Semilir Perubahan dari Salatiga - KBQTDiary #47

@ziatuwel

Menteri Nadiem sudah memprovokasi kita untuk merevolusi pendidikan nasional. Ia memancing para guru dan segenap penentu kebijakan untuk berinovasi. Agar guru tak lagi dibebani administrasi, agar siswa bisa belajar dengan merdeka. Bagaimana kita menyongsong aura perubahan itu?

Inilah kira-kira bahasan utama dalam diskusi yang dimoderatori Pak Miftah dari Dewan Pendidikan Salatiga hari ini. Empat narasumber dihadirkan, yakni Pak Yulianto (walikota), Ibu Yuni (kepala dinas pendidikan), Pak Dance (ketua DPRD) yang diwakili Pak Surya dari unsur akademisi Universitas Kristen Satya Wacana, dan aku yang mewakili Pak Bahruddin dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah.


Bersama segenap stakeholder pendidikan se-Salatiga, kami mendiskusikan langkah riil yang bisa dilakukan untuk memulai perubahan pendidikan ke arah yang lebih efektif. Semua narasumber sepakat bahwa detik ini adalah momentum perubahan pendidikan nasional. Pidato singkat menteri di Hari Guru kemarin sangat gamblang menggambarkan arah perubahan itu. Tinggal bagaimana pemangku kebijakan meresponnya.

Kami juga sepakat bahwa era pendidikan saat ini sangat berbeda dengan masa satu-dua dekade lalu. Efektivitas pembelajaran harus diupayakan, kemerdekaan belajar siswa harus diperjuangkan, sesuai dengan kondisi zaman. Perubahan jangan hanya urusan teknis keperangkatan, tetapi juga filosofis pembelajaran.

Pak Miftah membaca aura perubahan ini ke arah model pendidikan yang kreatif dan inovatif. Pak Surya menyebut bahwa sedang ada peralihan dari corporate learning, yakni model belajar yang serba diatur, menjadi democratic learning, yaitu model belajar yang merdeka.

Peserta diskusi yang berlatar praktisi pendidikan mengeluhkan betapa repotnya tugas administrasi guru dan dosen. Mana bisa fokus pada pengembangan pembelajaran. Peserta yang lain mengkritisi kebijakan beban belajar yang tidak realistis, sedangkan muatan lokal yang justru kontekstual tidak dikembangkan.

Sebagai perwakilan KBQT, kusampaikan bahwa semua poin yang dipidatokan Menteri Nadiem sudah dilakukan di KBQT dengan efektif. Tidak ada guru yang direpoti administrasi berlebihan, anak-anak belajar sesuai minat dan bakat, pembelajaran belangsung secara dialogis dan saling mengajar. Semua itu sudah jadi budaya di KBQT. Bukan untuk pamer, melainkan untuk membuktikan bahwa kemerdekaan belajar yang digaungkan menteri itu bukan hal mustahil untuk dipraktikkan. Baik di lembaga formal, apalagi nonformal.

Kuncinya adalah pada paradigma pendampingan belajar. Yakni bagaimana guru tidak sekedar mengajar, tetapi lebih menjadi pendorong, pendamping, dan pengapresiasi. Guru memetakan konsep diri siswa, membantu siswa mengenali minat dan bakatnya, kemudian memfasilitasinya belajar secara optimal.

Selain bicara filosofis, kami juga membahas konsep praktisnya. Di sinilah diskusi mulai gayeng. Pak Walikota membuka lebar pintu gagasan untuk dieksekusi, asalkan regulatif dan berdampak bagi masyarakat. Pak Miftah menekankan bahwa perubahan praktis yang diupayakan harus dimulai dari lingkup kecil dahulu, yakni komunitas aras bawah.

Ada banyak usul bertaburan dalam diskusi ini. Mulai dari usulan PKBM inklusif, PAUD Holistik-Integratif, TBM perdukuh, hingga optimalisasi empat muatan lokal. Aku menyampaikan usulan Pak Din tentang Sanggar Kreatif tiap kelurahan sebagai wujud pendidikan berbasis masyarakat yang berorientasi pada karya dan keterampilan nyata.

Semua usul dan tanggapan diapresiasi Pak Walikota dengan baik. Ia bahkan menganjurkan agar dinas pendidikan belajar dari KBQT, agar hal-hal yang baik bisa direplikasi. Salatiga sudah dikenal sebagai kota toleransi, sudah menjadi kota smart kedua nasional, dan kini menggali potensi untuk menjadi destinasi studi dan wisata edukasi nasional. Bukan hal yang mustahil. Buktinya, KBQT sudah belasan tahun menjadi jujugan pendidikan, skup nasional bahkan internasional.


Akhirnya, seusai acara sambil santap siang, kami sepakat memulai langkah-langkah realistis tahun depan. Dimulai dengan pembahasan tertutup untuk merumuskan teknis pelaksanaannya. Hingga pengagendaan eksekusinya. Bismillah.

Salatiga, Kamis 5-12-2019

No comments:

Powered by Blogger.