang para guru Quranku sejak belia. Ibuku sendiri, para ustadzah TPQ Bustanul Khoirot, pamanku Ustadz Ghozi, guruku Kiai Najib Krapyak, para ustadz di Madrasah Huffadz Krapyak; Ustadz Jamal, Ustadz As'ad, Ustadz Jalil, dan kini Mbah Kiai Yasin. Dalam suasana semacam ini, terkenang tradisi luhur ini, yang bisa kulakukan hanya mengecup mushaf sambil melayangkan Fatihah untuk para rantai Quran itu.

Semua anak di kelas satu tsanawi mengaji Quran tiap sore kepadaku. Maka pelajaran Quran tiap malam Senin kami manfaatkan untuk talaqqi juz 'Amma. Yakni aku membaca dengan tahqiq (penekanan makhraj), kemudian anak-anak menirukan bacaan tersebut. Sambil kuimbuhi keterangan-keterangan berkaitan dengan tajwid dan gharib. Agar tidak membosankan, kutambahi juga dengan cerita-cerita yang berkaitan dengan Quran.

Seringnya kukisahkan tentang interaksi para kiai dengan Quran, kisah keampuhan riyadhah Quran, atau kisah-kisah lain mengenai Quran yang banyak bertebaran di kitab-kitab semacam Tibyan atau Ihya. Tujuanku hanya satu; memupuk kecintaan kami kepada Quran. Namun kupikir perlu juga kusampaikan kisah-kisah yang memang sudah tercantum di dalam Quran itu sendiri.

Maka aku mulai mencari referensi. Sayangnya, dengan sempitnya wawasanku, belum kutemukan ada kitab karya ulama salaf yang khusus membahas kisah-kisah dalam Quran. Selama ngaji pasanan di beberapa pesantren pun aku belum menangi ada pengajian kitab dengan tema itu. Kalau kitab kontemporer memang banyak, seperti tujuh ratus halaman Qishash al-Quran al-Karim karya Fadhl Hasan Abbas Yordania, atau lima ratus halaman Qishash al-Quran Uzhat wa 'Ibar karya Said Abdul 'Azhim.

Namun yang kucari adalah kitab ringkas saja, bukan yang rinci dan tebal semacam dua kitab kontemporer itu. Sekedar 'matan' saja, untuk kubaca bersama anak-anak. Sebab mereka sangat antusias dengan cerita, tapi memang aku musti paham bagaimana menyarikan pesan kisah tersebut agar bisa diterima. Sehingga pemahaman anak-anak tidak ambigu, atau justru menimbulkan keraguan terhadap kisah-kisah di dalam Quran. Semisal kisah perjalanan Nabi Musa dan Khidir, atau kisah tentang Harut dan Marut yang menjadi guru sihir.

Setidaknya ada 30 kisah di dalam Quran yang bisa dibicarakan. Seperti kisah Bal'am, Thalut, Habib an-Najjar, Barshisho, Ashabul Kahfi, Samiri, Dzulqarnain, dan tentu saja kisah-kisah dramatik para nabi. Satu kali pertemuan cukup untuk mengisahkan satu cerita, plus penggalian bersama terhadap pelajaran di dalamnya. Kisah-kisah dan petikan pelajaran semacam ini akan lebih menancap di benak anak-anak hingga mereka kelak dewasa. Dan pesan Quranpun tersampaikan dengan baik sesuai kondisi kejiwaan mereka.

___
Kalibening, Jumat 28 Juni 2019

No comments:

Powered by Blogger.