Siapakah Kiai Ahmad Giren?

Oleh: @ziatuwel

Belakangan warga Nahdliyyin Tegal sempat heboh perihal ceramah Kiai Ahmad Saidi di Masjid Agung Kota Tegal. Beliau menunjukkan kekesalannya terhadap teman-teman muslim yang bersalawat maupun menyenandungkan Ya Lal Wathan di dalam gereja saat hari Natal. Suatu sikap yang sebenarnya juga banyak disampaikan kiai-kiai lain. Masalahnya, kekesalan itu beliau sampaikan sambil menyelipkan kata 'kunyuk'.

PCNU Kota Tegal sudah tabayyun langsung kepada beliau. Semua baik-baik saja dan sudah beres, selesai secara kekeluargaan. Namun dari beberapa komentar yang kupantau, agaknya teman-teman medsos perlu tahu siapa beliau. Sebab ada komentar-komentar yang bernada sumbang dan berdasar pada ketidakkenalan, terutama dari teman-teman luar Tegal.

Misalnya ada yang menganggap beliau adalah tukang ceramah kemarin sore, dai pembenci NU, dan anggapan-anggapan semisal yang bikin geli perut sekaligus panas kuping. Ya lucu, ya nggemesi. Sebagai orang yang pernah mengaji di majlis beliau dan menganggap beliau sebagai guru, aku berkepentingan untuk bicara. Memperkenalkan beliau agar teman-teman bisa melihat sosok dan sikap beliau secara utuh, sesuai dengan konteks dan kiprah dakwahnya.

___

Beliau adalah salah satu dari sekian banyak kiai terpandang di Tegal. Putra al-'arif billah Kiai Said, cucu al-'arif billah Kiai Armiya, yang setiap tahun digelar haulnya dan dihadiri puluhan ribu jamaah. Pada Muktamar ke-33 NU tahun 2015 lalu, nama beliau masuk dalam bursa 39 calon anggota Ahlul Halli wal Aqdi.

Kitab tauhid karangan ayah beliau menjadi muatan lokal resmi Kabupaten Tegal sejak era almarhum Bupati Enthus. Yakni berupa kitab akidah Aswaja berbahasa Jawa-Tegalan yang dikenal dengan nama 'Risalah Awal'. Beliau sendiri menulis kitab Bidayatul Ushul dalam fan ilmu ushul fiqh, Bidayatul Manthiq dalam fan ilmu logika, dan kabarnya -perlu klarifikasi- beliau juga menulis Alfiyyah dalam ilmu tauhid.

Beliau mengasuh pesantren yang spesialisasinya ilmu tauhid di Tegal. Ada dua lokasi pesantrennya; desa Giren kecamatan Talang, dan desa Cikura kecamatan Bojong. Selain untuk santri mukim, digelar juga pengajian tauhid untuk masyarakat awam seminggu empat kali. Kurang lebih seribuan orang (selain santri mukim) hadir dalam ngaji rutinan itu.

Dalam pengajian tauhid tersebut beliau mengupas kitab Ummul Barohin karya Imam Ibrahim ad-Dasuqi yang merupakan syarah atas Matan Imam Sanusi. Satu kitab yang cukup rumit dalam fan ilmu kalam. Dalam tradisi keilmuan pesantren, biasanya kitab ini dipelajari santri tingkat lanjut, bukan konsumsi awam. Aku pribadi nggumun, beliau mampu membahasakan ilmu kalam rumit itu dengan analogi-analogi sederhana, bahasa rakyat, sehingga bisa dikunyah orang awam.

Hal ini menjadi pembicaraan di lingkungan santri Tegal. Bahkan pernahbjuga jadi diskusi seriusku dengan beberapa ustadz saat mondok di Krapyak, Jogja. Sebagian kalangan menganggap bahwa masyarakat awam tidak perlu ngaji tauhid sampai detail. Sebab rawan terjadi gagal paham dan ketergelinciran jika tidak didampingi guru yang mumpuni.

Mungkin itu sebabnya beliau juga membuat lingkaran-lingkaran mubahatsah di luar tembok pondok, untuk mendampingi ngaji masyarakat awam di kampung masing-masing. Baik ngaji tauhid maupun fikih keseharian dengan cara diskusi. Halaqah ini merambah hingga Pemalang dan Pekalongan, tingkat desa disebut lokalan, tingkat kecamatan disebut rayonan.

Lingkaran-lingkaran mubahatsah ini dibuat agar jamaah pengajiannya bisa intensif mengaji tauhid dan tidak liar. Sebab ilmu kalam yang harus berpikir filosofis ini cukup rentan memelesetkan jika belajarnya tidak intensif. Dulu pernah ada selentingan kabar bahwa ada segelintir orang yang ngaji di Attauhidiyyah jadi ekstrim, tidak mau shalat jamaah dengan orang lain sebab dianggap belum lurus tauhidnya.

Kuingat betul beliau pernah membantah paham semacam itu. Bahwa orang-orang semacam itu kemungkinan hanya ngaji sekilas, apalagi hanya berangkat saat Jumat Kliwon. Ngaji tauhid adalah keharusan, tapi juga harus intensif agar tidak gagal paham.

Tiap Jumat Kliwon beliau menggelar istighotsah yang dihadiri ribuan orang. Berlokasi di Cikura, di samping makam kakek beliau, kampung yang belakangan diresmikan sebagai 'kampung wisata reliji' oleh Bupati Tegal. Dan sejak dulu menitahkan tidak boleh merekam atau menyiarkan semua pengajiannya di media apapun, apalagi fesbuk.

