Langgar Kecil dan Hidup yang Remeh

16:52

@ziatuwel


Sejak sembuh dari GERD, kualitas dan stamina fisikku kini tak segarang dulu. Tak bisa kecapekan, baik badan maupun pikiran. Ibarat mesin, sekarang jadi cepet panas.


Aku tak lagi seperti dulu, yang sanggup begadang semalaman diskusi di angkringan. Yang mampu mantengi layar laptop seharian buat sekedar nulis artikel. Yang kuat motoran kemana-mana tak kuatir meriang.


Masih teringat zaman SMA. Tiap hari bolak-balik Tuwel-Slawi, naik elf atau motor. Tiap malam Minggu ngaji di Giren. Tiap malam Jumat Kliwon ngaji di Cikura, menembus hutan sampai tengah malam. Saat di Jakarta, tiap malam Selasa bermacet-macet ngaji ke Pancoran. Malam Jumat nyepeda di Larangan. Ziarah awliya kemana-mana.


Saat di Jogja, tiap malam ngantri setoran berjam-jam. Lalu nyantai di angkringan njajan dan rokokan. Belum lagi keliaran-keliaran diskusi bersama kawan-kawan kampus, kemping di gunung, bal-balan di pantai, atau sekedar berburu galeri dan acara-acara kesenian. Nikmat betul.


Kata Budi, kalau sekarang fisikku masih kayak dulu, pasti sudah keluyuran nggak karuan, sok aktivis. Iya juga. Kalau kurenungkan, keterbatasanku saat ini justru anugerah. Semacam 'penebus dosa' masa lalu yang suka buang-buang waktu.


Kini, dengan status sebagai suami  dan ayah, waktuku lebih banyak tercurah di rumah. Kerjapun berkutat di rumah, sebab masih menekuni dunia buku. Aktivisme sosial juga tak jauh-jauh dari lingkungan sekitar. Sebisanya, semampunya.


Di Kalibening, kampung halaman istri, aktivitasku hanya sekitar kampung saja. Pagi sampai siang mendampingi anak-anak di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah. Tiap sore habis Ashar menemani sorogan Quran beberapa santri. Kemudian tartilan seperempat juz via corong masjid sampai jelang maghrib. Malam bakda Isya mengajarkan kitab-kitab tipis di Madrasah Hidayatul Mubtadiin, dua kali sepekan. Kalau ada undangan Ansor, diskusi atau seminar, ya datang. Asalkan tak jauh-jauh, tak lama-lama, dan tak terlampau malam.


Di Tuwel, kampung halamanku, ritme hidupku lebih longgar. Belum ada tanggung jawab di luar rumah. Namun ketiadaan tanggung jawab di luar rumah membuatku merasa ada yang kurang. Atau kadang-kadang kepingin juga ikut nimbrung acara-acara kepemudaan. Biar eksis dan 'berperan'. Keliling majlisan, ziarah-ziarah lagi. Tapi fisik nggak kuat. Lalu kusadari mungkin maqomku saat ini ya harus begini. Sadar diri.


Maka kulirik langgar kecil sebelah rumah. Langgar peninggalan kakek buyutku. Langgar saksi keriangan masa kecilku. Ada dorongan untuk memakmurkan langgar kecil ini, sebisaku. Atau jangan-jangan, memang Gusti Allah memplot kisah hidupku untuk peran kecil ini, untuk saat ini.


Lepas subuh wiridan Quran dan shalawat. Mbah Yai mewasiati agar santri minimal wirid Quran sejuz sehari, khatam sekali sebulan. Kalau bisa ditambah dosisnya; khatam seminggu sekali. Tapi ya belum sanggup.


Setelah itu joging ringan di halaman langgar. Bolak-balik dua puluh kali setara satu kilometer. Itung-itung latian sa'i. Jam tujuh mulai menghadap laptop garap kerjaan sampai jam sembilan. Kemudian rehat, main bareng bocah, lalu tidur siang sampai zhuhur.


Selesai zhuhur, kulanjut nderes di langgar. Lalu main lagi bareng bocah sampai ashar. Kadang kami bertiga jalan-jalan motoran keluar. Ke Guci, Bumijawa, atau sekadar keliling gang-gang desa. Tak jauh-jauh. 


Lepas ashar santai sebentar, kemudian tartilan seperempat juz via corong langgar sampai jelang maghrib. Hanya senin dan kamis, belum mampu tiap hari. Tartilan semacam ini kuniatkan sebagai syiar Quran. Itu thok.


Malamnya kukhususkan buat nderes beberapa juz Quran yang pernah kuhapal. Lalu mutolaah kitab-kitab. Kalau lagi ada mood, sekalian buat nulis. Kalau malam kamis ikut jamiyah kemisan. Sedang kuupayakan sebisa mungkin agar malam hari tak terlalu banyak berinteraksi dengan gadget. Apalagi medsosan.

Langgar Tuwel Krajan, 1991


Begitulah, remeh betul. Tapi, meski bagaimanapun, jiwaku tetap terpanggil untuk berperan mengentaskan problem riil sekitar. Terutama dalam isu pendidikan, ekologi, dan syiar Islam. Minimal di lingkungan terdekat yang mampu terjangkau. Di benakku terbersit merintis sanggar belajar gembira bagi anak-anak dukuh. Juga mberesi sampah kebon belakang langgar. Serta menggelar kajian tematik islami bagi adik-adik rohis di almamaterku dahulu.


Namun untuk saat ini agaknya aku musti jeda. Bertapa di langgar kecil ini. Nderes hapalan, wiridan, shalawatan, mutolaah kitab, jamaah, tartilan, momong bocah, srawung warga, joging, jualan, dan menata keluarga. Menjalani hidup yang 'remeh temeh'. Sambil mengokohkan tiga kuda-kuda; personal, sosial, ekonomi. Sampai betul-betul mengendap dan siap. Untuk peran apapun yang ditakdirkan Tuhan. Wallahu a'lam.


Tuwel, Senin 5 Muharram 1442

No comments:

Powered by Blogger.