Pria Bercadar di Masa Khalifah Umar

19:45
@ziatuwel

Ngomong-ngomong tentang cadar, yang terbersit di benakku pertama kali adalah sosok-sosok wanita dalam buku Bidadari Bumi tulisan Syarifah Halimah Alaydrus. Catatan tentang para wanita salehah asketis yang pernah ia jumpai. Para hamba-hamba Tuhan yang betul-betul menutup diri sebab kehendaknya sendiri, sebagai sufi, tidak lagi punya nafsu aktualisasi duniawi.

Kesan ini betul-betul membekas di benakku sehingga kadang merasa aneh jika melihat 'perpaduan' antara cadar dengan show off nan atraktif. Perasaan aneh semacam ini muncul sebab terlanjur menganggap para pemakai cadar sudah melampaui maqam spiritual seperti sosok-sosok di Bidadari Bumi. Atau setidaknya sedang menjalani suluk menuju ke sana. Sudah mewakafkan dirinya untuk hidup serba terbatas, menjadi paku dunia dengan mengisi hari-harinya bermunajat kepada Tuhan.

Aku pribadi memahami pakaian sebagai cerminan identitas dan pembatasan diri. Selain tentu saja sebagai pelindung fisik dan pengindah penampilan. Maka pakaian yang dikenakan seseorang memang menjadi konsekuensi bagi pilihan sikap dan gerak-geriknya. Seorang santri, misalnya, didoktrin untuk menjaga adab dimanapun berada dengan simbol peci dan sarung.

Lebih dari itu, pakaian keulamaan semisal jubah, sorban, dan imamah yang melilit di kepala menjadi pembatas sikap pemakainya untuk bertingkah pethakilan. Sebab si pemakai mustinya sudah menempati syarat kelayakan tertentu sehingga menyandang gelar ulama. Ada keharusan untuk membatasi tingkah laku demi menjaga muruah (kewibawaan) sebagai tokoh masyarakat.

Ada hal-hal yang pantas dilakukan orang awam namun tak layak mereka lakukan. Maka jika ada orang mengenakan atribut keulamaan kok lesehan di trotoar, makan minum di situ sambil cekakakan, kemungkinannya ada dua: dia lagi jadzab, atau dia orang biasa yang lagi karnaval berkostum ulama-ulamaan.

Demikian pula dengan cadar. Kesan pertamaku terhadap busana yang serba menutup seluruh tubuh ini adalah pembatasan total. Tentu saja bukan pembatasan dalam konotasi negatif sebagai penindasan. Melainkan pembatasan keduniawian yang sudah menjadi komitmen dan pilihan pribadi si pemakainya. Ia sibuk dengan pelayanan kepada keluarga dan lingkungan sekitar, tilawah Quran seminggu sekali khatam, shalawat belasan ribu kali sehari, serta melazimkan diri dengan beragam wirid dan majlis ilmu.

Para wanita bercadar khas Dompu, Bima, NTB

Namun kesan semacam itu mungkin tak berlaku bagi orang lain. Karena ternyata banyak orang yang mengasosiasikan cadar dengan kejumudan, eksklusivitas, penindasan, bahkan terorisme. Bahkan mungkin sebagian wanita bercadar pun tidak memahami cadar sebagaimana yang kupahami di awal tulisan, melainkan sebagai tata aturan fikih tertentu, atau malah hanya sebatas fashion muslimah kekinian.

Apalagi ditambah kasus mutakhir tentang crosshijaber, para pria antah berantah yang mengenakan hijab -bahkan bercadar- entah dengan tujuan apa. Kasus ini mengingatkanku pada satu kisah di zaman Khalifah Umar. Ada seorang pria gantengnya kebangetan hingga jadi bahan obrolan emak-emak di zaman itu, namanya Nasr bin Hajjaj. Sebagai seorang pemimpin, Khalifah Umar melihat hal ini sebagai potensi 'masalah'. Ia pun mengantisipasinya dengan menyuruh si pemuda cukur gundul.

Lha bukannya jadi culun, setelah cukur kok Si Nasr malah jadi tambah ganteng. Emak-emak jadi makin tergila-gila, ia makin bersinar. Tak kehabisan akal, Khalifah Umar lalu mewajibkan si pemuda memakai cadar sekalian. Bisik-bisik mulai mereda, namun masih ada saja yang usil. Akhirnya, si ganteng dideportasi ke luar Madinah.

Begitulah. Dalam kondisi tertentu, secara hukum, laki-laki pun bisa diwajibkan pakai cadar. Bahkan dari kisah ini bisa jadi landasan hukum deportasi seseorang yang ditengarai mengganggu stabilitas sosial di tengah masyarakat.

Kalibening, 5 November 2019

No comments:

Powered by Blogger.