Vertigo Gara-gara Sakit Gigi

dah lebih dari dua minggu, sejak pertengahan Oktober, kunikmati migrain. Utamanya jelang senja hingga malam hari, seringnya jadi susah tidur karena nyeri kepala sebelah kanan. Repotnya, hal ini sangat mengganggu berbagai aktivitas primerku. Apalagi buat mikir, wuih nyud nyudan.

Seminggu lebih bisa kutahan, hingga pada Ahad malam Senin dua pekan lalu, aku terbangun jam 1 malam. Baru bisa merem lagi bakda Shubuh, setengah lima. Kemudian terbangun jam 6 pagi dalam kondisi tak karuan. Ketika mata dibuka, jagat raya serasa berputar. Tangan kugapai-gapaikan ke sekitar mencari pegangan. Kuoejamkan, mending, kubuka lagi, berputar tambah kencang. Mungkin itulah yang sering disebut orang dengan 'pusing tujuh keliling'.

Karena efek roller coaster itu, perutku mual hebat. Muntah-muntah. Berikutnya, selama 2 hari aku lemas tak berdaya. Kukira itu adalah gejala GERD yang kambuh, maka kumulai lagi tata kelola makan Food Combining dengan ketat. Ternyata salah duga.

Kamis malam Jumat, lagi-lagi aku terbangun mendadak. Kali ini dini hari, jam 2 aku terbangun dalam keadaan yang lebih parah. Sensasi jumpalitan kurasakan tak kurang dari 15 menit, betul-betul menyeramkan.

Belakangan, menurut informasi dokter, baru aku tahu (ma'rifat!) bahwa itu yang disebut Vertigo. Penyebabnya, menurut dokter juga, adalah kecapekan plus kurang istirahat. Maka akupun diberi obat pereda nyeri, dan disuruh bedrest total.

Memang iya, obat vertigo dan migrain yang kukonsumsi lumayan bisa membuatku tidur di malam hari. Tapi selama seminggu penuh rehat kemudian, tak kunjung ada tanda-tanda sembuh. Tiap sore, pasti kumat lagi migrainnya. Kalau jam 8 malam aku rebah, jam 11 baru bisa merem, itupun musti dibantu obat migrain atau pijetan kawan.

Maka kupikir pasti ada penyebab lain yang tak beres. Bukan sekedar kecapekan, atau sebab masalah lambung yang -alhamdulillah- sudah sembuh. Mulanya kupikir ini ada kaitannya dengan problem syaraf.

Selasa siang, setelah makan bareng kawan kos di atas dipan halaman, kubersihkan sisa-sisa makanan di rongga mulut dengan jari. Tak sengaja ujung telunjukku menyentuh gusi dalam gigi geraham kanan atas yang memang sudah busuk. Maknyud! Ediyan nyerinya! Seketika kepala bagian kanan mulai lagi senud-senudnya.

Aha! Di satu sisi aku kepayahan karena pening. Di sisi lain aku kegirangan karena mulai paham di mana akar masalahnya.

Esoknya, Rabu, alih-alih ke dokter syaraf, kuputuskan periksa ke dokter gigi saja, di PKU sebelah Nol KM Jogja. Setelah konsultasi dan pemeriksaan, dokter mengiyakan bahwa gigi bermasalah itu kemungkinan besar menjadi penyebab pusing selama ini. Problem akar gigi atau tumpukan karang (caries) bisa mengganggu fungsi syaraf dan menimbulkan beragam gejala, termasuk migrain hingga vertigo. Akupun dianjurkan untuk cabut gigi lima hari lagi.

Tepat pada hari yang direncanakan, kemarin Senin petang bakda Maghrib, aku periksa ke salah satu dokter gigi kenamaan di Moga, Pemalang. Menurut dokter, ia juga sering mendapat 'kiriman' pasien dari dokter syaraf. Banyak orang mengeluhkan pusing, migrain, vertigo, dan semacamnya, kemudian periksa ke dokter syaraf, padahal penyebabnya masalah gigi.

Setelah diperiksa, ternyata ada 3 gigi yang layak dieksekusi. Namun kami sepakat untuk membabat satu gigi dulu saja, gigi geraham pojok kanan atas yang selama ini jadi punjer senud-senud kala migrain. Kulihat jam dinding menunjuk angka 18.40.

Dokter mulai menusukkan jarum bius ke gusi dan rongga mulut bagian dalamku. Waktu jadi melambat rasanya. Kemudian mulailah beragam perkakas dimasukkan ke cangkemku. Obeng, cutil pengait, dan tang mengobok-obok gigiku. Sakit sih nggak, tapi nyeri-pegalnya itu nikmat betul. Tusukan obeng dan jepitan tang terasa sampai ke ubun-ubun.

Jam menunjuk angka 19.15 dan operasi masih belum juga usai. Memang posisinya yang dalam dan kondisinya yang busuk, membuat gigi satu ini susah dicabut. Baru pada 19.25 si mungil satu ini menyerah kalah. Total 45 menit cabut gigi, ambooooy.


Maka nampaklah akar gigi yang bengkok penuh darah bekas pertempuran sengit. Banyak bagian gigi yang sudah remuk dihantam obeng dan bogeman tang. Hehe. Lega betul. Aku disuruh ngompres pipi dengan air dingin 24 jam ke depan, dan konsumsi antibiotik buat 5 hari. Dan, masih ada urusan dengan 2 gigi lain. Ffiiuuh.

Yang ingin kubagi di sini adalah; kalau kau punya gigi sehat, jangan jumawa, jaga biar nggak grupis apalagi busuk. Yang sudah busuk, periksakan ke dokter gigi. Yang sering mumet, migrain, apalagi vertigo, coba periksakan gigimu. Ada kerabatku yang dari dulu langganan sakit kepala, ternyata memang semua giginya hitam, grupis.

Ada resep sederhana sari dokter gigi untuk kesehatan rongga mulut. Kalau orang dahulu ada kebiasaan nginang (daun sirih dan gambir), kalau sekarang ya rutinkan bersiwak atau sikat gigi, terutama menjelang tidur. Plus, berkumur dengan cairan pembersih mulut. Atau pakai cara sederhana tapi konon lebih ampuh daripada mouthwash; aduk sepertiga sendok garam ke dalam segelas air hangat. Lalu berkumurlah dengannya sebelum beranjak tidur. Rutinkan maka gigi dan seantero mulutmu aman.

Atau pengen cara yang full berkah? Perbanyak shalawat dan pujian bagi Nabi, karena itu bisa jadi salah satu tameng dari berbagai masalah mulut, zhahiran wa bathinan, sebagaimana doa Nabi kepada (kalau tak salah) al-Maddaah Hassan bin Tsabit atau Abdullah bin Abbas.

Shalla Allahu 'ala Muhammad <3

Krapyak, 15 November 2016

No comments:

Powered by Blogger.