Oleh-oleh dari Maulid 1422/2020

07:49

@ziatuwel


Sejak awal masuk bulan Mulud, hawa bungah semerbak di seantero kampungku. Sebagaimana umumnya kampung-kampung warga NU. Sejak awal muludan itu pula aku terbayang-bayang satu gambaran.

Yakni gambar lambang terompah Nabi yang tertera lafal shalawat di tengahnya. Maka seusai muludan coba kuorat-oret bayangan itu di atas kertas. Jadilah logo-logo ini; lambang terompah Nabi bertulis shalawat rahmat (shalla Allahu 'ala Muhammad)

Di langgar kaum kami, jamaah pria membaca kitab maulid selepas maghrib. Kami membaca tiga naskah yang sudah masyhur. Yaitu Diba, Barzanji, dan Burdah secara bergiliran. Kami pakai kitab majmuk maulid cetakan Alwah Semarang yang legendaris itu. Namun kurasa penggunaan kitab itu kurang praktis. Sebab terlalu banyak isinya yang tak dibaca.


Maka masuk malam ketiga muludan, kubuat satu kitab khusus yang merangkum tiga naskah maulid yang kami baca; Diba, Barzanji, Burdah. Ditambah beberapa kasidah yang selalu ditembangkan semisal Assalamu Alaika, Ya Nabi, Thala'al Badru, dan Shalawat Badar.

Masuk malam ke delapan, digelar 'takwinan'. Jamaah muludan membawa berbagai jenis hasil bumi dan bebuahan ke langgar. Semacam selamatan menyambut kelahiran si jabang bayi. Dalam hal ini adalah Baginda Nabi Muhammad.


Di malam takwinan itu, pas mahallul qiyam, kok terbersit di benakku judul 'Maulid Jawi'. Usai qiyam, kubolak-balik kitab majmuk maulid berbahasa Arab yang kupegang. Lalu malam itu mulai kutulis naskah maulid berbahasa Jawa.


Selanjutnya kutulis naskah ini tiap jelang fajar, kulanjutkan bakda subuh sampai waktu dluha. Kurasakan begitu mudahnya proses penulisan itu, hingga tuntas empat hari kemudian. Tepat di waktu dluha hari Kamis tanggal 12 Mulud 1442. Kububuhi judul sebagaimana terbersit saat takwinan; Maulid Jawi.


Aku bukan ahli hadits dan siroh, tak pula mahir sastra dan budaya Jawa. Aku hanya menuruti gerak pena saja. Maka secara bahasa aku hanya menumpahkan apa yang kutahu dalam bahasa Jawa ala apsahan santri. Sedangkan secara isi aku hanya menerjemahkan saja.


Sumber penulisan kuambil dari naskah-naskah maulid para imam. Yakni Syaraful Anam-nya Imam Ahmad al-Hariri, Iqdul Jawhar-nya Imam Ja'far al-Barzanji, Mukhtashar-nya Imam Abdurrahman ad-Diba'i, Burdah-nya Imam Muhammad al-Bushiri, Simthud Duror-nya Imam Ali al-Habsyi, dan Dhiyaul Lami'-nya Habib Umar bin Hafizh.

Maulid Jawi ini total berisi 16 pasal pendek-pendek. Yakni;


1. Salam Pambuka

2. Perentah Solawat

3. Solawat Ya Robbi

4. Akidah Kita

5. Nasabe Kanjeng Nabi

6. Solawat Ya Rosulalloh

7. Parase Kanjeng Nabi

8. Akhlake Kanjeng Nabi

9. Laire Kanjeng Nabi

10. Mahallul Qiyam

11. Dakwahe Kanjeng Nabi

12. Isro Mi'roje Kanjeng Nabi

13. Hijrohe Kanjeng Nabi

14. Tresnane Kanjeng Nabi

15. Solawat Maulaya

16. Donga


Naskah ini kutulis tangan dengan aksara pegon sebisanya. Tulisanku tak sebagus para santri lain, apalagi para khattat. Kutuliskan seadanya sekadar agar bisa dibaca sendiri.


Maulid Jawi ini kubaca perdana di langgar Baitul Atiq Tuwel, sendirian, Jumat 13 Mulud, bakda Ashar. Akan kuperbanyak untuk koleksi pribadi, juga kuhadiahkan buat sahabat-sahabat.


Aku teringat cerita istri. Dulu neneknya, Mbah Nyai Miskiyah, kerap menerjemahkan isi kitab maulid secara Jawa dalam acara muludan ibu-ibu. Tradisi ini kemudian berlanjut di lingkungan santri Kalibening. Saat pembacaan maulid Diba, ada satu pasal yang kemudian dibaca terjemahannya dengan makna gandul. Sebagai ikhtiar memahamkan isi kitab maulid Nabi.


Nah, semangat Maulid Jawi itu satu frekuensi dengan tradisi tersebut. Agar ruh muludan berupa mahabbah kepada Kanjeng Nabi bisa makin terpupuk. Minimal untuk si penulisnya sendiri, serta keluarga, dan anak-anaknya.


...

minangka angin ingkang sumilir

yaiku sipat lomane nabi

minangka kembang wangi gandhane

yaiku sipat akhlake nabi

...


Tuwel, 14 Mulud 1442 / 30 Oktober 2020

No comments:

Powered by Blogger.