Kenduy Gaptek

Saat itu kepalaku dijajah ketombe parah. Rambut gondrongku pun dibantai plontos oleh pangkas rambut depan pondok. Begitu plontos, nampaklah kerak ketombe di seantero kepalaku.

"Masy, itu dikeramas pake sabun colek, pasyti langsung illang, Masy," kata Kenduy, kawan sekamar.

"Oh gitu ya," sahutku tak ambil pusing sangkin gatalnya.

Aku pun ambil sabun colek dan mulai keramas dengannya. Seusai keramas, hawa panas luar biasa membakar kepalaku.

"Ini beneran ampuh apa nggak, Nduy!" protesku pada anak tengil itu.

"Lhah! Beneran keramas pake sabun colek, Masy? Sayya kan cumak bercanda, Masy! Hehehe."

Asalnya Bondowoso, tapi berhubung bahasa dan logatnya Madura banget, ya kuanggap saja dia Madura. Mukanya keling, perawakannya mungil, senyumnya menyeringai, kacamatanya melorot terus karena hidungnya mancung ke dalam.

Ketika pertama kali datang, teman-teman sekamar menyebutnya mirip aku. Cuih!

Sebagaimana lazimnya anak santri di situ, ia pun dapat julukan baru: 'Kenduy'. Konon artinya 'ikan teri' dalam bahasa Madura. Entah bagaimana asalnya kenapa dia disebut teri, tapi kok rasanya pas. Di Krapyak dia datang bersama kerabatnya, atau bisa kubilang godfather-nya. Ia dijukuki 'Cococo', entah darimana asal julukan aneh bin ajaib itu. Aku juga sudah lama dijuluki 'Koplek', jauh dan timpang betul dari nama asliku.

Si ikan teri ini mondok di Krapyak setelah sebelumnya tamat di Lirboyo. Sedari bocah dia mondok salafiyah di sana. Lalu setelah nglothok kitab, dia datang buat menghapal Quran sambil kuliah. Sebagai produk salafiyah, jelas dia rabun teknologi terkini. Menyalakan laptop saja kudu dikursus dua hari.

Hampir tiap hari, di masa awal kuliah, si Kenduy ini mepet-mepet padaku minta diajari laptop. Mulai dari nyalain, buka word, browsing, copy-paste, page-setup, sampai bikin makalah, footnote, dan seterusnya. Betul-betul mulai dari nol.

"Masy, ini gimanna ini, Masy?"

"Brisik!" bentakku kadang-kadang kalau pas lagi sibuk nulis.

"Ini biar hurupnya miring gimanna, Masy."

"Blook, goblok!"

Meski dimaki-maki begitu, Kenduy tetap cengar-cengir. Santuy khas bentukan santri salaf. Apalagi kalau sudah ngopi dan ngudud, santuy tak terkira dan mulailah nyerocos dia tentang apapun. Untuk urusan ngudud memang juara. Sekali berhajat di jeding, ia bisa habis berbatang-batang rokok. Tantangan terberat puasa baginya bukan sebab tak makan-minum, tapi karena pahit mulutnya tak ngebul. Gila betul.

Tahun demi tahun berlalu, si Madura gaptek ini bisa lulus kuliah tepat waktu. Lalu lanjut magister, tak lama setelah itu Qurannya pun khatam. Barulah setelah khatam Quran dia berani pulang kampung. Jadi selama belum khatam, selama bertahun-tahun dia tak dibolehkan pulang oleh abahnya.

Saat itu, di kala dia sudah khatam hapalannya dan sudah lulus S-2, aku masih berkutat dengan skripsi, penyakitan, dan belum khatam pula. Bedebah betul. Jadi, apa pelajaran yang bisa dipetik dari kisah ini?

___
Kamar 7 MH1AM Krapyak, 2014.

No comments:

Powered by Blogger.