Hidup Bersama Quran, Wafat Bersama Quran

Dulu, Kiai Mustofa Bisri (Gus Mus) mengaji Fatihah kepada Kiai Qodir selama tiga bulan. Sampai seakan 'sakit hati' karena santri lain sudah jauh tapi beliau masih saja Fatihah. Ternyata sang ayah (Kiai Bisri) menitipkan beliau pada Kiai Qodir secara sungguh-sungguh, bahkan sedikit bernada mengancam:

"Kiai, hari ini saya titip anak saya. Tolong ajari dia cara baca Fatihah yang baik dan benar. Kalau nanti shalat anak saya sampai tidak diterima oleh Allah lantaran fatihahnya tidak benar, saya akan tuntut nanti di Yaumil Hisab!” Ujar Kiai Bisri kepada Kiai Qodir.


Sejak usia 18 tahun Kiai Qodir sudah mengemban amanah yang cukup berat. Menjadi pengampu pengajian Quran menggantikan ayahandanya, sampai wafat pada usia 42 tahun. Istiqamah menjaga tradisi penjagaan Quran sebagai hapalan maupun amalan, melanjutkan rantai sanad qiraah dari guru-gurunya hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Menjelang wafat, dalam kondisi kritis di rumah sakit beliau masih sempat mengkhatamkan Quran 30 juz untuk terakhir kalinya. Dalam kondisi yang sangat berat, setengah sadar setengah tidak, sehabis membaca surat Al-Ikhlas, beliau bertanya pelan kepada santri yang menemaninya, Kiai Hasyim Syafi'i,

“Syim, setelah surat Al-Ikhlas itu kemudian seterusnya surat apa ya, Syim?”

“Seterusnya surat Al-Falaq, kemudian An-Nas, Romo Yai..” jawab Kiai Hasyim sambil sesenggukan.

“Syim, tolong bantu aku menyelesaikannya ya," pinta beliau.

“Inggih,” jawab Kiai Hasyim, kemudian dengan amat pelan disertai sesenggukan menuntun ayat demi ayat dari surat Al-Falaq, An-Nas, Al-Fatihah, dan seterusnya sampai diakhiri dengan doa khotmil Quran.

Besok, 4 Februari, haul beliau akan diperingati bersamaan dengan haul ayahandanya, Hadratussyaikh Muhammad Munawwir, sekaligus wisuda khataman santri Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Monggo.

No comments:

Powered by Blogger.