Ngaji Ihya Pada Mbah Rodliyah Ploso

Siang hari. Aku datang ke Ploso sambil menenteng kitab Ihya. Sesampainya di depan ndalem, kulihat pengajian sudah dimulai. Pintu sudah ditutup.


Akupun duduk lesehan di teras rumah. Bersila dan mulai membuka kitab, lalu menyimak pengajian dari luar.


Tak berapa lama, pintu dibuka. Seseorang keluar. Nampak sosok wanita berkerudung putih dengan rona wajah sepuhnya. Mbah Nyai Rodliyah.


Ia menyuruhku masuk. Aku enggan, tapi beliau berkeras. Akupun turut. Lalu mengikuti beliau dari belakangnya, masuk ruang tamu, terus ke ruang tengah.


Kulihat ruangan-ruangan itu sudah penuh orang. Mereka duduk melingkar memangku kitab masing-masing. Aku dipersilakan duduk di satu sudut ruangan yang masih kosong.


Aku duduk di situ, bersalaman dengan teman duduk di sampingku yang tak kutahu siapa. Kemudian Mbah Nyai Rodliyah melanjutkan pengajiannya.


Kali ini kulihat wajah dan perawakan beliau berubah, dan tidak berkerudung. Hanya memakai cindung khas orang tua dulu. Beliau lanjut membaca kitab Ihya, kami ngapsahi.


Di bagian kitab itu, beliau membaca bab ilmu. Kuingat betul keterangan yang dibaca: wajib hukumnya mengajarkan ilmu yang dipunyai.


Selesai. Hanya itu yang kuingat. Kemudian pengajian usai dan kami keluar dari ndalem, pulang. Mimpi yang sangat jelas di malam Senin. Lalu aku bangun dan sahur.


Setelah bangun kuingat-ingat kembali apa redaksi kalimat dalam Ihya yang didawuhkan Mbah Rodliyah. Kira-kira begini;


التعليم واجب عند كل ذي علم


"Mengajar adalah kewajiban bagi si empunya ilmu."


Lalu kucoba cari redaksi semacam itu di kitab Ihya bab ilmu, tapi kitabku ketinggalan di Kalibening. Akhirnya kucoba cari melalui Mbah Google tentang 'at-ta'liim fi Ihya Ulumiddin', malah ketemu artikel ini. Berjudul ad-Durru ats-Tsamiin min Kitabi Ihya Ulumiddin tulisan Ubaid azh-Zhahiri.


Yakni berisi kutipan-kutipan dhawuh Imam Ghazali dalam Ihya Ulumiddin, dalam tema ilmu dan ta'lim. Tiga kutipan yang menarik;


لا ينبغي أن يخاض مع العوام في حقائق العلوم الدقيقة بل يقتصر معهم على تعليم العبادات وتعليم الأمانة في الصناعات التي هم بصددها , ويملأ قلوبهم من الرغبة والرهبة في الجنة والنار كما نطق به القرآن , ولا يحرك عليهم شبهة فإنه ربما تعلقت الشبهة بقلبه ويعسر عليه حلها فيشقى ويهلك ". 213/1


Baiknya, orang-orang awam tidak dilibatkan dalam pembahasan ilmu teoretik yang mendetail, mendalam, ndakik. Mereka cukup ditemani belajar ilmu-ilmu praktik amaliah ibadah, bermuamalah, kebungahan terhadap surga, dan kewaspadaan terhadap neraka. Jangan sampai, apalagi, melibatkan mereka dalam persoalan-persoalan pelik teoretik, karena hanya akan membuat hati mereka atos dan ruwet. (Ihya, 1/213)


32- " التلذذ بجاه الإفادة ومنصب الإرشاد , أعظم لذة من كل تنعم في الدنيا "226/1


Kelezatan berbagi pemahaman dan menebar bimbingan, adalah selezat-lezatnya kelezatan dalam kehidupan dunia. (Ihya, 1/226)


33- " من سكت حيث لا يدري , لله تعالى , فليس بأقل أجرا ممن نطق ؛ لأن الاعتراف بالجهل أشد على النفس ". 257/1


Orang yang mau diam saat dia tidak tahu, dan diamnya memang lillahi ta'ala, maka dia juga dapat ganjaran sebagaimana orang yang ngomong (dengan ilmu). Sebab kesadaran terhadap bodohnya diri sangat anteb bagi si nafsu. (Ihya, 1/257)


Mimpi ngaji Ihya dengan Mbah Rodliyah ini betul-betul berkesan buatku. Beberapa waktu lalu, aku juga mimpi membacakan kitab Nashoihul Ibad di depan adik-adik SMA. Mimpi di hari Sabtu siang, pas wayah Majlis Ta'lim Rohis jamanku dulu. Entah apa maknanya. Semoga baik dan berkah. Wallahu a'lam.





___

Senin, 04.30, 31 Agustus 2020 / 12 Muharram 1442

No comments:

Powered by Blogger.