Riwayatku Ngeblog

@ziatuwel

Zaman SMA aku sudah suka mencatat hal-hal yang bukan mata pelajaran di buku tulis. Mulai dari catatan pengajian, curhatan, hingga puisi-puisi dan prosa picisan. Kucatat di buku-buku diari yang hingga sekarang masih ada.

Selulus SMA aku mulai kenal literasi digital, tepatnya pada masa awal kuliah di STAN, sekitar awal 2008. Saat itu masih moncer-moncernya Friendster (FS), medsos jadul yang sudah punah. Aku lupa apa yang dahulu kutulis di FS. Sebenarnya aku juga sudah merambah blogspot tahun 2009, alamatnya alfaqirziaulhaq.blogspot.com dengan judul blog Gubuk Cahaya. Tagline-nya; "Biarpun gubuk, asalkan terang dengan cahaya kedamaian, aku betah."

Entah mengapa saat itu aku bikin blog, aku lupa motivasinya. Itupun cuma diisi satu artikel tentang Laila Majnun hasil copas. Lalu tak pernah disentuh lagi.

Akhir tahun 2010, aku mulai kenal Facebook (FB) dan kecanduan nyetatus di sana. Lalu akhir tahun 2011, aku membuat blog baru. Sebagai blogger, aku merasakan suasananya lebih sunyi dibandingkan FB yang begitu ricuh.

Kamar 7 Komplek Madrasah Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, 2013

DOKUMENTASI CATATAN

Akupun mulai 'mengangkut' semua catatanku ke blog baruku. Hampir semua postingan kurun 2011-2012 adalah catatan lama dari diari maupun FB. Saat itu pertimbanganku ngeblog cuma satu; agar catatan-catatanku bisa terdokumentasikan dengan rapi sesuai kategorinya, serta bisa diakses kapanpun dengan mudah.

Aku masih mempertahankan 'Gubuk Cahaya' sebagai nama blog, lengkap dengan tagline-nya, beralamat di; www.gubuk-cahaya.blogspot.com dengan tampilan template ala kadarnya. Di situ kusimpan dokumentasi karya tulis dan coretan-coretan ilustrasiku. Catatan-catatan di fasilitas notes FB kuboyong semua ke blog, begitu pula gambar-gambar dari sketchbook, kufoto dan kusimpan di blog.

DAKWAH KEDAMAIAN

Tahun 2014 hawa sumuk pilpres merambah medsos. Ujaran-ujaran kebencian yang begitu jorok bertebaran dimana-mana. Bahkan akun-akun beridentitas islami dan santri pun banyak yang larut dalam perang opini di medsos.

Aku muak dengan kondisi itu. Maka bersama kawanku Budi, kuluncurkan web Santrijagad, beserta fanpage-nya di FB. Awalnya, web dan fanpage ini ditujukan sebagai media publikasi program beasantri kami. Namun kami merasa perlu berperan aktif dalam kampanye kedamaian di medsos, sebagai pengadem suasana.

Maka melalui santrijagad.org kami rutin memuat transkrip ceramah ulama bertema kedamaian. Juga memuat opini-opini lepas santri-santri yang berserakan di medsos. Ketika Santrijagad bermetamorfosa jadi klub diskusi, web ini juga jadi etalasi catatan diskusi itu, yang kemudian dibukukan. Adapun informasi beasantri dipublikasikan melalui web santrifoundation.org yang kini sudah lenyap.

Saat itu corak dakwah adem masih sepi peminat. Kebanyakan membahas tema-tema perdebatan, entah teologi, ritual, maupun politik. Apalagi yang mengangkat kabar konstrutif dan peran sosial-ekologis umat Islam, masih jarang sekali. Aku bersyukur saat itu Santrijagad memilih karakter yang tepat dan hingga hari ini masih setia di jalan itu.

Selain Santrijagad, aku juga mulai menata web pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Saat itu web almunawwir.com masih kembang kempis. Kumulai proyek revitalisasi dengan memuat artikel-artikel dari majalah pondok. Aku juga sempat memulai proyek web komplek Madrasah Huffadh, berupa huffadhkrapyak.net untuk menampilkam wajah ilmu-ilmu Quran yang otoritatif di dunia nyata ke dunia maya. Ada juga blog dokumentatif dudukselingkar.blogspot.com sebagai arsip dokumentasi klun diskusiku di kampus, Duduk Selingkar.

MONETISASI

Tahun 2015, setahun setelah Santrijagad mengudara, aku mulai kenal monetisasi. Terutama layanan iklan dari Google Adsense. Bahwa ternyata ngeblog bisa menghasilkan uang, menjadi sumber pendapatan. Telat banget sebenarnya, tapi aku mulai tertarik, mungkin karena saat itu aku sudah masuk masa tahun terakhir kuliah dan mulai berpikir tentang kemandirian finansial.

