Belajar di Rumah, Bukan 'Dari Rumah' - KBQTDiary #55

 @ziatuwel


Mulai hari ini, 29 September 2020, seluruh sekolah tingkat PAUD-SD-SMP seantero kabupaten Tegal 'dirumahkan'. Menyusul lonjakan kasus wabah di beberapa wilayah. Termasuk kasus di Bojong beberapa waktu lalu.


Para gurunya dijadwal selang-seling. Sehari piket di sekolah, sehari kirim absensi berupa foto dan lokasi maps dari rumah. Para siswanya dikondisikan untuk 'belajar dari rumah' atau 'pembelajaran jarak jauh'. Ada juga yang tetap masuk, tapi terbatas jumlah dan durasinya.


Sejak awal pandemi melanda, kami di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT) memilih untuk 'merumahkan' kegiatan belajar. Bedanya, kami tidak memberlakukan 'belajar dari rumah' melainkan 'belajar di lingkungan rumah'. Bukan 'pembelajaran jarak jauh', melainkan 'pembelajaran mandiri terpantau'.


Sulit membayangkan? Gampang. Begini contohnya.


Tiap anak berkegiatan sehari-hari bersama orang tuanya. Membantu tugas rumah tangga, atau bisa juga membantu pekerjaan profesional orang tua. Bisa dibilang bahwa inilah kegiatan belajar utama mereka. Inilah ring satu pendidikan anak.


Anak-anak juga bergaul dengan teman-teman kampung di sekitar rumahnya. Bermain, kongkow, belajar kelompok, jamiyahan, atau lainnya. Ini jadi lingkungan pendidikan kedua bagi anak setelah lingkungan keluarga. Ini ring kedua.


Selain itu, ada yang ikut kursus, les, madrasah, klub olahraga, grup kesenian, organisasi kemasyarakatan, atau apapun di sekitarnya. Sebagai upaya pengembangan diri. Ini ring ketiga.


Nah, semua kegiatan tersebut 'dihitung' sebagai agenda belajar anak. Semuanya dipantau prosesnya, dijaga ritmenya, ditagih hasil aktualisasi atau karyanya. Sudah bantu pekerjaan apa di rumah? Lariskah jualannya? Bagaimana latihan voli bareng teman-teman kampung? Sampai mana ngaji di madrasah? Dan seterusnya.


Lalu siapa yang memantau? Ya pendamping dari sekolah (dalam hal ini KBQT). Jadi, sekolah tidak memberi 'beban belajar' baru bagi anak-anak. Di sekolah, anak-anak hanya berkumpul, bersosialisasi, musyawarah agenda tertentu, membahas ide, diskusi isu kekinian, dan saling menampilkan karya masing-masing.


Sekolah sekadar sebagai pelengkap saja, penuntas waktu luang sebagaimana makna asalnya (school; scola; schole; 'waktu luang'). Menjadi lingkungan belajar ring terluar, bertugas mendokumentasikan kegiatan belajar anak di ring-ring lainnya.


Nah, di masa pandemi ini anak-anak cukup melaporkan kegiatan belajar masing-masing di rumah. Entah di grup watsap kelas, grup watsap forum, atau grup umum. Sudah baca buku apa pekan ini? Dapat wawasan baru apa hari ini? Bagaimana perkembangan tanaman yang sedang dirawat? Ide apa yang ingin disampaikan?


Tatap muka melalui daring hanya seminggu sekali tiap Senin. Itupun bukan kegiatan belajar-mengajar. Hanya momen laporan progres belajar bersama. Evaluasi target belajar yang sudah dibuat minggu sebelumnya, sekaligus perencanaan agenda belajar seminggu ke depan.


Intinya, selama pandemi ini anak-anak tidak 'belajar dari rumah', tapi memang 'belajar di lingkungan rumah'. Mereka tidak melakukan 'pembelajaran jarak jauh', melainkan 'pembelajaran mandiri terpantau'. Sebab mereka belajar secara nyata dan mandiri di lingkungan terdekatnya, dengan tetap dipantau oleh orang tua dan para pendamping.


Gampang, 'kan?


__

Tuwel, 29 September 2020



No comments:

Powered by Blogger.