Nasehat Mbah Najib Untuk Santri Penghapal Quran

@ziatuwel

Kumpulan dhawuh Mbah KHR. Muhammad Najib Abdul Qadir ini adalah catatanku empat tahun lalu di dinding Facebook. Tepatnya malam Jumat 20 Oktober 2016 untuk para santri Madrasah Huffadh Al-Munawwir (MHAM) Krapyak Yogyakarta, berkenaan dengan proses menghapal Quran.

Dhawuh-dhawuh ini sebenarnya bersifat internal, karena lebih didominasi nasehat dan pengarahan bagi kepada para santri mukim di komplek MHAM. Jadi mohon dibaca dengan konteks itu. Namun agaknya baik juga disimak teman-teman santri lain, utamanya para santri penghapal Quran.


"Jangan buang-buang umur. Kalau hari-hari berganti, minggu-minggu bergulir, masa muda berlalu tanpa memperoleh ilmu (istifadatul 'ilmi), atau menghasilkan karya (kasbul yad), terus apa guna usia begitu?"

"Bagi yang (manggon) di huffadh, ya harus mengikuti aturan dan kegiatan di huffadh."

"Ngaji itu kewajiban paling atas setelah shalat fardhu. Jangan sampai dikalahkan yang lain."

"Kalau sudah di sini kemudian berani kuliah, maka kuliahnya ya jadi sambilan saja, asalkan lulus nggak sampai di-DO. Yang utama ya ngajinya."

"Dalam seminggu ada enam hari (aktif ngaji). Kalau setornya malam ke saya, paginya ya tetep setoran ke badal. Jadi seminggu setoran 12 kali. Mungkin yang malam untuk bikin, paginya untuk mengulang. Paling minim ya seminggu 4 hari, atau 8 kali siang malam. Itu untuk yang manggon di huffadh."

"Kalau sekali setoran satu halaman, berarti enam kali setoran sudah 3 lembar seminggu. Empat minggu atau sebulan sudah 1 juz. Tiga puluh bulan atau 2,5 tahun sudah khatam. Paling lama ya 4 tahun."

"Bagi yang jadi pengurus, harus giat mengajak-ajak teman-temannya mengaji. Tapi ya dianya sendiri harus giat juga. Jangan hanya mengajak tapi dia sendiri tidak melakukan."

"Harus sadar. Kasihan orang tua, jangan sampai mengecewakan harapan orang tua. Sudah dikasi kepercayaan tapi tidak mengaji. Itu namanya durhaka dan itu dosa besar."

"Tidak perlu awrod macem-macem dulu. Yang penting deresan Qurannya. Jangan sampai telat sholatnya, terutama subuh jamaah."

"Sesuatu yang diagungkan oleh Allah tapi kamu sepelekan, apalagi sampai lupa, kamu dosa besar. Kecuali kalau kamu sudah berusaha nderes sekuat mungkin, tapi masih saja belum bisa lancar, itu dima'fu."

"Kalau kata Pak Hafid, anak-anak itu kok ngajinya Ndawud; sehari ngaji sehari enggak. Wah ini bukan hanya Ndawud, lha kadang setengah bulan nggak kelihatan."

"Lebih baik sedikit-sedikit tapi istiqomah. Misalnya setoran cukup satu halaman, tapi ajeg. Daripada setoran setengah juz tapi terus nggak kelihatan setengah bulan."

"Harus punya target, diprogram sendiri. Berapa deresan sehari, berapa hari mengkhatamkan. Apa seminggu sekali, minimal ya sebulan sekali. Utamanya yang sudah khotimin itu, biar lancar betul."

"Hapalan dikatakan lancar itu kalau bisa dibaca tartil dan tepat, nggak bingung."

"Jangan hanya melihat mereka yang sudah jadi. Enaknya saja. Mereka itu ya ada masa mempengnya, bangun malam buat nderes, pagi setoran, terus nderes. Sehingga ketika sudah jadi, ya sudah jalan sendiri."

"Yang utama adalah ngaji. Biarpun belum bikin yang baru, tetap ngaji setorkan yang kemarin. Kalau mau ngaji tafsir ya ada di Pak Hilmi. Nanti bisa juga khotimin lanjut ngaji Qiroah Sab'ah, karena itu ilmu yang fardhu kifayah."

"Jangan sampai membangga-banggakan diri mondok di huffadh tapi nyatanya tidak punya apa-apa, tidak mempeng ngaji dan hapalannya nggak jadi."

"Adanya laptop atau hape ya digunakan untuk mengerjakan tugas seperlunya saja. Jangan sampai mengganggu, atau singkirkan saja. Termasuk kegiatan keluar-keluar atau ngobrol-ngobrol yang tidak perlu."

___

Catatan ini sekedar ikhtiar untuk merekam nasehat-nasehat Mbah Yai yang memang jarang dhawuh-dhawuh, kecuali di forum resmi internal dan itupun tak setiap hari. Di majlis-majlis besar beliau lebih banyak berperan sebagai pemimpin tahlil atau pemanjat doa sebab kesepuhannya. Semoga bermanfaat.

No comments:

Powered by Blogger.