Budaya Kitab ala Santri

18:41
@ziatuwel

Di pesantren, budaya komunal sangat lekat. Apalagi pesantren tradisional di kampung-kampung. Makan senampan, tidur setikar, mandi sekolam. Bahkan peralatan sehari-haripun kerap barengan. Namun meski begitu, untuk urusan kitab (buku materi pelajaran) tiap santri harus punya sendiri-sendiri. Jarang -atau bahkan tak ada- santri joinan kitab. Bahkan dalam jenjang tertentu, setiap santri wajib menyalin seluruh isi kitab tersebut di buku salinan (taqrirot) masing-masing.

Di awal masuk masa ngaji, tiap mata pelajaran sudah gamblang apa kitabnya. Bahkan untuk satu periode pembelajaran, sudah jelas apa saja kitab standar yang akan dipelajari bersama. Jadi tak heran, sedungu apapun santri, kalau ditanya apa kitab yang dipelajari dalam fan tata Bahasa Arab dasar, ya bisa menjawab; Jurumiyyah.

Kalau ada santri yang menambah bahan-bahan bacaan lain, itu terserah dia. Paham atau tidak, itu urusan personal. Bahkan tak sedikit kawan yang mengaku tak paham selama ngaji, yang penting catatannya penuh. Lha ndilalah baru 'terbuka' pemahamannya ketika dititahi mengajar oleh kiainya di kemudian hari.

Beda betul di lingkungan sekolahan hingga kampus. Buku paket joinan itu biasa. Yang penting ongkos pulsa dan ngopi lancar jaya.

Lihat saja, mahasiswa fakultas Tarbiyah jurusan PAI itu, dari 35 mata kuliah selama 4 tahun berapa buku yang dia punya? Oke anggaplah dia punya beberapa, coba tanya apa judul dan siapa penulis buku yang dia baca dalam mata kuliah Filsafat Pendidikan Islam? Kalau dia bisa jawab, berarti dia mahasiswa beneran. Kalau yang model sepertiku ya mana tahu.

Apalagi kalau para sarjana pendidikan Islam kinyis-kinyis itu ditanya tentang wacana pendidikan klasik maupun kontemporer di luar bahan ajar akademik perkuliahan. Bengong dia. Ghazali? Muthahhari? Iqbal? Alatas? Freire? Illich? Ki Hadjar? Tilaar? Panganan uopoo iku.

Keseriusan belajar terhadap apa yang dipelajari baru terlihat di raut muka teman-teman yang melanjutkan ke jenjang magister. Untuk jenjang sarjana, kayaknya belajar tak begitu urgent, masih kebawa suasana dolanan ala SMA kali ya. Hal ini kusadari -sayangnya- ketika sudah ngesot di semester darurat. Bahwa kuliah itu yang penting sregep masuk, jangan sering bolos, dan selalu kumpulkan makalah. Percayalah!

Kembali ke buku. Kaum santri itu sangat menekankan agar selalu punya guru, jangan berketergantungan dengan buku. Namun ajaibnya ya itu tadi, tradisi literasi justru hidup subur di sana. Sedangkan di kampus yang semestinya paling bergairah dalam urusan literasi, eh perhatian terhadap buku malah hanya sebatas pencitraan. Tak percaya? Lihat saja sesi pemotretan pasca wisuda.

Hari Santri 2016

No comments:

Powered by Blogger.