Tak Bekerja Selama Ramadan

@ziatuwel

Tahun 2016 adalah pertama kali terpikir ide ini. Saat itu aku masih di tahun akhir kuliah. Saat pertama kali coba-coba terbitkan dan jualan buku sendiri. Kupikir, dalam 24 jam mustinya aku bekerja mengais receh cukup seperempatnya saja, maksimal 6 jam sehari. Sukur-sukur bisa kurang.

Dalam seminggu, cukup empat hari saja buat kerja, Senin sampai Kamis. Jumat untuk libur, khusus buat hormati Jumatan dengan segala ritualnya. Lalu Sabtu dan Minggu buat 'leisure time'. Entah dipakai buat jalan-jalan, baca buku, berkebun, atau sekadar kongkow. Terserah, yang penting bukan buat sepaneng mikir kerjaan.

Begitupun dalam setahun. Sebagai penulis buku amatiran, saat itu kupikir aku hanya perlu serius kerja dalam jangka waktu maksimal 4 bulan. Dua bulan pertama buat naskah, sebulan berikutnya tata letak, sebulan terakhir cetak dan pemasaran. Lalu 8 bulan sisanya? Ya buat jualan dan persiapan produksi buku yang lain. Jalan santai lah.

Maka mulai medio 2016 kupraktikkan teori ini. Kumulai proses produksi naskah di akhir Rajab, kucetak di bulan Sya'ban, dan kujual di bulan Ramadan. Mudik lebaran bisa bawa sangu cukup lumayan buat ukuran santri saat itu. Bulan Rajab tahun berikutnya mulai kuproduksi buku lain. Namun prosesnya molor sampai bulan puasa, dan itu sangat mengganggu.

Dari pengalaman-pengalaman ini kusimpulkan skema baru. Kalau bisa, sebaiknya tak perlu kerja di bulan Ramadan dan Syawal. Kalaupun tetap bekerja, ya sekedarnya saja, jangan sampai melelahkan, baik fisik maupun pikiran. Pasalnya, banyak agenda ngaji di momen istimewa Ramadan yang sayang kalau dilewatkan. Bulan Syawal setelahnya juga momen silaturahim, lebih nyaman jika diliburkan dari pekerjaan.

Sejak saat itu hingga hari ini kucoba pegang skema itu. Kalau bisa sih seterusnya sampai mati. Bagaimana agar selama bulan Ramadan aku -bersama keluarga- bisa fokus ngaji, tadarus, shalawat, wiridan, shalat, serta segala ritual pembenah dan pengendap jiwa. Sukur kalau bisa sedekah.

Lalu dari mana bekal untuk memenuhi keperluan jasmani duniawi selama bulan Ramadan dan Syawal? Tentu saja harus sudah kupersiapkan di bulan-bulan sebelumnya. Ibaratnya; kerja 10 bulan buat 'mengamankan' dapur selama bulan Ramadan plus Syawal. Kalaupun masih harus kerja di bulan puasa, tetap porsinya jangan sampai melelahkan hingga mengalahkan wirid Ramadan.

Tradisi ngecat rumah dan belanja pra-lebaran pun coba kupindah jadi sebelum masuk bulan puasa. Di rumah dulu, biasanya seminggu jelang lebaran kami sibuk berlelah-lelah make-up rumah, juga berpayah-payah belanja baju baru ke kota. Belakangan aku wegah. Aku tak mau terus-terusan mengorbankan kesyahduan hari-hari terakhir Ramadan untuk tergopoh-gopoh beberes rumah, apalagi uyel-uyelan di pasar. Hingga melalaikan nafahat dan madad Ramadan.

Tentu skema semacam ini sangat subjektif. Tak bisa diberlakukan oleh semua orang dan sembarang jenis profesi. Tenaga kesehatan, jasa transportasi, pegawai negeri, dan semisalnya jelas tak bisa menerapkan skema itu. Apalagi bagi para pedagang panganan takjil yang mungkin punya skema berkebalikan dengan skemaku; mereka bisnis sebulan di bulan puasa sebagai panen untuk sebelas bulan selanjutnya.

Ya tentu saja setiap orang bisa mengatur skema kerjanya sendiri. Tidak bisa diseragamkan. Skema agar ia bisa menguasai pekerjaannya, bukan pekerjaan yang menguasai dirinya. Sehingga ia bisa mengatur waktu-waktu khusus untuk membenahi jiwanya. Tidak melulu disetir ambisi ragawinya. Terutama di bulan penuh anugerah batiniah ini.

Marhaban Ya Ramadhan.


Kalibening, Akhir Sya'ban 1441. Foto; Krapyak, 2015.

No comments:

Powered by Blogger.