Sesuai Kebutuhan Masyarakat - KBQTDiary #52

 @ziatuwel


Saat berbagi kisah tentang KBQT secara daring dengan teman-teman dari Lombok kemarin, kusadari satu hal. Tentang perubahan bentuk Qaryah Thayyibah yang sangat dinamis. Selalu berubah sesuai kebutuhan masyarakat.


Awalnya QT muncul sebagai sekolah formal terbuka. Sebagai jawaban atas problem rakyat sekitarnya saat itu. Yakni mahalnya biaya pendidikan di sekolah berkualitas. Itupun musti ke kota. Maka Pak Din dan kawan-kawan menjawab masalah itu. Ia membuka sekolah murah meriah yang berkualitas di desa sendiri.


Berupa sekolah menengah terbuka yang mapelnya sama seperti sekolah lain. Tapi lebih intensif, fokus, dan asyik. Masuk jam 6 pagi, pulang sore. Akses internet gratis seharian. Ada kelas inggris tiap pagi, sarapan, plus cicilan komputer tiap anak.


Hasilnya, dalam rentang 2-3 tahun anak-anak sekolah terbuka ini sanggup menorehkan karya-karya prestisius. Tak sekedar lulus dan dapat ijasah. Pokoknya tak kalah dengan sekolah-sekolah favorit di zamannya.


Satu windu berjalan, QT menemukan bentuk barunya. Anak-anak sudah menemukan pola belajar merdeka mereka sendiri. Tak mau berseragam tiap hari. Tak perlu mapel ala sekolahan. Tak harus ikut ujian nasional bagi yang tak mau.


Maka QT bermetamorfosa sesuai kebutuhan anak. Dari sekolah formal terbuka menjadi komunitas belajar yang relatif lebih merdeka. Saat pertama muncul ia menjawab kebutuhan masyarakat. Saat sudah tumbuh ia menjawab kebutuhan para penghuninya.


Dengan bentuk komunitas belajar ini, QT jadi jauh lebih lentur. Ia bisa menentukan kurikulumnya sendiri, model pembelajarannya, hingga kebijakan-kebijakan teknisnya. Sesuai dengan kebutuhan anak-anak dan kesepakatan mereka bersama para pendamping belajar.


Perubahan bentuk ini tentu ada konsekuensinya. Jika dahulu animo masyarakat sekitar begitu tinggi, kini tidak lagi. Jika dulu siswa sekokah terbuka ini bisa sampai ratusan, kini tidak lagi.


Masyarakat sudah tak kuatir beban biaya sekolah. Di Qaryah Thayyibah dianggap bukan sekolah sebab tidak ada mata pelajaran, juga dianggap tidak jelas sebab tak wajib tes dan ujian. Artinya, kalau anak-anak mereka belajar di Qaryah Thayyibah, sama saja tidak sekolah.


Orang-orang yang tertarik dengan proses belajar di Qaryah Thayyibah justru dari luar kampung, bahkan luar kota. Mereka yang punya pandangan yang sama tentang kemerdekaan belajar. Rombongan tamu kunjungan, orang penasaran, akademisi penelitian, atau undangan seminar, hingga hari ini tak pernah sepi.


Kebutuhan terhadap Qaryah Thayyibah bukan lagi dari warga sekitar, melainkan siapapun di luar sana yang mencari oase pendidikan manusiawi. Meskipun tentu saja Qaryah Thayyibah bukan satu-satunya. Ada banyak oase semacam ini bertebaran di berbagai daerah di Indonesia.


Sampai kapan bentuk Qaryah Thayyibah sebagai komunitas belajar akan bertahan? Tak tahu. Sekilas, Pak Din pernah mengatakan kemungkinan evolusi ke bentuk yang baru.


Ke depan, menurutnya, pola pendidikan bakal lebih mengarah pada penguasaan skill. Penggalian ilmu akan kembali pada praktik dan pengalaman. Pendidikan karakter kembali bermuara pada keteladanan di tengah keluarga.


Dunia nyata di masa depan tidak akan begitu mementingkan formalitas. Masyarakat akan lebih membutuhkan lembaga yang membekali anak-anak dengan kecakapan. Baik kecakapan intelektual, karakter personal, maupun profesional.


Qaryah Thayyibah yang dahulu berupa sekolah terbuka, kemudian berubah jadi komunitas belajar, mungkin saja akan berkembang menjadi bentuk baru. Berkali-kali kudengar Pak Din menyebut istilah bagi bentuk baru itu, yakni; 'sanggar kreatif'.


Apa bedanya dengan komunitas belajar? Di sanggar kreatif kegiatannya lebih fokus, dan pesertanya lebih luas. Misalnya, sanggar kreatif bidang film, kegiatannya fokus dalam proses belajar dan membuat film. Pesertanya bisa siapapun, termasuk anak-anak sekolah.


Apa bedanya dengan lembaga kursus atau les-lesan? Proyeksi sanggar kreatif ini adalah pada karya. Bukan sekedar pengetahuan, wawasan, atau sertifikat. Bidang film yang menghasilkan sinema, bidang literasi yang menghasilkan tulisan, bidang gambar yang menghasilkan pameran.


Sepertinya Pak Din sudah memikirkan bentuk baru ini sejak lama. Tapi kesibukannya sebagai tokoh sosial menghambatnya mewujudkan ide itu. Saat ini, perwujudan ruang belajar ala 'sanggar kreatif' justru sudah diselenggarakan di pesantren-pesantren. Yakni berupa Balai Latihan Kerja (BLK).


Pak Din mengapresiasi adanya BLK di pesantren-pesantren. Sebagai pembekal dan pengasah skill bagi santri-santri, sesuai keminatan dan kemampuan. Bagi pesantren yang enggan membuat sekolah sebab kuatir menambah beban kurikulum, tapi tetap ingin membekali santri untuk menghadapi tantangan zaman, maka BLK bisa jadi solusinya.


Sebenarnya, model 'sanggar kreatif' ini sudah berlangsung di Qaryah Thayyibah sejak lama. Yakni berupa forum-forum minat sesuai kesepakatan anak. Saat ini ada forum film, forum sanggar, forum literasi, forum gambar, dan forum english. Forum sains-tekno dan forum tanam pernah ada, tapi kini vakum.


Maunya Pak Din, forum-forum minat ini lebih digenjot lagi. Sehingga anak-anak bisa lebih produktif berkreasi. Karya-karya mereka otomatis menjadi bukti hasil belajar dan branding bagi masyarakat.


Selanjutnya, forum-forum itu bisa membuka kesempatan bagi anak-anak sekolah formal untuk ikut bergabung. Pesertanya tak sebatas anak-anak Qaryah Thayyibah. Jika proses tersebut sudah terwujud, maka jadilah Sanggar Kreatif Qaryah Thayyibah.


Mewakili Pak Din, ide ini pernah kusampaikan langsung kepada walikota dan kepala dinas pendidikan kota Salatiga. Agar pemkot bisa memfasilitasi sanggar kreatif yang berbeda-beda di setiap kelurahan.


Saat itu ide sanggar kreatif ini cukup disambut baik. Sebab bisa memadukan dan mengkompromikan antara pendidikan formal dan nonformal. Namun belum sempat menindaklanjuti, pemkot sudah disibukkan oleh pandemi.


Ya, bagaimana bentuk Qaryah Thayyibah esok nanti, sesuai kebutuhan saja.



__

Tuwel, 12 September 2020

No comments:

Powered by Blogger.