Mbah Habib Bergeming

@ziatuwel

Tahun 2008 aku sempat tabarrukan dan ngademke pikir di Lirboyo beberapa pekan. Tiap jelang maghrib hingga bakda isya kulalui di serambi masjid Lawang Songo. Lepas isya hingga jam 9 aku terpekur di makam masyaikh, sebelah barat masjid. Di momen itulah satu-satunya kenangan bagiku -yang bukan santri situ- tentang Mbah Habib yang istiqamah mengimami jamaah.


Perawakannya tinggi kurus, jalannya tenang, gesturnya kalem, pandangannya teduh. Belakangan, ketika aku mondok di Krapyak, kusadari bahwa beliau agak mirip dengan Mbah Zainal putra Mbah Munawwir. Ternyata beliau masih keponakan Mbah Zainal, karena Mbah Habib adalah putra Mbah Zaini yang merupakan putra Mbah Munawwir.

Pernah suatu kali setelah jamaah, Ada kejadian aneh -setidaknya bagiku. Tepatnya setelah wiridan Yasin rutin tiap bakda salat maghrib. Mbah Habib duduk dalam posisi tawaruk di mihrab. Para santri wiridan sendiri-sendiri sambil menanti isya. Tiba-tiba ada seorang lelaki muncul dari arah makam. Orang itu berdiri di jendela sebelah kiri mihrab sambil melempari jamaah dengan kerikil.

Sontak para santri bubar jalan. Seisi ruang utama masjid heboh. Semua keluar kecuali Mbah Habib yang tetap bergeming, beliau masih bersimpuh di mihrabnya. Si orang aneh turun dari jendela, entah apa yang dipikirkan, ia lalu menyingkap karpet masjid bagian depan dan bersiap menimpakannya ke arah Mbah Habib.

Melihat gelagat nakal ini, beberapa santri kemudian menangkap orang tersebut dan menyeretnya paksa ke serambi. Kemudian terjadi duel kecil-kecilan di situ hingga akhirnya ia berhasil diringkus dan diamankan ke gothakan (bilik kamar) para pendekar.

Aku tak tahu apa yang terjadi kemudian. Yang jelas, Mbah Habib tetap fokus dengan wiridnya, istiqamah, hingga adzan isya berkumandang. Menyaksikan laku istiqamah, bagiku lebih membekas ketimbang melihat seribu keramat.


Ila ruhi Kiai Ahmad Habibullah Zaini Lirboyo, Al-Fatihah.

No comments:

Powered by Blogger.