Melengkapi, Bukan Menyaingi - KBQTDiary #53

@ziatuwel


Tiap kali ada tamu datang, selalu saja muncul pertanyaan: apa yang membedakan KBQT dengan sekolah formal? Pertanyaan semacam ini masih bisa kujawab.


Tapi kalau sudah pada pertanyaan: apa keunggulan KBQT dibanding sekolah formal? Jujur saja kami enggan menjawab. Sebagai praktisi pendidikan alternatif, kami tidak familiar dengan konsep unggul-unggulan, saing-saingan.


Sejak bergabung jadi pendamping belajar di KBQT beberapa tahun lalu, kusadari satu hal mendasar. Bahwa semua model pendidikan berfungsi saling melengkapi satu sama lain. Bukan menyaingi.


Adanya komunitas belajar, sanggar, taman baca, atau ruang belajar alternatif apapun bentuknya bersifat melengkapi. Sebagai pelengkap bagi praktik belajar formal mainstream yang sudah ada.


Bukan sebagai pesaing, apalagi musuh. Jika semangatnya untuk menyaingi, mengungguli, apalagi memusuhi, jelas sudah menciderai falsafah ke-alternatif-an sejak awal.


Ruang belajar alternatif selalu muncul dari keresahan. Tumbuh dari kesadaran atas adanya masalah. Sehingga berupaya menawarkan solusi di luar arus utama. Bukan melawan arus. Melainkan membuat arus sendiri, yang lebih merdeka.


Di sekolah formal, anak-anak begitu terbebani mata pelajaran beragam rupa. Maka komunitas belajar mencoba merilekskannya. Di lembaga mainstream, anak-anak terkekang penyeragaman, tak leluasa belajar sesuai minatnya. Maka sanggar belajar menawarkan pelampiasan kreativitasnya. Kritis dan solutif.


Hari ini, masyarakat lebih leluasa memilih lembaga pendidikan. Ada sekolah formal, ada sekolah alam, ada sekolah rumah, ada sekolah bakat. Ada pesantren salaf, ada pesantren modern, ada pesantren vokasi. Ada komunitas belajar, ada sanggar seni, ada lembaga kursus dan les.


Semuanya menjadi opsi alternatif, sekaligus saling melengkapi. Pak Din malah menyebut KBQT -dan semisalnya- bukan sekedar 'pelengkap', tapi 'penyempurna' bagi praktik pendidikan yang sudah ada.


Bahkan Pak Din mengajarkan praktik 'kezuhudan lembaga pendidikan'. Ia tak mau KBQT membuka cabang untuk 'memperbesar diri'. Menurutnya, tiap tempat punya karakter dan keistimewaannya masing-masing.


Cara belajar ala KBQT mungkin bisa dijadikan inspirasi, tapi tak bisa langsung dikopas. Semangat kemerdekaan belajar realistisnya bisa ditiru. Pola pendampingan kreatifnya bisa diterapkan. Tapi teknis, nama, hingga pengelolaannya jelas harus mandiri.


Jangan sampai, lembaga pendidikan alternatif sekadar gegap gempita. Hanya meniru tren dan tak berjiwa. Apalagi bermotif menyaingi dan memusuhi sekitarnya. Justru ia harus tumbuh dari jawaban atas masalah di sekitarnya. Sebagai pelengkap dan penyempurna.


Tuwel, 12 September 2020



No comments:

Powered by Blogger.