Setahuku, sejak dahulu beliau tidak menerima undangan ceramah publik sebagaimana umumnya muballigh. Kecuali acara-acara tertentu yang masih berkaitan dengan jaringan dakwahnya. Tugas sebagai muballigh publik diamanatkan kepada adik beliau, Kiai Muhammad Hasani, murid Mbah Maimoen. Belakangan juga dibantu menantu beliau, Habib Ahmad Alatas.

Beliau sangat dekat dengan kalangan habaib. Dulu mondok di Darul Hadits Malang, asuhan al-Muhaddits al-Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih. Putra beliau mondok di Ribath Tarim Yaman, asuhan almarhum Habib Salim bin Abdullah as-Syathiri. Menantu beliau juga dari kalangan habaib. Pesantren beliau pun kental dengan nuansa alawiyyin, namun beliau tetap mempertahankan tradisi santri Jawa. Semisal mengharuskan peci hitam dan batik untuk busana santri, juga tabuhan terbang Jawa pesisir sebagai pengiring maulid.

Beliau mengagumi Habib Riziq sekaligus Gus Dur. Hal itu sering beliau nyatakan dalam pengajian rutinannya, terutama tentang kewalian Gus Dur yang unik. Beliau pernah mengundang Gus Dur, Habib Riziq, Kiai Makruf Amin, sampai Kiai Said Aqil Siraj menjadi pembicara di haul ayah dan kakeknya.

Pada pilpres 2014 & 2019 beliau mendukung Prabowo. Preferensi politik beliau ini sempat menjadi bahan ketegangan antarkalangan Nahdliyyin akar rumput di Tegal. Tapi ya wajar, perbedaan politis memang selalu begitu 'kan? Kadang jadi kawan, kadang dianggap lawan. Buktinya, saat beliau jadi juru kampanye Bu Umi (kader Muslimat NU) sebagai bupati Tegal, tak ada masalah, Nahdliyyin kompak.


___

Lalu bagaimana pendapatku tentang pernyataan beliau di Masjid Agung Kota Tegal?

Beliau termasuk kalangan kiai yang sangat hati-hati dalam perkara akidah. Dari latar belakang beliau, kita bisa paham bagaimana all-out-nya dalam dakwah tauhid aswaja. Maka bisa dimaklumi jika beliau kesal dengan teman-teman yang membawa simbol-simbol kemuliaan Islam maupun NU secara berlebihan (menurut beliau). Dan saya kira kekesalan ini banyak dirasakan kiai-kiai lain.

Ucapan 'kunyuk' yang terlontar, jelas bukan ditujukan pada lagu Ya Lal Wathan, apalagi kepada Ansor, Banser, dan NU. Melainkan ekspresi kesal beliau kepada teman-teman yang menyanyikan Ya Lal Wathan atau 'simbol-simbol islami' lainnya seperti 'marhabanan' di gereja, apalagi jika dilakukan saat proses kebaktian umat Kristiani. Aku paham betul pengungkapan ekspresi 'kunyuk' itu spontan. Oiya, di Tegal, bahasa umpatan yang lazim adalah 'bangset' dan 'kunyuk'.

Beliau memang punya karakter suka blak-blakan dalam berekspresi, dengan bahasa seadanya. Kadang sesenggukan, terisak menangisi umat, kadang guyon enjoy, kadang ya ngegas begitu. Berbeda dengan adik beliau, Kiai Hasani, yang cenderung lebih datar dan hati-hati bahasa tuturnya, mirip gurunya, Mbah Maimoen.

Mungkin itu sebabnya beliau sejak dulu melarang santri-santrinya menyiarkan pengajian beliau di media apapun. Baik pengajian rutinan khusus maupun pengajian umum. Beberapa tahun lalu, seorang kawan yang menjadi khadim beliau, ditugasi untuk melacak semua video-video ceramah beliau di internet dan menghapusnya. Tapi ternyata tidak gampang.

Setuju atau tidak setuju dengan cara pengungkapan kekesalan beliau, silakan, itu hak kita masing-masing sebagai manusia merdeka. Aku pribadi sebisa mungkin tidak akan meniru gaya bahasa semacam itu. Tapi aku juga maklum mengapa beliau sampai sekesal itu, dengan memahami watak dan track-record dakwah beliau selama ini.


Namun jika masih ada teman-teman yang merasa tersinggung dan tetap tidak bisa menerima, apalagi sampai mengakibatkan saling kunyuk satu sama lain, kami mohon maaf. Jika ada yang masih penasaran terhadap sosok beliau, silakan datang ke Tegal. Kalau penasaran dengan pengajian tauhid beliau, silakan datang ke rutinan pengajian Pesantren Attauhidiyyah di Cikura atau Giren.

Tiap malam Selasa dan malam Jumat beliau mengajar di Cikura. Tiap malam Kamis dan malam Ahad mengajar di Giren. Kitab yang dibaca; Safinah, Al-Hikam, Ummul Barohin, Bidayatul Manthiq, Bidayatul Hidayah, dan lain-lain.

Kalau ingin versi ngaji singkat, bisa ikut program Balagh Ramadlan (pesantren kilat) selama bulan puasa, setelah tarawih jadwal tetapnya adalah pengajian Ummul Barohin bersama beliau. Tidak sekedar dibaca dan diapsahi, tapi juga dijelaskan secara gamblang. Di situlah teman-teman bisa menilai apakah beliau cuma penceramah kemarin sore dan dai pembenci NU, atau justru ulama pilih tanding dan  permata Ahlussunnah Wal Jama'ah kebanggaan warga Nahdliyyin.

---
Salatiga, Ahad Kliwon, 5 Januari 2020. Ditulis oleh Zia Ul Haq, santri kalong Cikura-Giren sekitar tahun 2004-2007.

No comments:

Powered by Blogger.