Maka aku mulai belajar tentang adsense. Tentu saja hanya bermodal Google, tak punya guru blogger profesional saat itu. Partner belajarku saat itu Pak Ustadz As'ad, lurah pondok yang kebetulan punya ketertarikan yang sama dalam blogging. Awalnya kugunakan web Santrijagad untuk ngandsense, juga berkolaborasi dengan teman-teman komunitas untuk piket posting artikel di blog itu, tapi kurasa tidak optimal karena niche agama kurang marketable.

Kemudian kubuat blog-blog lain yang niche-nya lebih populer. Semisal niche tips-tips ringan dan info pendidikan (tema ketertarikanku sejak awal kuliah) di madaaris.net dengan tajuk 'Informasi Pendidikan Kita'. Juga blog berbahasa Inggris tentang kesehatan, Medicinature, di medicinature.blogspot.com yang kubuat bertepatan dengan masa penyembuhanku dari GERD, lalu kuubah namanya jadi terampilo.blogspot.com.

Belakangan, kubuat juga web dan fanpage Menjangan. Alamat webnya di menjangan.id berbasis wordpress, berisi kisah-kisah unik dan inspiratif yang terinspirasi dari Boredpanda dan semacamnya. Namun belakangan web ini karam; nggak kuat bayar hosting, dan ndilalah fanpagenya dengan 40 ribu likes dibajak orang Thailand.

Begitu pula blog-blog rintisanku yang lain, semua tak terurus sebab fokusku terpecah. Kupikir lebih baik ngopeni satu-dua blog asalkan konsisten dan enjoy, tidak ngoyo dan memvorsir diri. Maka kuputuskan untuk fokus di dua blog saja; blog pribadi Gubuk-Cahaya dan web-blog Santrijagad.

FOKUS DAN ENJOY

Blog pribadi Gubuk-Cahaya mulai kuopeni lagi sejak 2019. Kujadikan blog ini tak hanya sebagai dokumentasi catatan, tapi juga self-branding. Kupasang domain dotcom dan kupakai nama blog yang lebih identitif, yakni ziatuwel.com dan kubuat tiga kategori postingan. Yakni 'pengalaman', 'wacana', dan 'inspirasi'.

Blog ziatuwel.com ini kufungsikan juga sebagai kanal monetisasi utama. Padahal dulu sangat berkebalikan, dahulu aku tak mau ada iklan apapun muncul di blog pribadi. Kini sudah berbeda, malah blog Santrijagad yang kujauhkan dari iklan-iklan.

Dengan ngopeni dua blog ini, aku merasa lebih santai dan enjoy. Di blog ziatuwel kutuangkan tulisan-tulisan orisinilku yang tentu saja sesuai dengan ketertarikanku di bidang lingkungan, filantropi, dan pendidikan. Sedangkan di blog Santrijagad kugemakan artikel-artikel ringan tentang perdamaian, dasar-dasar keislaman, dan kisah-kisah akhlak, yang semuanya kubagikan di medsos-medsos Santrijagad (fanpage FB, IG, twitter, telegram).

Di masa ini aku juga membuat beberapa blog dokumentasi portofolio. Yaitu blog kampung halamanku desatuwel.blogspot.com, penerbitan Jagad Press di jagadpress.work sebagai etalase buku-buku jualanku, toko online Jagad Mart di jagadmart.com sebagai etalasi produk komunitas Santrijagad. Serta blog untuk dokumentasi grup watsap istriku, Muslimah Mengaji di muslimahmengaji.com yang member grupnya ribuan orang. Oiya, aku juga merevitalisasi web Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah di kbqt.org tempat dimana sekarang aku belajar.


Hingga hari ini sudah ada 400-an artikel orisinil di blog pribadiku. Tentu saja jauh dari kriteria blogger komersil profesional yang minimal sudah memuat 1000 artikel. Apalagi bila dibandingkan dengan rentang masa mulai ngeblog, 2011-2020, sudah 9 tahun. Artinya blogku rata-rata hanya menghasilkan 44 tulisan pertahun atau 3 artikel perbulan, tentu saja terhitung kurang produktif. Padahal idealnya untuk mendongkrak kualitas blog pribadi, mustinya si blogger bisa menulis 5-10 artikel orisinil perminggu.

Setahun ke belakang sudah kubangun brand ziatuwel.com sebagai blog inspiratif dan akan kulanjutkan di tahun-tahun berikutnya. Tentu saja dengan intensitas menulis dan konsistensi yang perlu kutingkatkan sebagai blogger profesional. Tetap dengan irama santai dan enjoy, tidak ngoyo yang bisa menggerogoti kesehatan.

Salatiga, Senin 24 Februari 2020

No comments:

Powered by Blogger.