12 Tema Ngaji di Momen Muludan

16:21
@ziatuwel

Warga Nahdliyin (maupun yang berkultur sama) di kampung-kampung biasa membaca kitab maulid selama 12 malam pertama bulan Rabiul Awwal. Biasanya yang dibaca adalah kitab Majmu' Mawalid, yakni kompilasi kisah kehidupan Nabi Muhammad dalam bentuk syair dan prosa.

Di dalam kitab tersebut ada maulid Diba'i, Barzanji Natsar, Barzanji Nazham, Syaraful Anam, 'Azab, dan Burdah. Belakangan dikenal pula maulid Simthud Durar dan Dhiyaul Lami'. Masing-masing judul tersebut dibaca bergiliran selama 12 malam.

Idealnya, gelaran muludan adalah untuk memupuk kerinduan kepada Baginda Nabi dengan membaca riwayat kehidupan beliau. Bagi kalangan santri, hal ini efektif. Sebab selain dibaca, teks-teks tersebut juga dikaji, diapsahi dan diterangkan oleh guru mereka. Namun bagi masyarakat awam di kampung-kampung, cukuplah muludan jadi momen untuk memperbanyak bersolawat.


Meski demikian, alangkah baiknya jika dalam setiap gelaran muludan itu diterangkan pula isi dari naskah kitab maulid yang dibaca. Yakni perihal pribadi Baginda Nabi Muhammad. Tak perlu lama-lama, model kultum saja, seperti kultum bakda taraeih bulan Ramadan. Sekedar 7-10 menit sambil menikmati jajanan, bisa disisipi dengan uraian singkat tentang fragmen kehidupan Nabi.

Tidak harus dalam bentuk ceramah. Bisa juga dengan pembacaan puisi oleh anak-anak berkaitan dengan pribadi Nabi. Atau mungkin mengupas satu-dua bab dalam kitab maulid yang malam itu dibaca. Terserah. Pokoknya; bagaimana biar tujuan dan pesan muludan tersampaikan kepada hadirin, tak sekedar ritual tahunan langgar.

Misal, untuk 12 malam itu, bisa dibagi 12 bagian kisah tentang pribadi atau fragmen kehidupan Baginda Nabi. Misal;

1. Nasab, tentara Abrahah, peristiwa kelahiran.
2. Pengasuhan Halimah, wafatnya Ibu Aminah dan Abdul Muthhalib.
3. Pembelahan dada, jadi gembala, ramalan Buhaira.
4. Gelar Al-Amin dan kasus Hajar Aswad, berdagang, menikahi Khadijah.
5. Kegelisahan sosial, tahannuts Goa Hira, wahyu pertama.
6. Dakwah tertutup, orang-orang pertama masuk Islam.
7. Dakwah terbuka, cobaan-cobaan yang dihadapi, wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, Isra Mi'raj.
8. Hijrah sahabat ke Habasyah pimpinan Najasyi, peristiwa Hijrah ke Yatsrib.
9. Piagam Madinah dan kerukunan antarumat beragama.
10. Perang-perang di masa Nabi sebagai pembelaan diri.
11. Fathu Makkah, wasiat di haji wada', peristiwa wafat.
12. Hujjah amalan maulid, sejarah maulid, profil kitab maulid dan penyusunnya.

Dengan demikian, muludan kita di langgar-langgar kampung akan lebih bermakna, berbobot, dan tentu kokoh hujjahnya. Bagi orang awam, momen 12 malam muludan bisa jadi kesempatan ngaji sirah nabawiyah singkat. Sebab belum tentu mereka punya kesempatan ngaji semacam itu di luar bulan mulud.

Bagi pemerhati pendidikan Islam semacamku, konsep semacam ini termasuk unsur dalam integrasi lingkungan pendidikan. Jelas akan sangat membekas dalam benak anak-anak hingga mereka dewasa kelak. Wallahu a'lam.

___
Kalibening, 7 Mulud 1440. Foto: rebutan jajan.

No comments:

Powered by Blogger.