Tiga Tantangan Beragama Kaum Milenial

16:21
@ziatuwel

Kaum milenial adalah mereka yang terlahir antara tahun '80-an hingga 2000-an. Ciri utamanya: pengguna aktif bahkan cenderung adiktif terhadap gawai elektronik (gadget) dan teknologi informasi (internet). Sangat langka kaum milenial yang masih mau langganan media cetak semisal koran dan tabloid, semua serba daring, itupun didominasi konten visual berupa gambar dan video.

Maka tantangan beragama bagi kaum milenial pun dipengaruhi betul oleh perilaku IT addict mereka. Setidaknya ada tiga tantangan yang kuamati, gejalanya, juga solusi yang bisa diupayakan. Apa saja? Ini dia.

PERTAMA:

Tantangan sumber pengetahuan. Yakni tentang bagaimana kaum milenial mendapatkan informasi keagamaan.

Sumber informasi kaum milenial didominasi internet, terutama konten video. Di internet hampir semua jenis pengetahuan agama ada, mulai dari yang paling ketat sampai yang paling longgar. Di sana pun ada berbagai jenis potensi perdebatan dan pertengkaran keagamaan. Mulai dari yang bernuansa ritual hingga berbau politik. Komplit.

Keramaian arus informasi di internet ini sangat berpotensi menimbulkan kebingungan, kegamangan, dan keterombang-ambingan ilmiah bagi kaum milenial. Ia bisa jadi sosok yang ekstrim, entah ekstrim ketat (ifrath) yang serba-jangan, ataupun ekstrim longgar (tafrith) yang serba-boleh. Bahkan bisa mengalami kegoncangan keyakinan.

Solusinya, meskipun tetap memanfaatkan teknologi informasi sebagai salah satu sumber pengetahuan, kaum milenial tetap harus punya tambatan ilmu berupa guru di dunia nyata. Utamanya mereka yang kompeten, berlatar belakang jelas, serta nyambung riwayat keilmuannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Sebagaimana kalimat legendaris Ibnu Sirin;

ان هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذوا دينكم

"Sesungguhnya ilmu (syariah) ini adalah agama itu sendiri. Maka perhatikanlah dari siapa engkau mengambilnya."

KEDUA:

Tantangan perilaku ibadah. Yakni tentang bagaimana kaum milenial melakoni ritual peribadatan mahdlah.

Gempuran medsos dan kecanduan gawai jelas sangat berpengaruh pada kemampuan fokus dan konsentrasi kaum milenial. Berapa menit dalam sehari dalam keadaan sadar seorang pemuda milenial sanggup lepas dari gawainya? Jemarinya tak sanggup libur scrolling di touchscreen, baik saat ia makan maupun saat berak di wese.

Bangun tidur yang diraih pertama kali hape, mau tidur pun hape nangkring di mukanya. Belum lagi paparan radiasi yang tentu saja mempengaruhi kinerja mata dan gelombang otak, juga efek kurang gerak yang terjadi sebab waktu yang tersita. Semua ini jelas tantangan krusial bagi fisik dan psikis kaum milenial.

Salah satu efek psikis yang sangat terasa adalah biasnya fokus dan konsentrasi saat ibadah mahdlah. Entah saat shalat, zikir, tilawah, maupun lainnya. Shalat tak lagi sadar atas bacaan dan gerakan, tak menikmati sujud dan tumakninah. Zikir tak lagi meresapi lafal yang dirapal. Tilawah tak bisa tartil dan tahan lama.

Hati sudah susah untuk khudhur (hadir dan menikmati momen), apalagi khusyyuk. Ratusan tahun lalu, Imam Haddad sudah menyindir kelakuan semacam itu;

"Bagaimana bisa air mata kutahan, sedangkan telah pergi ia yang takkan pernah kembali. Yakni umur yang berlalu sia-sia, terbuang oleh angan-angan dan perbuatan tak berguna. Aku sembahyang lima waktu, kubaca kitab suci, kurapalkan zikir, namun hatiku melayang, dirundung waswas dari segala arah, jiwaku lalai, batinku linglung. Tapi biar kutangisi dengan air mata darah sekalipun, yang telah pergi tetaplah pergi." (Diwan Haddad, hal. 25)

Tentu saja rugi bandar jika kita jungkat-jungkit ritual hanya sebagai rutinitas, tanpa kehadiran hati dan penghadapan jiwa kepada Allah. Padahal yang dipandang oleh-Nya adalah kondisi batin kita, bukan sekedar gerak-gerik raga. Rasulullah bersabda;

