Joged Pemikul Peti Mati dan Kidung Kematian Rumi

05:05

@ziatuwel

Jika kalian tertarik baca artikel ini, kemungkinan besar kalian sudah pernah lihat video 'joged maut' enam pria Afrika pengangkat keranda. Video itu biasanya dijadikan punch line buat rekaman-rekaman orang-orang apes (epic fail) yang dibikin meme.

Nah, sejak viralnya meme macam itu, aku tak kuasa membendung hasrat keingintahuanku tentang siapa mereka, darimana asalnya, mengapa mereka berjoged, dalam acara apa sebenarnya mereka melakukan itu, kapan video itu direkam, dan bagaimana jogedan mereka bisa viral?

Dengan tampilan yang necis dan tampang serius, ternyata mereka memang para pengusung peti mati jenazah profesional. Berasal dari Ghana, sebuah negara di Afrika Barat yang luas wilayahnya hampir dua kali luas pulau Jawa. Pentolan enam pria itu bernama Benjamin Aidoo, di akun instagramnya yang diikuti 54 ribu akun itu ia memasang iklan jasa usung keranda, jaga jenasah, upacara pelepasan, ambulan pengantar, sampai dekorasi dan penguburan. Komplit. Kalau kita udah kenal Wedding Organizer, mereka itu Funeral Organizer. Betul-betul ‘Kang Gali Kubur’ modern dan termanajemen profesional.

Terus ngapain mereka joged? Jadi gini, tiap kali ada pelanggan datang, Benjamin bakal nawarin; “Sampeyan pengen suasana pelepasan jenasah konvensional yang suram atau yang gembira?” Kalau milih yang kedua, maka mereka akan siapkan koreografi jogedan yang asik saat mengusung peti mati jenasahnya nanti. Jadi peti yang digotong itu emang ada jenasahnya, bukan kaleng-kaleng.

Keenam pengusung peti mati itu mengenakan setelan necis plus kacamata hitam. Kemudian mulai berjoged dengan beberapa atraksi yang –tentu saja- jadi magnet perhatian warga sekitar. Proses pengantaran jenasah tidak lagi menjadi peristiwa suram, melainkan jadi ‘obyek wisata’ baru yang penuh kegembiraan. Katanya, mereka ingin mengantar si mati ke dunia barunya dengan riang gembira. Beberapa tahun belakangan permintaan masyarakat atas jasa mereka meningkat, bahkan muncul grup-grup lain yang tentu saja jadi lapangan kerja baru buat para pemuda. Jadi semacam tren sosial.

Tahun 2015, akun youtube Travelin Sister mengunggah video para pengusung peti mati ini saat ia menghadiri pemakaman ibu mertuanya. Video unggahannya ini ditonton 4 juta pemirsa. Lalu pada 2017, BBC menayangkan dokumenter pendek tentang para pengusung peti mati yang berjoged ini. Kemudian pada 2019, akun facebook Bigscout Nana Prempeth mengunggah video saat para pengusung berjoged itu tak sengaja menjatuhkan peti mati yang mereka pikul. Video itu sampai dibagikan 4,600 kali dan 350.000 tayang dalam setahun.

Nah, tiga video itulah yang jadi bahan meme belakangan ini. Puncaknya, pada Februari 2020 kemarin, para pengguna TikTok memodifikasi video-video dokumentasi itu jadi semacam punchline guyonan. Lima detik video dipadukan dengan latar suara berjudul Astronomia milik Vicetone & Tony Igy yang ngebeat banget. Maka jadilah punchline nonjok yang malah jadi semacam iklan layanan masyarakat; “Hati-hati atau kami pikul sambil joged!”

Ada makna ganda yang terbersit di benakku melihat aksi para pengusung peti mati ini. Makna pertama, seperti yang digunakan para pembuat meme di medsos, adalah ajakan waspada dari segala kekonyolan yang bisa membahayakan nyawa. Sebab hidup itu sangat berharga, jangan hanya karena kelakuan sembrono nyawa kita melayang. Apalagi bagi yang masih jomblo.

Makna kedua, justru menunjukkan himbauan agar jangan takut mati, sebab ia bukanlah akhir dari perjalanan. Ia hanya pintu gerbang ke alam berikutnya. Seperti pernikahan bagi sepasang pengantin, menjadi gerbang bagi kehidupan yang sangat berbeda. Maka momen kematian bukan untuk dimurungi, melainkan dirayakan, bak mengantar pengantin ke pelaminannya.

Terlepas dari boleh-tidaknya secara fikih atau pantas-tidaknya secara budaya, makna pertama sangat sesuai dengan jiwa syariat yang diajarkan para ulama agar kita menjaga kehidupan. Sedangkan makna kedua sangat sesuai dengan jiwa hakikat yang dianut para sufi.  Sebagaimana yang diungkapkan Maulana Jalaluddin Rumi dalam salah satu sajaknya. Mari kita resapi sajak beliau itu sekaligus menutup tulisan gabut ini.


Kidung Kematian

ketika aku mati
saat peti matiku dibawa
jangan pernah kau berpikir
bahwa aku rindu dunia ini

jangan mengucurkan air mata
jangan meratap
atau merasa sedih
aku tak jatuh
pada jurang yang menakutkan

ketika kau melihat
jasadku dibawa
jangan menangisi kepergianku
aku tidak pergi
aku datang pada
cinta yang abadi

ketika kau meninggalkanku
di kuburan
jangan mengucap selamat tinggal

ingatlah, kuburan
hanyalah sebuah tirai
untuk surga yang akan datang

kau hanya akan melihatku
masuk ke dalam kuburan
sekarang lihatlah aku yang bangkit
bagaimana di sana sebagai akhir
ketika matahari tenggelam
dan rembulan ketilam

ini terlihat seperti akhir
terlihat seperti senja
tapi nyatanya, ini adalah fajar
ketika kuburan menguncimu
itu adalah waktu
ketika jiwamu terbebaskan

 _________
Sumber: Inquirer, KnowYourMemes, Alif.ID

No comments:

Powered by Blogger.