Setengari

17:31
@ziatuwel

Jalan pagi melewati pesawahan. Ibu-ibu kuli baru sampai, sedang bersiap kerja, matun di lahan orang. Sempat kudengar selenting percakapan mereka.

"Rika ora matun ning kana wingi? (Kamu nggak matun di sana)"

"Ora. Lha njaluke sedina rampung, esuk tekan sore. Laka gubuge. Sembayange keprimen. (Nggak. Lha mintanya sehari selesai, pagi sampai sore. Nggak ada gubuknya. Shalatnya gimana)"

"Donge rong dina digawe setengari bae ya. Toli bedug medang, balik sembayang. (Harusnya dua hari dibikin setengah hari saja ya. Lalu zuhur istirahat makan, pulang untuk shalat)"

"Iya nda. Kader pan urip selawase. Urip ta sing penting nda ridone Gusti Alloh ow. (Iya. Emangnya mau hidup selamanya. Hidup kan yang penting mencari ridha Allah)"


Di desa kami ada istilah 'setengari', singkatan dari 'setengah hari'. Biasa disandingkan dengan durasi kerja, maksudnya bekerja cukup hanya setengah hari, dari pagi sampai siang.

Kuduga, konsep 'setengari' adalah warisan leluhur di daerah ini sejak dulu. Ketika jenis pekerjaan masih berbasis agraris; bertani, beternak, bertukang, berdagang di pasar. Semuanya dikerjakan hanya setengah hari efektif.

Hal ini terrekam jelas dalam praktik jual beli di pasar desa. Sejak dahulu, pasar tradisional di desa kami hanya beroperasi dari pagi -bakda subuh- sampai menjelang zhuhur.

Konsep kerja semacam ini tentu tak bisa berlaku sepenuhnya di zaman modern seperti sekarang. Jenis pekerjaan sudah beragam. Desa kami sudah berkembang jadi jalur wisata yang ramai. Siang-malam hampir tak ada bedanya untuk mengais rejeki. Apalagi di zaman serba daring saat ini.

Meski demikian, kurasa konsep 'setengari' musti terus dilestarikan sebagai warisan budaya alam bawah sadar warga. Bahwa cerita hidup kita tak melulu tentang mencari penghidupan. Harus ada waktu untuk keluarga, maupun mengendapkan diri bersama Tuhan.

__
Tuwel, 1 Juli 2020

No comments:

Powered by Blogger.