Buat Apa Dua Puluh Miliar? - KBQTDiary #51

@ziatuwel

Daftar lembaga yang lolos Program Organisasi Penggerak (POP) sudah keluar. Ada 156 nama ormas terpampang di daftar itu, tidak termasuk Yayasan Pendidikan Qaryah Thayyibah Indonesia (YPQTI).

Di grup watsap yayasan, Pak Din berkomentar singkat, "QT ora masuk, kurange opo?"

Komentar Pak Din ini bisa saja bermakna datar: apa yang kurang dari persyaratan administrasi yang perlu dipenuhi? Atau bermakna kekecewaan. Entahlah, aku belum sempat ngobrol langsung dengan beliau.

Tapi wajar saja kalau beliau sedikit kecewa. Sejak awal mendaftar, beliau optimis betul YPQTI bisa masuk program ini. Bahkan saat itu beliau mengambil kategori gajah, dengan anggaran 20 miliar. Sebab dilandasi kepercayaan diri berupa kekuatan jaringan, maupun pengalaman kurang lebih 20 tahun mendampingi masyarakat secara nyata bersama serikat petani dan komunitas belajar.

Namun ternyata tidak lolos. Ya wajar Pak Din bertanya-tanya; apa yang kurang? Sementara itu banyak ormas baru, bahkan ormas yang berlatar belakang korporasi justru tersaring masuk. Belakangan media massa ribut sebab masuknya yayasan Putra Sampoerna dan Tanoto di program gajah. Sedangkan Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan PGRI disebut-sebut mengundurkan diri.

Tapi aku yakin seribu persen, bukan preseden latar belakang keormasan yang jadi kekecewaan bagi Pak Din. Melainkan hilangnya kesempatan bagus untuk menebarkan benih gagasan dan gerakan beliau: 'Pendidikan yang Memerdekakan'. Sebab beberapa tahun terakhir ini beliau berjuang melalui jalur birokrasi sebagai anggota Badan Akreditasi Nasional (BAN) untuk PAUD dan Pendidikan Non-Formal. Lalu beliau melihat ada peluang bagus dalam proyek strategis POP ini.

Lalu apa yang ditawarkan YPQTI dalam proposal POP itu? Gerakan macam apa yang ditawarkan sebagai organisasi penggerak? Perubahan seperti apa yang akan diupayakan melalui proyek gajah itu?


Ada tiga titik perubahan yang disasar YPQTI. Sasaran yang semuanya sudah dilakukan oleh YPQTI selama belasan tahun berproses. Yakni paradigma pembelajaran, pengelolaan sumber daya lingkungan, serta peningkatan mutu sumber daya manusia.

PERTAMA, Paradigma Pembelajaran.

Yakni mereformasi paradigma mengajar menjadi memfasilitasi. Serta mengondisikan tiap satuan pendidikan (sekolah) sebagai solusi bagi problem di tengah masyarakat. Sasarannya adalah para guru tingkat PAUD dan SD di enam wilayah; Semarang, Salatiga, Boyolali, Temanggung, Magelang, dan Wonosobo. Masing-masing satuan akan didampingi agar dalam mengelola pembelajaran benar-benar membangkitkan kesadaran kritis warga belajar.

KEDUA, Pengelolaan SDA

Yakni mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia, dengan melibatkan masyarakat sekitar, khususnya para wali murid. Misal, pada toilet sekolah akan dikelola sehingga bisa mereduksi pemanasan global sekaligus menghasilkan biogas. Proyek ini akan melibatkan 5000 lebih sekolah, dengan biaya instalasi biogas digester sebanyak satu juta rupiah perunit, bekerja sama dengan Hivos Belanda. Belum lagi pembuatan sumur-sumur resapan sebagai penampung air hujan dan solusi resiko banjir. Sebagaimana sudah dilakukan oleh jaringan Qaryah Thayyibah dan sukses meningkatkan debit air di beberapa daerah.

KETIGA, Peningkatan Mutu SDM

Yakni dengan menyelenggarakan Pendidikan Antikorupsi bagi para guru, untuk menjadi penyuluh antikorupsi yang bersertifikat dari  Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) KPK. Program ini juga sudah dilakukan, bersinergi dengan Anti Corruption Learning Center (ACLC) KPK, berupa bimtek Sertifikasi Kepenyuluhan Antikorupsi di tiga titik (QT, NU-NTB, dan FIB UI). Melalui POP gajah ini, pendidikan antikorupsi akan lebih masif digelar, sebab sampai saat ini masih sangat sedikit guru yang bersertifikat dari LSP KPK.

Nah, tiga sasaran besar itu tentu akan membutuhkan energi yang besar. Baik dari segi pendanaan maupun dukungan pemerintah. Maka adanya seleksi ormas penggerak ini menjadi kesempatan bagus. Sehingga disambut baik oleh YPQTI, dengan langsung menyambar kategori gajah.

Sedianya, kalau lolos, dana dua puluh miliar itu akan kami alokasikan untuk membenahi sekolahan. Bukan, bukan mempersolek penampilan gedung-gedungnya. Bukan pula sekedar menyibukkan guru-gurunya dengan pelatihan sehingga malah tak sempat membersamai siswa.

Melainkan praktik langsung pendampingan belajar, pembuatan biogas dan sumur resapan, sampai pengkaderan penyuluh antikorupsi di tingkat sekolah. Intinya, menebar benih pendidikan yang memerdekakan, melek konteks lingkungan, dan anti kezaliman. Sebagaimana selama ini sudah dilakukan.

Tapi sayang, tidak lolos. Hehe. Lalu apa? Ya tetap lanjutkan, seperti yang sudah-sudah, tanpa dua puluh miliar.

Tegal, 25 Juli 2020

No comments:

Powered by Blogger.