Mengapa Kita Membaca Quran?

@ziatuwel

Mungkin kau pernah dengar pernyataan segelintir teman bahwa; tak perlu membaca Quran karena yang penting adalah memahami dan mengamalkannya. Atau bernada gugatan; buat apa membaca Quran kalau tak memahami dan mengamalkan.

Ada yang membacanya sebagai rutinan tiap hari. Ada yang membacanya sehari khatam. Ada yang membacanya sebagai bacaan dalam sembahyang. Ada yang membacanya dibagi-bagi satu juzan. Dan sebagainya.

Istilah 'membaca' di sini maksudnya melafalkan kata demi kata berbahasa Arab dalam mushaf Quran. Lazim disebut 'tilawah' atau resitasi. Bukan 'membaca' dalam makna lebih luas yang disebut 'qira-ah'.

Untuk menjawab gugatan semacam itu, aku punya beberapa jawaban logisnya. Tentu ini berdasar penelaahanku pribadi, kau bisa saja tak sepakat. Ada tiga alasan logis yang mendasari kita tetap membaca lafal-lafal Quran itu meskipun belum bisa memahami, apalagi mengamalkan isinya.


Pertama, alasan historik. Bisa dikatakan bahwa Quran merupakan satu-satunya teks suci yang masih tertulis dalam bahasa yang sama seperti saat ia diwahyukan, serta tersebar luas di lingkungan pemeluknya secara inklusif. Tidak hanya dibaca imam-imam dan para ulamanya. Kaum awamnya pun bisa menjangkau teks suci tersebut.

Artinya, setiap muslim yang membaca Quran terlibat langsung dalam penjagaan dan pelestarian 'data sejarah utama' ajaran Islam. Apalagi mereka yang menghapalkannya. Proses ini menjadikan Quran terus lestari, meskipun tentu tetap ada penyesuaian dengan zaman.

Misal, di zaman Rasulullah Quran masih tercecer di ingatan dan catatan-catatan berbagai media. Di masa khulafaur rasyidun mulai ada kodifikasi menjadi satu mushaf utuh. Selanjutnya mulai ada penambahan tanda baca, juga perbedaan cara baca atau qiraat. Terus hingga hari ini malah ada Quran berwarna sesuai tajwid, Quran hapalan, dan seterusnya. Tentu saja penyesuaian tersebut tidak mengubah substansi teks Quran, sekedar untuk mempermudah saja.

Kedua, alasan emosional. Jika kita memang betul-betul meyakini bahwa Quran adalah kata-kata Tuhan yang diwahyukan kepada kita, maka patutlah jika kita gandrung membacanya. Bak surat cinta bagi para kekasih.

Mungkin kau juga pernah mengalami, sedang demen penyanyi atau grup band luar negeri. Kau pun kerap rengeng-rengeng lagu-lagu favoritmu itu, bahkan hapal sealbum penuh, meski tak paham artinya. Ini bukan untuk membandingkan Quran dengan lagu-lagu, sekadar untuk menggambarkan saja begitulah kondisi pencinta.

Ketiga, alasan psikis. Manusia butuh sistem ritual tertentu sebagai penenang dan penenteram hiruk pikuk kehidupannya. Berupa teknik-teknik meditasi dan semisalnya. Nah, secara teknis, Quran memiliki kemampuan itu.

Kalau kau membaca Quran secara tartil sesuai dengan tata makhraj dan tajwidnya, ada efek fisik maupun psikologis yang akan terasa. Efek fisik berupa tata pernapasan dan tata vokal yang teratur. Hal semacam ini tidak bisa didapatkan saat kita membaca teks informatif biasa, koran atau buku riset misalnya.

Secara psikologis, proses resitasi ini yang serupa meditasi mantrawi ini menciptakan atmosfer ketenangan bagi pembacanya. Belum lagi jika Quran diresitasi dengan olah vokal yang bagus, efek psikologisnya juga akan memengaruhi para penyimak di sekitarnya.

Apalagi bagi para penghapal Quran. Ada kenikmatan tersendiri ketika seorang hafizh tilawah Quran dari hapalannya dengan tartil dan lancar. Apalagi jika hal itu dilakukan sebagai bacaan shalatnya. Betul-betul kenikmatan surgawi yang tiada bandingnya.

Terlebih bagi mereka yang memang mendalami tafsir Quran. Meskipun sudah paham isi Quran, proses tilawah sebagai ritual rutin tetap dilakukan. Sebab tak jarang mereka menemukan pemahaman-pemahaman baru yang terlahir dari ayat yang sama. Ada kenikmatan ilmiah dalam momen-momen semacam itu.

Kukira tiga alasan logis itu cukup menjadi hujjah bagi kita untuk terus meresitasi Quran hingga akhir zaman. Jika sudah bisa menerima alasan logis itu, baru kemudian kita bisa kemukakan alasan-alasan teologis berupa keutamaan tilawah Quran yang didawuhkan Baginda Nabi Muhammad. Salah satu hujjah favoritku adalah hadits shahih yang sering disampaikan guru kami, Kiai Najib bin Abdul Qadir bin Munawwir Krapyak, bahwa;

ما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة ، وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده

“Tidaklah suatu kaum berkumpul diantara rumah-rumah Allah sambil membaca Kitabullah, dan saling mempelajari di antara mereka, kecuali akan turun bagi mereka ketenangan, dan diberikan rahmat, serta malaikat akan menaunginya. Dan mereka akan disebut-sebut Allah di sisi-Nya.”

Semoga kita semua bisa gandrung tilawah Quran sesuai kondisi dan kadar kita masing-masing. Ada yang membacanya seayat-seayat dengan terbata-bata, ada yang membacanya sehari khatam, ada yang bisa mendalami tafsirnya, ada yang bisa menguak rahasia-rahasia ilmunya, ada yang bisa mengkhatamkannya dalam shalat. Terserah. Yang penting tidak termasuk golongan yang menelantarkannya.

Mari bacakan Fatihah teruntuk guru-guru Quran kita. Mulai dari yang mengajarkan a-ba-ta hingga yang mendampingi kita memahami maknanya. Terkhusus bagi guru besar Quran Nusantara, almarhum Hadratussyaikh Kiai Munawwir Krapyak Yogyakarta, yang akan diperingati haulnya besok Selasa 4 Februari 2020. Al-Fatihah.

__
Salatiga, 1 Februari 2020

No comments:

Powered by Blogger.