Literasi Tak Sekedar Calistung

10:10

@ziatuwel


Sabtu kemarin beberapa kawan datang ke rumah. Ada Mas Azmi yang mengelola taman baca di Talang. Ada Mas Imam yang sedang menyiapkan embrio sekolah alam di Bumijawa bersama kawan-kawannya. Serta lima pemuda lain, para pegiat literasi dan seni wilayah Tegal bagian selatan.


Dari mereka, aku menyimak informasi geliat kepemudaan, utamanya di akar rumput. Sesekali kuceritakan juga pengalaman selama di Jogja dan Salatiga. Tentang bagaimana asyiknya gelaran-gelaran kesenian dan kebudayaan di sana. Juga betapa pentingnya kekuatan berjejaring antarkomunitas agar bisa bertahan secara swadaya.


Lalu disusul Pak Agus, seorang dosen yang justru aktif mendampingi kegiatan-kegiatan kepemudaan di luar kampus. Akademisi yang justru bercita-cita membuat 'sekolah tanpa kurikulum'. Tentu saja aku lebih banyak menyimak gagasan-gagasannya.


Sesekali kuceritakan sedikit pengalaman mendampingi di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Untuk ke sekian puluh kalinya bercerita tentang KBQT, sekiap puluh kali pula kudengar gumaman; "Nah, sekolah yang seperti itu yang kita mau!"


Mereka adalah contoh orang-orang selo yang masih mau menyempatkan waktu dan energinya untuk kebudayaan. Tanpa orientasi profit ataupun karir. Dalam hal ini, bagiku, mereka adalah orang-orang penting. Sebagaimana para aktivis sosial di bidang gerakannya masing-masing.


Salah satu hal yang kami obrolkan adalah tentang revitalisasi makna literasi. Di zaman ini kita -khususnya para pegiat taman baca dan semisalnya- jangan terjebak pada makna sempit literasi. Yakni sekedar sebagai aktivitas baca-tulis dan pagelaran buku-buku.


Pemaknaan sempit ini bisa menyulitkan aktivisme literasi itu sendiri. Kita hanya akan berkutat pada kegiatan menjajakan buku bacaan, hingga berujung kecewa karena ternyata tak ada yang minat membaca. Di masa lalu, aksi literasi semacam itu mungkin masih berlaku. Tapi di zaman digital ini, jelas kita harus beribu langkah lebih maju.


Sebab literasi jauh lebih luas dan kontekstual. Bukan lagi 'menumbuhkan minat baca', melainkan 'mendorong minat belajar'. Kalau paradigma kita melulu pada 'menumbuhkan minat baca', khususnya buku, maka kita akan terlempar di jurang kekecewaan. Sebab tidak semua orang berminat baca buku. Ada yang lebih asyik mendengar, ada yang lebih enjoy menonton, bahkan ada yang lebih cocok ngobrol.


Tapi semua orang pasti punya minat belajar. Nah itulah yang musti didorong, dirawat, diapresiasi, difasilitasi. Entah melalui media buku, gawai, video, audio, diskusi, atau bahkan kegiatan fisikal semacam permainan-permainan edukatif. Apalagi jika yang disasar adalah anak-anak usia sekolah dasar. Jelas musti didominasi kegiatan-kegiatan psikomotorik yang menggembirakan.


Praktisnya, pegiat taman baca zaman now 'berkewajiban' bukan hanya menyediakan buku-buku bacaan. Tapi juga merancang kegiatan-kegiatan belajar. Tentu saja bentuk pembelajarannya sangat luas. Bisa berupa diskusi, nonton, pentas, prakarya, seminar, atau tanding permainan. Pada akhirnya, si 'taman baca' ini akan berevolusi menjadi 'komunitas belajar'.



UNESCO juga mengamini hal tersebut. Di web resminya, ditegaskan bahwa literasi di zaman yang serba cepat ini bukan lagi sekedar tentang baca-tulis-hitung. Melainkan tentang kemampuan memahami, memaknai, dan mencipta, yang terrangkum dalam frase 'daya belajar'.


Maka semua kegiatan pembelajaran di tengah masyarakat, apapun medianya, bagaimapun bentuk aktivitasnya, merupakan kegiatan literasi. Apalagi jika bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan audiensnya.


Dengan pemahaman semacam ini, para pegiat literasi semestinya tak usah lagi galau dengan koleksi buku yang tak lengkap. Tak usah lagi repot menadah buku-buku turahan yang kadang tak layak pajang. Sebab media dan giat literasi itu sangat luas.


__

Tuwel, 17 Agustus 2020.

MERDEKA!

No comments:

Powered by Blogger.