Diseneni Gus Miek

@ziatuwel

Selepas maghrib aku langsung rebah, kemulan rapat biar berkeringat. Maklum saja, seharian belum tidur siang membuat badanku panas nggreges. Padahal malam itu ada undangan tahlilan fida' di RT sebelah. Tahlilan di kampung mertua ini musti kupersiapkan khusus, biasanya dimulai jam 8 malam, basa-basi protokolernya yang agak lama dan durasinya yang sampai sejam.

Beda dengan tahlilan di kampung halamanku yang terlampau praktis. Begitu pemuka datang, tahlil langsung dimulai. Selesai tahlilan langsung disuguh jajanan atau langsung pulang sambil menjinjing berkat sendiri. Tak ada protokoler dari MC ataupun tuan rumah. Biasanya dimulai habis maghrib dan selesai pas adzan isya. Sehabis isya bisa tahlilan lagi di rumah lain. Kalau di sini, untuk hadir tahlilan aku perlu tidur dulu siangnya biar prima, dan perlu makan malam dulu biar perut tak kemruyuk.

Bakda maghrib aku rebah berselimut dua lapis. Berharap jam 8 malam tubuh sudah segar dan langsung berangkat tahlilan. Sialnya, aku baru terbangun jam 9 malam dan istriku juga lelap mendekap anak kami. Tahlilan tak jadi kuhadiri, kemudian melek sampai tengah malam. Jam setengah 12 aku shalat isya, lalu kembali rebah di pembaringan dalam keadaan masih punya wudhu.

Saat itulah aku bermimpi indah sekaligus buruk. Indah tapi buruk, buruk tapi indah. Indahnya karena bertemu sosok kekasih Allah, buruknya karena di mimpi itu ia menghardikku habis-habisan. Pagi harinya, istriku bertanya aku mimpi apa, katanya aku mengigau ketakutan saat tidur.

Di dalam mimpi, aku serasa berada di lingkungan pesantren Ploso, Kediri. Aku mimpi diruqyah beberapa orang, namun mereka menyerah. Lantas aku disuruh menghadap seseorang yang sedang bersila menghadap jendela dan mendaras mushaf. Aku duduk bersimpuh di sebelah pria berbaju dan bersarung putih serta berkopyah hitam itu. Yang tak lain ialah Kiai Hamim Jazuli atau Gus Miek.

Tak seperti lain-lainnya, Gus Miek tak merapalkan suwuk apapun untuk meruqyahku. Ia hanya bicara dengan nada datar namun menusuk, tanpa memandang wajahku, "Bagaimana hati gurumu gembira, lha wong ngajimu belum khatam kok sudah ditinggal pergi."

Mak deg! Tentu saja langsung terbersit di benakku wajah guruku, Kiai Najib Krapyak. Aku memang belum merampungkan setoran hapalan Quran kepada beliau. Selama di sini, sejak menikah aku memilih merampungkan hapalan ke paman lebih dulu. Jika sudah tunai, baru nanti akan ke Krapyak lagi.

Teguran melalui mimpi dari sosok penggerak simakan Quran ini menjadi pecut buat gedibal ini. Untuk makin mengakrabi Quran yang sudah kulamar sejak hampir satu dekade lalu dan sampai kini belum juga kuajak ke 'pelaminan' khataman.

Jumat Kliwon, 1 November 2019

No comments:

Powered by Blogger.