Budaya Instan Kita

21:23

Beberapa waktu lalu sempat beredar video nyentrik. Seorang pria berpakaian ala Timur Tengah, berjenggot lebat, congklang, menggendong ransel dan menaiki seekor keledai. Yang bikin aneh adalah karena adegan itu terjadi di tengah kota. Dia berkeledai di trotoar, tepat mengiringi arus mobil yang sedang merayap.


Entah kenapa, video ini kemudian menjadi bahan cemoohan kepada kaum salafi-wahabi. Konon, pria dalam video itu adalah orang salafi yang ingin hidup sebagaimana di zaman Rasulullah, makanya dia pakai keledai, nggak mau naik gojek apalagi uber.


Maka meledaklah tawa netizen yang mencemooh cara berpikir sempit si pria. Dibuatlah berbagai macam narasi hingga meme ejekan. Kemudian bergulirlah debat abadi sepanjang zaman antara salafi dan aswaja. Lempar panah hujatan dan pasang tameng dalil. Yaa seperti biasanya.


Sejak pertama menonton video itu, saya ragu kalau si pria seperti yang dinarasikan para pembully. Saya kira, itu hanya video parodi, sindiran, atau semacamnya. Tentu musti dilacak lagi sumbernya dari mana, dan siapa pengunggahnya. Lagipula, saya melihat teman-teman yang berpaham salafi nggak segitunya banget deh.


Tapi bukan itu yang jadi fokus. Bukan tentang perdebatan perihal kaffah, sunnah, bid'ah, dan sepersaudaraannya. Sama sekali saya tak tertarik dengan debat seperti zaman SMA dahulu, apalagi sekedar eyel-eyelan. Luweh. Ada satu hal menarik yang terbersit ketika menonton video itu.


Kita sedang mengalami hidup di zaman dengan budaya instan. Lima tahun lalu saya tak kepikiran ada usaha laundry di kampung. Kalaupun ada, mana laris. Eh nyatanya sekarang ada dan laris manis! Apalagi di kota semacam Jogja. Di Krapyak ini, tiap 50 meter ada jasa cuci baju, penuh semua. Orang-orang semakin banyak yang butuh kepraktisan, instan, nggak repot, biarpun bayar.


Contoh lain. Hari ini kita enggan jalan kaki kalau sudah lebih dari satu kilometer. Bahkan anak muda sekalipun. Beli kecap di warung yang nyebrang jalan dikit, naik motor. Antar jajan ke kerabat beda dusun, naik motor. Santri komplek Huffadh mau ke ATM, atau sekedar cari lauk, naik motor. Padahal di masa-masa lampau, kita pernah merasakan berangkat nyawah jalan kaki, pulang-pergi sekolah jalan kaki, kondangan kampung sebelah jalan kaki, bahkan dolan ke Guci (jarak Tuwel-Guci 5km dengan kemiringan naik 45 derajat) juga jalan kaki bolak-balik.


Maka jadilah kita generasi kurang gerak. Hanya bergerak saat pelajaran olahraga seminggu sekali di sekolah. Atau senam di balai desa, atau Car Free Day di Malioboro. Lalu jadilah olahraga sebagai kebutuhan, kemudian kita formalkan olahraga dengan ruang dan waktu khusus. Orang dahulu nggak begitu butuh olahraga yang diformalkan seperti kita. Lha wong keseharian mereka sudah penuh dengan gerak badan.


Memang segala macam sarana itu kita butuhkan. Penting. Tapi sayangnya, justru kita terlena sehingga malah terjebak gaya hidup instan. Masalahnya, hal ini tak berhenti pada sekedar urusan laundry dan jalan kaki.


Kultur instan merambah pada berbagai macam pola pikir dan tindakan. Mulai dari kultur suap yang mengakar, corak abege yang makin genit, penyelesaian masalah dengan tawuran, kebijakan hitam putih tanpa pertimbangan manusiawi, penggandaan fulus biar cepat kaya, hingga maraknya agamawan ngrakoti nanas tanpa dikupas.


Semua itu, saya kira, banyak dipengaruhi oleh kebiasaan instanisasi kegiatan sehari-hari. Maunya cepat sampai, cepat sukses, cepat sembuh, grusa-grusu. Bahkan momen makan pun tak sempat kita nikmati karena buru-buru. Apalagi shalat.


Mungkin satu-satunya kegiatan yang kita nikmati betul dengan khusyuk setiap detiknya dalam keadaan sadar justru saat kita berak. Itulah sebabnya banyak orang mengaku sering dapat inspirasi ketika berak, ya bukan karena gelombang energi jambannya, tapi memang karena rileks dan enjoynya hawa pikiran.


Biar saja pria berkeledai itu, kalau memang itu bukan parodi. Mungkin dia sedang begitu syahdunya menikmati tiap teplak kaki bighal. Biarkan ia jadi makhluk asing di tengah kesibukan kita yang tak lagi menikmati waktu. Biarkan ia menikmati rekasanya di antara peradaban yang tak sudi lagi hidup 'repot', semisal nyebul semprong untuk menyalakan api di pawon atau mompa petromak tiap senja kala.


"Banyak orang terpukau dengan adanya bunga yang bersemi seratus tahun sekali. Padahal tiap detik yang ia lalui adalah momen yang terjadi hanya satu kali dalam milyaran tahun," begitu kata Yevgeny Zamyatin dalam 'We', menempeleng kita yang maunya serba buru-buru dan tak lagi sempat memaknai waktu.


____

Krapyak, 30 September 2016



No comments:

Powered by Blogger.