Pendeta Ini Selamatkan Jemaatnya dari Gizi Buruk Dengan Menanam

@ziatuwel

Musim panas 2005, Bapa Richard Joyner dari Gereja Baptis Conetoe mulai merasakan keresahan. Ia menyadari banyaknya kematian di daerah yang ia tinggali. Rata-rata, dua kali dalam sebulan ia memimpin pemakaman di kampung yang berpopulasi hanya 300 jiwa itu.


Warga Conetoe yang merupakan warga ras Afro-Amerika hidup di ambang garis kemiskinan, serta tingkat penyakit jantung yang membunuh warga usia 20-39 tahun lebih banyak daripada laka lantas. "Sudah terlalu banyak saya menutup peti mati untuk anak-anak muda," kata Pendeta Joyner yang sudah berusia 64 tahun, "Bagaimana bisa kita katakan kepada jemaat yang sedang kehilangan anaknya sebab gizi buruk, bahwa itu semua adalah rencana Tuhan, padahal kita bisa mencegahnya dari awal?"

Keresahan ini mendorong Bapa Joyner untuk makin intensif berdoa. Hingga suatu saat ia mendengar suara berbisik, "Kau bisa melangkah lebih jauh dengan mata yang terbuka." Kemudian ia membuka matanya lebar-lebar dan memperhatikan sekelilingnya. Saat itulah ia melihat lahan-lahan kosong. Maka muncullah ide di benaknya untuk memberdayakan lahan-lahan itu bersama anak-anak muda.

Sang Pendeta memulai kemah pemuda melalui program gerejanya. Di musim panas tahun itu ia mengajak anak-anak muda usia 4-16 tahun untuk bercocok tanam, dengan memanfaatkan sedekah jemaat berupa lahan, peralatan kebun, hingga benih-benih tanaman. Mereka mulai belajar cara menanam tanaman pangan di lahan-lahan tersebut. Tahun berikutnya, mereka sudah bisa memulai gerakan pangan sehat, yakni mengirim sayur mayut oleh anak-anak kecil ke rumah-rumah warga sepuh yang membutuhkan.

Tidak semua warga menyambut baik gerakan ini. Beberapa orang tua justru mempertanyakan maksud program tersebut. Mereka tak suka melihat anak-anak kecil dan pemuda bekerja di ladang. Mereka teringat saat wilayah tersebut masih dicengkeram perbudakan di masa lalu. Mereka menggugat sang pendeta, "Apa kau hendak membawa anak-anak kita ke masa lalu dengan bekerja seperti itu?"

Joyner menimpali, "Anak-anak menikmati proses yang mereka jalani. Di lahan mereka tak terpaksa, mereka justru bermain. Dan mereka juga berbagi hasil kerjanya kepada orang yang membutuhkan. Bukankah itu hal baik? Lagipula mereka juga tetap belajar menanam, bersosialisasi, ilmu gizi dasar, hingga memetakan data digital untuk penjualan produknya."


Kini lahan kecil milik Gereja Conetoe sudah meluas sampai 8,5 hektar, menjadi Conetoe Family Life Center, hasil bantuan dari beberapa organisasi gereja maupun yayasan lingkungan. Misinya jelas; meningkatkan mutu kesehatan warga dengan mempermudah akses terhadap pangan sehat, kegiatan fisik, dan pelayanan kesehatan. Rumah sakit dan sekolahan setempat juga turut serta berkontribusi, dengan cara menjadi langganan pasokan sayuran dan bebuahan untuk mengisi kantin mereka. Seperempat hasil lahan dibagikan gratis untuk jemaat gereja.

Dampaknya cukup menggembirakan. Berdasarkan penelitian dari East Carolina University, berat badan warga Conetoe turun ke angka ideal. Begitu pula tekanan darah mereka. Serta berkurangnya angka pasien di UGD maupun keluhan penyakit dibandingkan sepuluh tahun lalu. Melihat keberhasilan ini, Bapa Joyner menyimpulkan, "Penderitaan terbesar dalam hidup kita bisa jadi merupakan pembebasan terbesar kita."

*Diterjemahkan dari tulisan Jeff Chu di Reader's Digest

No comments:

Powered by Blogger.