ان الله لا ينظر الى اجسامكم ولا الى صوركم ولكن الله ينظر الى قلوبكم

"Sesungguhnya Allah tidak memandang raga dan rupa kalian. Tetapi Allah memandang hati kalian." (HR. Muslim)

Lalu apa solusinya? Tak lain adalah detoksifikasi gadget. Pertama, jangan jadikan gadget sebagai hal pertama yang diambil saat bangun tidur, maupun hal terakhir yang dipegang menjelang tidur. Jangan bawa di tempat makan, shalat, dan berak. Cobalah untuk khusyuk saat berak, saat makan, apalagi saat shalat.

Kedua, ambil momen beberapa saat dalam sehari sebagai quality time untuk mengendapkan jiwa kita. Entah beberapa menit sebelum dan sesudah shalat fardhu, waktu antara Maghrib-Isya, waktu antara Shubuh hingga terbit matahari, atau waktu di ujung malam. Entah diisi dengan zikir atau tilawah Quran secara tartil.

KETIGA: Tantangan rasa dan sikap beragama. Yakni tentang bagaimana kaum milenial memperlakukan agama dalam hidupnya.

Kegamangan ilmu yang disebabkan ricuhnya sumber pengetahuan dan keringnya ibadah sebab kurangnya khusyuk mengakibatkan sikap beragama serbakulit. Agama diperlakukan hanya sebagai identitas fisik.

Jenggot, jilbab, cadar, gamis, sorban, kata-kata relijius, suara merdu tilawah, dan segala aksesoris penampilan fisik akan sangat digemari kaum milenial. Namun spirit agama semisal kesederhanaan, keramahtamahan, kejujuran, kesumelehan, menjadi hal yang asing. Agama diperlakukan sebagai pelarian dari masalah kehidupan. Tuhan dianggap sebagai pembantu untuk disuruh memenuhi semua keinginan.

Sangat berbeda dengan generasi kakek-nenek kita, yang mungkin tidak begitu perhatian pada aksesoris keagamaan secara fisik, namun spirit agama terukir betul dalam sikap beragama mereka. Bacaan Quran mereka pun tak sebagus dan semerdu kita, tapi getarannya begitu terasa menebar hawa damai.

Lalu apa solusi untuk mengimbangi euforia formalitas keagamaan kaum milenial? Ya imbangi dengan spiritualitas dan kesadaran tentang misi hidup. Bahwa kita dianugerahi hidup di dunia adalah untuk melakoni peran dan misi kehidupan, tak sekedar 'travelling' tanpa tujuan.

Misi hidup beragama itu sudah sangat gemblang dititahkan oleh Allah Ta'ala di dalam Quran;

#BulanQuran 2 - MISI HIDUP

Misi hidup di dunia terrangkum dengan apik dalam satu ayat Quran (Al-Qosos: 77) yang tersusun sesuai urutan prioritas;

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ  وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ  وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ

"Dan raihlah apa yang Allah karuniakan padamu di negeri akhirat, dan jangan lupakan jatahmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik padamu, dan jangan berbuat kerusakan di muka bumi." (Al-Qashash: 77)

Sangat jelas keseimbangan dalam ayat tersebut. Bahwa tiap muslim menanggung misi hidup yang harus ditunaikan; (a) berbekal untuk meraih kebahagiaan akhirat, (b) menikmati jatah kenikmatan dunia, (c) saling berbuat baik pada sesama, dan (d) tidak merusak alam ekologis di muka bumi.

Dengan menyadari empat misi hidup ini, kaum milenial bisa mencurahkan ghirah dan energi keberagamaannya dengan lebih bermakna. Tak sekedar simbol, aksesoris, dan formalitas belaka. Sebab empat misi hidup ini membutuhkan kemapanan ilmu dan aksi.

Agama sebagai aksi; spiritual, material, humanisme, dan ekologi. Tuhan sebagai tujuan kembali. Dunia sebagai bekal kembali. Sesama manusia sebagai rekan kembali. Alam sekitar di muka bumi sebagai titipan anak cucu setelah kita kembali.


___
Salatiga, 30 Ramadan 1441
*Disampaikan dalam IftharTalk bersama Himpunan Mahasiswa Politeknik Siber dan Sandi Negara via Instagram @himapoltekssn & @santrijagad Jumat 22 Mei 2020 pukul 16.30-17.30 WIB

No comments:

Powered by Blogger.